Songket Melayu Kian Diminati, BCA Dorong Pengrajin Pakai Pewarna Alami
Bank Central Asia (BCA) mendukung proses kreasi dan pemasaran kain tenun songket melayu yang diproduksi oleh para pengrajin di Sumatera Utara.
Hera F. Haryn, VP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, mengatakan perusahaan bekerja sama dengan Perkumpulan Warna Alam Indonesia (Warlami) untuk memberikan pelatihan bagi para pengrajin agar menggunakan pewarna alami untuk kain tenun tersebut. Acara yang digelar pada Selasa (4/11) di Istana Maimoon, Medan ini sudah memasuki tahun ketiga. Sebanyak 32 pengrajin dari 5 kelompok ini mengikuti kegiatan ini.
“Tidak hanya dampak ekonomi di mana kami akan membantu untuk membuka akses pasar penjualan dari produk-produk yang dihasilkan, tapi kami juga ingin memberdayakan warisan peradaban budaya Indonesia,” kata di Istana Maimoon, Medan, 4 November 2025.
Ia berharap para penenun bisa mengimplementasikan teknik pewarnaan menggunakan warna alami agar tenun songket Melayu Sumatera Utara kian dikenal sebagai kain tradisional ramah lingkungan. tren eco-fashion ini membawa peluang bagi tenun songket Melayu.
Sekretaris Jenderal Warlami mengatakan bahan-bahan alam seperti kulit pohon mahoni, simplokos (kulit kayu loba), kayu tegeran, kayu tingi, kulit buah jalawe, jahe, hingga kemiri bisa digunakan sebagai pewarna alami. Proses penenunan sendiri dimulai dengan meracik bahan-bahan alami tersebut di dalam ember. Pengrajin kemudian mencelupkan benang tenun ke dalam cairan alami tersebut, kemudian dijemur. Prosesnya harus diulangi sebanyak tiga kali agar warna terserap sempurna dan benang bisa digunakan untuk membuat songket.
Suroso mengatakan kain songket dengan pewarna alam bisa punya harga 2 - 3 kali lipat dibandingkan dengan kain dari pewarna sintetis. Selain terlihat lebih natural, banyak pelanggan juga semakin peduli dengan lingkungan.
“Songket yang pakai cat sintetis itu warnanya lebih vivid, lebih mengkilap, sebab ada logam berat di dalamnya,” beber pria berambut gondrong itu.
Sementara, Wahidah, dari kelompok Raki Tenun asal Deli Serdang mengaku selama ini ia menggunakan pewarna sintentis. Namun, beberapa kali ia juga menjual songket dengan pewarna alami sebagai reseller. Ia membeberkan omzet merek tenunnya berkisar Rp25 - 50 juta/bulan yang dibagi kepada 23 orang anggota.
Ia juga menyatakan harga jual kain dengan pewarna alam memang lebih tinggi dan punya pasarnya sendiri. “Kain pewarnaan alam itu harganya 1,9 juta-an ke atas. Kalau pewarna sintetis yang Rp250 ribu juga masih ada,” ucapnya.
