12 Universitas RI-Timor Leste Kolaborasi Riset Bentang Laut Sunda Kecil

Hari Widowati
21 Oktober 2025, 08:42
Universitas, science hub
Dok. Konservasi Indonesia
Sebanyak 12 universitas dari Indonesia dan Timor Leste menandatangani Memorandum of Agreement (MoA) untuk riset bersama Lesser Sunda Seascape (LSS) Science Hub - University Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries, and Food Security (CTI-CFF) di Bali, Senin (20/10).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Sebanyak 12 universitas dari Indonesia dan Timor Leste menandatangani Memorandum of Agreement (MoA) untuk riset bersama Lesser Sunda Seascape (LSS) Science Hub - University Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries, and Food Security (CTI-CFF) di Bali, Senin (20/10).

Kesepakatan ini menandai babak baru sinergi akademik lintas batas untuk memperkuat konservasi laut berbasis ilmu pengetahuan di kawasan Bentang Laut Sunda Kecil. Kawasan itu merupakan wilayah penting yang menjadi bagian segitiga terumbu karang dunia, mencakup perairan Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, hingga sebagian Laut Banda. Kawasan ini dikenal memiliki keanekaragaman hayati laut yang tinggi, sekaligus menghadapi tekanan dari perubahan iklim dan aktivitas manusia.

Executive Director CTI-CFF Regional Secretariat, Dr. Frank Keith Griffin, menyebut pembentukan Science Hub merupakan langkah strategis mempertemukan lembaga akademik, pemerintah, dan mitra pembangunan dalam satu platform kolaboratif. Ruang lingkup kerja sama dalam MoA mencakup kolaborasi riset terkait kelautan dan perikanan, publikasi bersama jurnal ilmiah, dan ruang pengembangan kapasitas para akademisi antaruniversitas di Indonesia dan Timor-Leste.

“Kolaborasi ini akan mendorong riset lintas batas dan memperkuat pengelolaan laut berbasis sains, terutama dalam konservasi terumbu karang, pengelolaan perikanan berkelanjutan, dan perlindungan spesies laut bermigrasi. Ini adalah upaya kolektif untuk menjamin masa depan laut yang sehat dan tangguh bagi masyarakat pesisir di kawasan ini,” ujar Griffin, dalam keterangan resmi, Senin (20/10).

Dua belas universitas yang bergabung terdiri atas sepuluh kampus di Indonesia. Mereka adalah Universitas Nusa Cendana, Universitas Kristen Artha Wacana, Universitas Muhammadiyah Kupang, Universitas Tribuana Kalabahi, Universitas Pattimura, Politeknik Pertanian Negeri Kupang, Universitas Udayana, Universitas Mataram, Universitas Pertahanan, dan Universitas Sam Ratulangi. Adapun dua universitas dari Timor Leste adalah Universidade Nacional Timor Lorosa’e (UNTL) dan Universidade Oriental Timor-Lorosa’e (UNITAL).

Science Hub akan Hasilkan Rekomendasi Kebijakan Berbasis Riset

Melalui kemitraan ini, universitas-universitas tersebut berkomitmen membangun wadah ilmiah yang mendorong penelitian, inovasi, pengembangan kapasitas, serta pertukaran pengetahuan lintas negara. Science Hub akan menjadi ruang kolaborasi bagi akademisi dan praktisi untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan berbasis riset yang mendukung pembangunan ekonomi biru dan kesejahteraan masyarakat pesisir. Lembaga ini juga akan berperan dalam memfasilitasi joint research, program magang, dan pelatihan antar universitas di bidang kelautan dan perikanan.

Penandatanganan MoA ini juga menjadi bagian dari rangkaian International Seminar on SDG 14 “Life Below Water”. Seminar ini mempertemukan lembaga akademik, instansi pemerintah, dan mitra pembangunan dari enam negara anggota CTI-CFF: Indonesia, Malaysia, Filipina, Timor-Leste, Papua Nugini, dan Kepulauan Solomon.
Seminar ini menjadi wadah penting untuk memperkuat komitmen implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals), khususnya SDG 14 yang berfokus pada perlindungan dan pemanfaatan berkelanjutan sumber daya laut dan pesisir.

Tutus Wijanarko, IKI SOMACORE Project Lead Konservasi Indonesia, mengatakan selain menandatangani MoA, para pihak juga menyepakati penyusunan rencana kerja bersama periode 2026–2030 yang akan mendukung implementasi Regional Plan of Action (RPOA) 2.0 CTI-CFF 2021–2030.

Dalam rencana ini, LSS Science Hub diharapkan memainkan peran strategis dalam memperkuat basis data ilmiah kawasan, mengembangkan riset multidisiplin, dan mendukung kebijakan konservasi laut lintas batas yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim. Tutus menilai, keterlibatan universitas menjadi elemen kunci dalam mewujudkan konservasi berbasis ilmu pengetahuan di tingkat regional.

“Kerja sama ini tidak hanya memperluas jejaring akademik, tetapi juga memastikan bahwa hasil riset diubah menjadi kebijakan nyata yang berdampak bagi masyarakat pesisir," kata Tutus.

Dengan dukungan kampus, kedua negara dapat memperkuat praktik konservasi yang berkelanjutan dan relevan dengan tantangan zaman. Kolaborasi ini diharapkan menjadi model kemitraan akademik regional yang memperkuat peran sains dalam menjaga ketahanan laut, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, dan mendukung ekonomi biru berkelanjutan di kawasan Asia Pasifik.

Inisiatif ini juga menjadi bagian dari proyek Solutions for Marine and Coastal Resilience in the Coral Triangle (SOMACORE). Program ini bertujuan memperkuat ketahanan ekosistem laut dan pesisir melalui pendekatan ilmiah, inovasi lokal, serta kolaborasi lintas lembaga di kawasan Segitiga Terumbu Karang.

Koordinator University Partnership CTI-CFF, Prof. Grevo Gerung, menambahkan inisiatif ini merupakan kelanjutan dari program University Partnership yang telah digagas sejak 2017.

“Tujuan utama kemitraan ini adalah menjadikan universitas sebagai motor penggerak konservasi laut, perikanan berkelanjutan, dan ketahanan pangan di enam negara anggota CTI-CFF. Melalui LSS Science Hub, kami ingin memastikan ilmu pengetahuan tidak berhenti di laboratorium, tetapi menjadi dasar tindakan nyata di lapangan,” katanya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...