Menko Zulhas: Indonesia Tidak Bisa Swasembada Pangan Jika Lingkungan Rusak  

Image title
13 Maret 2025, 17:14
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (kiri) didampingi Menteri Perdagangan Budi Santoso (kedua kiri) berbincang dengan pedagang telur saat meninjau harga bahan pokok di Pasar Johar Baru, Jakarta, Rabu (5/3/2025). Menko Bidang Pangan dan jajara
ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/nym.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (kiri) didampingi Menteri Perdagangan Budi Santoso (kedua kiri) berbincang dengan pedagang telur saat meninjau harga bahan pokok di Pasar Johar Baru, Jakarta, Rabu (5/3/2025). Menko Bidang Pangan dan jajaran meninjau langsung ketersediaan pasokan dan harga bahan pokok pada bulan Ramadhan.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Menteri Koordinator Bidang Pangan (Menko Pangan) Zulkifli Hasan mengatakan Indonesia bisa mencapai swasembada pangan jika lingkungan terjaga dengan bagus sesuai dengan peruntukannya.

 “Pangan bisa swasembada, kalau lingkungannya bagus,” ujar Zulkifli saat ditemui di Bogor, Kamis (13/3).

Pria yang akrab disapa Zulhas itu mengatakan swasembada pangan sulit dilakukan jika lingkungan rusak atau tidak diperlakukan sesuai dengan peruntukannya.  Zulhas mencontohkan daerah aliran sungai (DAS) hulu Kali Bekasi yang sebagian besar lahannya sudah beralih fungsi dari hutan menjadi bangunan.

 Kondisi tersebut menyebabkan lingkungan atau alam tidak dapat meresap air hujan secara maksimal di hulu. Hal ini berdampak pada banjir di daerah hilir seperti yang terjadi di Bekasi pada awal Maret 2025.

 “Kalau datang banjir bandang, Bekasi, Bogor habis sawahnya kan. Karena hulu ini pusatnya, jadi sangat tergantung kepada lingkungan,” ujarnya.

 Zulhas mengatakan saat ini pemerintah tengah membenahi beberapa aspek untuk mewujudkan pemerintahaan yang bersih untuk menjaga lingkungan guna mencapai swasembada pangan. Adapun aspek yang tengah dibenahi diantaranya perizinan tata ruang dan pengelolaan lingkungan.

 Penyegelan Kawasan di Hulu Kali Bekasi

 Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) memasang papan pengawasan operasional dan pembangunan pada objek wisata Gunung Geulis Golf & Resort dan Summarecon Bogor. Dua kawasan tersebut  diminta memperbaiki kondisi lingkungan yang berada di hulu daerah aliran sungai (DAS) Kali Bekasi.

 Menteri LH, Hanif Faisol Nurofiq, mengatakan kegiatan tersebut dilaksanakan setelah bencana banjir yang terjadi di Bekasi, Jawa Barat pada awal Maret 2025. Salah satu penyebab banjir di Bekasi karena bentang alam atau landscape di hulu DAS kali Bekasi.

“Kejadian banjir itu buat kita melakukan evaluasi total terkait landscape yang ada di DAS Bekasi,” ujar Hanif saat ditemui di Bogor, Kamis (13/3).

 Dia mengatakan total DAS di hulu kali Bekasi mencapai 28 ribu hektare. Namun saat ini lahan hutan DAS Bekasi mencapai seluas 4 ribu hektare. Jumlah itu mencapai 3,35% dari kesuluruhan DAS Bekasi dari hulu ke hilir seluas 145 ribu hektare.

 Angka tersebut sangat jauh jika dibandingkan luasan minimal hutan yang berada di kawasan DAS sebuah sungai. Dimana, luasan hutan yang seharusnya dimiliki DAS adalah sebesar 30 % dari keseluruhan wilayah baik hulu hingga ke hilir.

“Sehingga DAS hulu harus kembali dengan langkah-langkah pelakukan pengawasan. Selanjutnya, teman-teman pengawas dan para ahli akan meneliti dengan detil langkah-langkah apa yang harus kita lakukan terkait dengan landscape ini,” ujarnya.  

 Hanif mengatakan kegiatan operasional di kawasan Gunung Geulis Golf tetap boleh dilaksanakan dengan mematuhi beberapa poin yang direkomendasikan oleh KLH. Meski begitu, pihak pengelola kawasan tersebut nantinya harus memenuhi rekomendasi yang diberikan ahli untuk menngembalikan fungsi dari wilayah tersebut.

“Jadi kalau fungsinya dia harus menangkap air sekian banyak, tentu teknologi budayanya harus diperketat untuk menangkap air itu. Jadi tidak berarti bongkar, tapi merevitalisasi fungsinya,” ucapnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Djati Waluyo

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...