COP28 Hasilkan Kesepakatan Pendanaan hingga Rp 883 T di 4 Hari Pertama
Konferensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa atau Conference of the Parties ke-28 (COP28) telah memobilisasi lebih dari US$ 57 miliar atau Rp 883 triliun, pada empat hari pertemuan pertama. Pendanaan tersebut terdiri dari sektor iklim dan energi.
Pemerintah, dunia usaha, investor dan filantropi telah mengumumkan pendanaan tersebut untuk menangani kerusakan sekaligus pencegahan dampak perubahan iklim.
"Pengumuman telah dituangkan ke seluruh agenda iklim, termasuk bidang keuangan, kesehatan, pangan, alam, dan energi," tulis siaran pers COP28 yang diterima redaksi Katadata.co.id, Senin (4/12).
Adapun pendanaan iklim tersebut adalah:
- Uni Emirat Arab (UEA) yang telah meluncurkan dana ALTÉRRA senilai US$ 30 miliar. Dana ini menekankan pada pembukaan pendanaan swasta di negara-negara Selatan. UEA ini juga mengumumkan pendanaan US$ 200 juta untuk SDR dan US$ 150 juta untuk keamanan air.
- Bank Dunia telah mengumumkan peningkatan pendanaan untuk proyek terkait perubahan iklim sebesar US$ 9 miliar per tahun.
- Dana loss and damage atau kompensasi terhadap kerusakan akibat perubahan iklim mencapai US$ $725 juta yang dijanjikan oleh sejumlah negara.
- Green Climate Fund senilai US$ 3,5 miliar
- Dana kesehatan untuk mengatasi penyakit akibat perubahan iklim sebesar US$ 2,7 miliar
- Dana Transformasi sitem pangan sebesar US$ 2,6 miliar
- Dana perlindungan alam sebesar US$ 2,6 miliar
- Dana aksi perkoraan US$ 467 juta
- Dana pemulihan dan perdamaian sebesar US$ 1,2 miliar
Pendanaan di bidang energi terdiri dari:
- Energi terbarukan sebesar US$ 2,5 miliar
- Pengurangan emisi dan metana sebesar US$ 1,2 miliar
- Investasi di bidang energi bersih manufaktur sebesar US$ 568 jut
COP28 berlangsung di Expo City Dubai, Uni Emirat Arab, dari 30 November hingga 12 Desember 2023. Konferensi ini dihadiri lebih dari 70.000 peserta, termasuk kepala negara, pejabat pemerintah, pemimpin industri internasional, sektor swasta perwakilan, akademisi, pakar, pemuda, dan aktor non-negara.
UEA memimpin proses agar semua pihak menyepakati peta jalan yang jelas, mempercepat kemajuan melalui transisi energi global yang pragmatis dan “tidak meninggalkan siapa pun di belakang” untuk aksi iklim inklusif.
1 Miliar Orang Terancam Terdampak Kekeringan
Pemanasan global bisa menimbulkan berbagai jenis bencana, salah satunya kekeringan. Menurut Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), populasi yang terancam kekeringan akibat pemanasan global bisa mencapai kisaran 1 miliar orang.
IPCC memproyeksikan, jika suhu rata-rata bumi naik 1,5 derajat Celsius (°C) dibanding era pra-industri (1850-1900), populasi yang rentan kekeringan mencapai 951 juta orang. Kemudian jika suhu rata-rata bumi naik 2 °C, ancaman kekeringan meluas ke 1,15 miliar orang.
Populasi rentan kekeringan juga bisa mencapai 1,28 miliar orang, jika kenaikan suhu bumi sampai 3 °C di atas era pra-industri.
Menurut IPCC, bencana kekeringan itu bisa membuat sumber air berkurang atau hilang, memicu degradasi lingkungan, menurunkan produksi pertanian, hingga melahirkan masalah sosial-ekonomi.