Copernicus: Luas Tutupan Es di Lautan Mencapai Rekor Terendah

Hari Widowati
7 Maret 2025, 14:01
Copernicus, es di laut, perubahan iklim
Anadolu diambil dari Antara
Lembaga riset Copernicus Climate Change Service (C3S) melaporkan luas es laut global harian, yang menggabungkan luas es laut di kedua wilayah kutub, mencapai titik minimum harian baru pada awal Februari 2025.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Lembaga riset Copernicus Climate Change Service (C3S) melaporkan luas es laut global harian, yang menggabungkan luas es laut di kedua wilayah kutub, mencapai titik minimum harian baru pada awal Februari 2025. Lembaga tersebut juga menyoroti suhu udara global pada Februari lalu yang merupakan suhu terpanas ketiga setelah rekor suhu terpanas pada Februari 2024 dan Februari 2016.

“Salah satu konsekuensi dari dunia yang lebih hangat adalah mencairnya es laut,” kata Wakil Direktur C3S, Samantha Burgess, seperti dikutip The Guardian, Kamis (6/3). Ia mengatakan rekor terendah tutupan es laut di kedua kutub telah mendorong tutupan es laut global ke titik terendah sepanjang masa.

Badan ini menemukan area es laut mencapai tingkat bulanan terendah untuk bulan Februari di Arktik, yaitu 8% di bawah rata-rata. Tingkat bulanan terendah keempat untuk bulan Februari diidentifikasi di Antartika, yaitu 26% di bawah rata-rata. Pengamatan satelit Copernicus dimulai sejak akhir 1970-an sedangkan pengamatan historis dimulai sejak pertengahan abad ke-20.

Anomali Panas Ekstrem di Kutub Utara

Para ilmuwan telah mengamati anomali panas ekstrem di kutub utara pada awal Februari 2025. Peristiwa ini menyebabkan suhu melonjak lebih dari 20C di atas rata-rata dan melewati ambang batas pencairan es. Mereka menggambarkan rekor terbaru yang dipecahkan sebagai “sangat mengkhawatirkan” karena es memantulkan sinar matahari dan mendinginkan planet ini.

“Kurangnya es di lautan berarti permukaan laut yang lebih gelap dan kemampuan Bumi untuk menyerap lebih banyak sinar matahari, yang mempercepat pemanasan,” kata Mika Rantanen, seorang ilmuwan iklim di Institut Meteorologi Finlandia.

Peristiwa pemanasan musim dingin yang kuat di Kutub Utara pada awal Februari telah mencegah es laut untuk tumbuh secara normal. “Peristiwa meteorologi ini jika dikombinasikan dengan penurunan es laut jangka panjang akibat perubahan iklim antropogenik, merupakan penyebab utama dari luas es laut Arktik yang paling rendah yang pernah tercatat,” ujarnya.

Luas es laut global bervariasi sepanjang tahun, namun biasanya mencapai titik minimum tahunan pada bulan Februari, saat musim panas di belahan bumi selatan.

C3S mengatakan Februari 2025 adalah Februari terpanas ketiga yang pernah tercatat. Suhu global 1,59C lebih panas daripada tingkat pra-industri. Alhasil, Februari 2025 menjadi bulan ke-19 dalam 20 tahun terakhir dengan suhu lebih dari 1,5C di atas tingkat pra-industri.

Program pengamatan bumi seperti C3S bergantung pada analisis ulang miliaran pengukuran dari satelit, kapal, pesawat terbang, dan stasiun cuaca untuk membuat gambaran keadaan iklim. Badan ini memperingatkan margin di atas 1,5C adalah kecil dalam beberapa bulan, dan dapat sedikit berbeda dalam kumpulan data lainnya.

Rekor es laut yang terpecahkan ini terjadi setelah tahun lalu dikukuhkan sebagai tahun terpanas yang pernah tercatat. Analisis Guardian terhadap data C3S mengungkapkan dua pertiga permukaan dunia terbakar oleh panas bulanan yang memecahkan rekor pada tahun 2024.

El Nina Bakal Lebih Pendek

Pola cuaca El Nino pada paruh pertama tahun ini menambah efek pemanasan latar belakang polusi bahan bakar fosil, yang memerangkap sinar matahari. El Niño telah mereda dan berubah menjadi bentuk yang lebih lemah dari rekannya yang lebih dingin, La Niña.

Organisasi Meteorologi Dunia mengatakan mereka memperkirakan La Niña yang muncul pada bulan Desember akan berlangsung singkat.

Richard Allan, seorang ilmuwan iklim di University of Reading, mengatakan bahwa prediksi jangka panjang untuk es laut Arktik suram.

“Wilayah ini terus memanas dengan cepat, dan hanya dapat diselamatkan dengan pengurangan emisi gas rumah kaca secara cepat dan masif,” katanya. Kondisi ini juga akan membatasi semakin parahnya cuaca ekstrem dan kenaikan permukaan air laut jangka panjang di seluruh dunia.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...