Danantara Umumkan 24 Korporasi Asing Ikut Lelang PLTSa, Mitsubishi hingga Itochu

Andi M. Arief
3 November 2025, 17:09
Chief Investment Officer BPI Danantara Pandu Patria Sjahrir
Katadata/Fauza Syahputra
Chief Investment Officer BPI Danantara Pandu Patria Sjahrir
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Chief Investment Officer BPI Danantara Pandu Patria Sjahrir mengumumkan 24 perusahaan asing yang dapat mengikuti lelang tujuh proyek WTE pekan ini, Kamis (6/11). Menurutnya, 24 perusahaan tersebut telah diseleksi berdasarkan kepemilikan teknologi dari 200 perusahaan yang berminat dalam proyek tersebut.

"Dari 24 penyedia teknologi PLTSa ini kami minta untuk membuat konsorsium dengan perusahaan lokal sebelum mengirimkan bid dalam tender yang dibuka pekan ini," kata Pandu di kantornya, Senin (3/11).

Pandu menjelaskan syarat pembentukan konsorsium penting agar terjadi pemindahan teknologi ke perusahaan lokal. Dengan demikian, perusahaan lokal diharapkan dapat mengikuti tender proyek WTE secepatnya pada telombang ketiga.

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau BPI Danantara menargetkan tujuh proyek waste-to-energy atau pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) masuk masa konstruksi pada awal tahun depan. Tujuh PLTSa di daerah yang beroperasi tersebut ditargetkan dapat beroperasi selambatnya April 2026.

Pandu menyampaikan mayoritas perusahaan yang akan mengikuti lelang WTE gelombang pertama berasal dari Cina, Jepang, dan Eropa. Berikut 24 perusahaan asing yang akan membentuk konsorsium sebelum mengikuti tender pekan ini:


1. Mitsubishi Heavy Industries Environmental & Chemical Engineering
2. ITOCHU Corporation
3. China Everbright Environment Group Limited
4. Kanadevia Corporation
5. PT MCC Technology Indonesia (MCC)
6. China National Environmental Protection Group Co., Ltd (CECEP)
7. GCL Intelligent Energy (Suzhou) Co., Ltd.
8. Chongqing Sanfeng Environment Group Corp., Ltd
9. Dynagreen Environmental Protection Group Co., Ltd
10. SUS Indonesia Holding Limited
11. Veolia Environmental Services Asia Pte. Ltd
12. Hunan Construction Engineering Group Co., Ltd
13. CEVIA Enviro Inc.
14. China Conch Venture Holding Limited
15. China TianYing Inc
16. PT Jinjiang Environment Indonesia
17. Wangneng Environment Co., Ltd
18. Zhejiang Weiming Environment Protection Co., Ltd
19. Beijing China Sciences Runyu Environmental Technology Co.,Ltd. (CSET)
20. Tianjin TEDA Environmental Protection Co., Ltd
21. Grandblue Environment Co., Ltd
22. Beijing GeoEnviron Engineering & Technology, Inc
23. Wuhan Tianyuan Group Co., Ltd
24. QiaoYin City Management Co., Ltd

Teknologi WTE

Menurutnya, teknologi yang akan digunakan dalam WTE berbeda dengan PLTSa eksisting, seperti di Jakarta maupun Surakarta. Pandu menjelaskan PLTSa di Jakarta menggunakan teknologi yang mengubah sampah anorganik menjadi bahan bakar alternatif atau RDF, sementara teknologi di Surakarta adalah memproses sampah untuk menghasilkan gas metana.

Pandu mencatat teknologi yang akan digunakan dalam proyek WTE adalah insinerator murni. Dengan kata lain, teknologi tersebut akan membakar hampir semua jenis sampah rumah tangga yang akhirnya menghasilkan tiga jenis produk, yakni energi, fly ash, dan bottom ash.

Teknologi tersebut dipilih lantaran telah menjadi solusi WTE di lebih dari 75% PLTSa di Eropa, Cina, dan Singapura. Pandu mensinyalir teknologi tersebut akan digunakan pada seluruh PLTSa yang akan dibangun di dalam negeri mulai tahun depan.

Pandu menekankan teknologi insinerator yang dimiliki 24 peserta tender WTE gelombang pertama telah memiliki standar emisi yang diterapkan di Eropa. Adapun tujuh area yang akan menjadi lokasi pembangunan PLTSa tersebut adalah Denpasar, Yogyakarta, Semarang, Bogor Raya, Tangerang Raya, Bekasi Raya, dan Medan Raya.

"Kami telah menjadwalkan tender PLTSa di seluruh area tersebut secepat mungkin agar groundbreaking bisa dimulai awal 2026 dan siap dioperasikan di setiap kota pada Maret-April 2026," katanya.

Sebelumnya, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, menjelaskan bahwa teknologi insinerator dalam PLTSa telah terbukti efektif di berbagai negara, termasuk Singapura, dan mulai diterapkan di beberapa kota di Indonesia seperti Surabaya.

Ia menambahkan, kapasitas listrik dapat meningkat sesuai volume sampah yang dikelola. “Kalau kapasitasnya 1.500 ton, maka bisa menghasilkan hingga 30 MW, tergantung kelipatan penggunaan teknologinya,” katanya.

Yuliot mencontohkan, beberapa daerah yang memiliki jumlah sampah harian di bawah 1.000 ton dapat menggabungkan pasokan dengan wilayah sekitar untuk memenuhi kapasitas minimum yang dibutuhkan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Andi M. Arief

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...