Desa Penglipuran hingga Masyarakat Dayak Iban Menua Terima Kalpataru
Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menyerahkan penghargaan Kalpataru Lestari kepada 12 pahlawan lingkungan pada puncak Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2025. Dua di antara penerima Kalpataru Lestari tahun ini adalah Desa Penglipuran, Bali dan masyarakat Dayak Iban Menua Sungai Utik, Kalimantan Barat.
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyampaikan apresiasi kepada para penerima Kalpataru Lestari dari periode 1980-2024.
"Bapak dan ibu semua adalah teladan hidup, saksi dari dedikasi dan konsistensi dan keberanian dalam menjaga bumi kita. Kadang tanpa disorot, tanpa insentif, namun dengan cinta dan ketulusan serta tanggung jawab," ujar Hanif pada peringatan Hari Lingkungan Hidup 2025 di Badung, Bali, Kamis (5/6).
Ia mengatakan, langkah-langkah yang diambil oleh para penerima penghargaan Kalpataru mengingatkan perubahan besar bisa lahir dari tindakan kecil yang terus konsisten dilakukan.
Menteri Hanif juga mengatakan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2025 merupakan momentum untuk menyerukan panggilan moral dan seruan aksi kolektif, terutama dalam menanggulangi polusi dari sampah plastik. Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2025 ini mengambil tema "Hentikan Polusi Plastik."
Konsisten Menjaga Lingkungan Hidup
Bagi Desa Adat Penglipuran, Kabupaten Bangli, penghargaan Kalpataru ini merupakan yang kedua kalinya. Pada 1995, Desa Adat Penglipuran menerima Kalpataru Penyelamat Lingkungan karena berhasil memelihara dan melestarikan hutan bambu seluas 75 hektare. Desa Adat Penglipuran juga konsisten memilah 14 jenis sampah, menerapkan larangan tindakan yang merusak lingkungan, dan meminta warganya menjaga kebersihan.
Sementara itu, masyarakat Dayak Iban Menua Sungai Utik menjaga hutan adat mereka secara ketat. Mereka juga memiliki kearifan lokal dalam pengelolaan hutan dengan gotong royong membersihkan tanah dan air untuk menjaga kualitas air bersih.
Berikut ini 12 penerima penghargaan Kalpataru Lestari:
1. Paris Sembiring, Sumatra Utara
2. LSM Bahtera Melayu Bengkalis, Riau
3. Sadiman dari Jawa Tengah
4. Oday Kodariyah, Jawa Barat
5. Desa Adat Penglipuran, Bali
6. TGH Hasanain Juaini, Nusa Tenggara Barat (NTB)
7. Kelompok Nelayan Prapat Agung Mengening Patasari, Bali
8. Hamzah, Kalimantan Selatan
9. Masyarakat Dayak Iban Menua Sungai Utik, Kalimantan Barat
10. Herman Sasia, Sulawesi Tengah
11. Timothy Hindom, Papua Barat
12. Kelompok Pecinta Alam Isyo Hill's Rhepang Muaif, Papua
