Survei BPS: 70,5% Masyarakat Pendapatan Rendah Paling Terpukul Covid

70,53% responden dalam kelompok berpendapatan rendah (kurang dari Rp 18 juta) merasakan dampak paling besar penurunan pendapatan akibat corona.
Image title
Oleh Ekarina
29 Juni 2020, 14:01
Survei BPS: 70,5% Masyarakat Pendapatan Rendah Paling Terpukul Covid.
ANTARA FOTO/Aji Styawan/hp.
Sejumlah pekerja memakai masker dan menjaga jarak (physical distancing) saat memproduksi furnitur interior. Survei BPS menyebutkan, 70% masyarakat berpenghasilan rendah paling terdampak virus corona.

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis hasil survei Sosial Demografi Covid-19. Salah satu hasil survei menunjukkan, responden dalam kelompok berpendapatan rendah merasakan dampak paling besar pandemi corona, khususnya dalam hal menurunnya pendapatan.

Survei Sosial Demografi Dampak Covid-19 menggunakan metode non probability sampling  yang merupakan kombinasi dari convenience, voluntary dan snowball sampling. Metode ini memungkinkan BPS mendapatkan respon partisipasi sebanyak-banyaknya dalam kurun waktu 1 minggu pelaksanaan survei.

Responden survei terdiri 49,7% laki-laki dan 50,2% perempuan dengan tingkat pendidikan 27% SMA atau sederatajat, 2% di bawah SMA dan 71% sarjana atau setingkat di atasnya.

(Baca: SMRC: 71% Masyarakat Nilai Ekonomi Rumah Tangga Memburuk saat Pandemi)

Advertisement

Dampak wabah virus corona dirasakan oleh semua sektor usaha. Beberapa sektor usaha mengalami penurunan produksi akibat menyusutnya angka penjualan hingga berdampak terhadap pendapatan.

Selama pandemi, tidak sedikit usaha yang gulung tikar atau melakukan efisiensi biaya produksi dengan mengurangi jumlah karyawan. Pemotongan gaji karyawan atau mengambil kebijakan pengurangan shift kerja serta merumahkan sebagian karyawan juga kerap dilakukan.

Hal ini lalu berdampak pada penurunan pendapatan yang dialami oleh para karyawan.

Alhasil, dari suvei yang dilakukan BPS menunjukkan, 70,53% responden dalam kelompok berpendapatan rendah (kurang dari Rp 18 juta) merasakan dampak paling besar penurunan pendapatan.

"Sedangkan 30,34% atau 3 dari 10 responden kelompok berpendapatan tinggi (lebih dari Rp 7,2 juta) yang mengaku mengalami penurunan pendapatan," kata Kepala BPS Suhariyanto dalam materi publikasi survei, dikutip Senin (29/6).

Bila dirinci, 46,77% responden dengan penghasilan antara Rp 1,8 hingga Rp 3,0 juta mengaku mengalami penuruna pendapatan, diikuti 37,19% responden berpenghasilan Rp 3,0 hingga Rp 4,8 juta.

Berikutnya, 31,67% responden dengan penghasilan Rp 4,8 juta-Rp 7,2 juta terdampak dan 30,34% responden dengan gaji lebih dari Rp 7,2 juta ikut mengalami penurunan pendapatan.

Berdasarkan sektor usaha, BPS menyatakan pandemi Covid-19 telah memukul sektor pariwisata, hingga menyebabkan penurunan jumlah wisatawan domestik maupun mancanegara untuk berkunjungan ke tempat tujuam wisata.

(Baca: Strategi Bappenas Tahan Lonjakan Kemiskinan akibat Pandemi Corona)

Adapun tiga lapangan usaha terdampak yang termasuk ke dalam sektor pariwisata yaitu sektor Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor.

Lalu, sektor transportasi dan Pergudangan serta sektor penyediaan akomodasi dan makan minuman. "Dari sektor ini, 7 dari 10 (70,39%) responden yang bekerja di sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda Motor mengaku mengalami penurunan pendapatan," tulis BPS.

Sedangkan 62,60% responden yang bekerja pada sektor transportasi dan pergudangan mengaku ikut terdampak pendapatannya akibat
Covid-19. Adapun responden yang bekerja di sektor penyediaan akomodasi dan makan minum menjadi responden yang paling
terdampak (76,84%) berupa menurunnya pendapatan.

Perubahan Pengeluaran

Selain bagi pendapatan masyarakat, wabah corona juga ikut menyebabkan pengeluaran masyarakat berubah. Hasil survei BPS, kenaikan pengeluaran tertinggi terjadi pada produk kesehatan berupa obat, vitamin maupun sanitasi.

Sebanyak 73,28% responden menjawab pengeluaran untuk produk tersebut meningkat, 25% menjawab sama saja dan 1,72% menjawab menurun.

Berikutnya, 65% responden menjawab memiliki perubahan pengeluaran untuk belanja mahan makanan (sembako, sayuran dan lauk mentah), 30,18% menjawab sama saja dan 4,06% menjawab menurun.

(Baca: Semua Sektor Usaha Terpukul, Ekonomi Kuartal II Diprediksi Minus 3,4 %)

Lalu untuk pembelian pulsa dan paket data, 56,55% responden menjawab spengeluarannya meningkat, 41% biasa saja dan 2,42 % menurun. Sementra untuk pengeluaran listrik, hanya 37,3% responden yang mengaku pengeluarannya naik, sedangkan 55,18% mengaku sama saja dan dan 7,49% menurun.

Demikian halnya untuk pengeluaran bahan bakar minyak, hanya 7,33% responden saja yang menjawab pengeluarannya naik, 50,72% menjawab sama saja dan 41,95% turun.

Lalu untuk transportasi umum, wabah yang mengharuskan masyarakat berada di rumah menyebabkan 7,8% responden yang menjawab perubuaha pengeluarannya naik, 49,71% sama saja dan 42,45% menurun.

 

 

 

 

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait