Pakar Klimatologi BRIN Soroti Super El Nino 2026, Lebih Ganas daripada 2023

Ajeng Dwita Ayuningtyas
28 Juli 2026, 10:14
El Nino, BRIN, cuaca ekstrem
ANTARA FOTO/Arif Firmansyah/nym.
Warga berjalan di sungai Ciliwung yang debit airnya menyusut di wilayah Kelurahan Babakan Pasar, Kota Bogor, Jawa Barat, Jumat (17/7/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Pakar Klimatologi dan Perubahan Iklim BRIN Erma Yulihastin menyebut fenomena iklim El Nino telah mencapai level kuat dan diprediksi akan terus menguat di Indonesia. Erma menyoroti pertumbuhan Indeks Nino 3.4 yang sangat cepat, mencerminkan ‘keganasan’ El Nino tahun ini. 

Dalam postingan Instagram pribadinya, Erma menjelaskan bahwa Indeks Nino 3.4 atau anomali suhu air laut di bagian tengah Samudra Pasifik – indikator untuk melihat kejadian El Nino atau La Nina, telah mencapai +1,74°C. Angka tersebut mengindikasikan level kuat yang bahkan lebih tinggi dari puncak El Nino pada 2023.

Dalam skala mingguan, kenaikan suhu terjadi sebesar 0,2°C sejak Februari hingga sekarang. Bahkan, tak ada fluktuasi suhu seperti yang terjadi pada 2023 lalu. 

“Dampak yang ditimbulkannya pun bakal lebih besar dibandingkan 2023,” kata Erma, dikutip dari Instagram resminya, pada Selasa (28/7).

Dia menjelaskan, dengan kekuatan panas tersebut, Samudra Pasifik menjadi lautan yang paling powerful untuk menghasilkan bibit-bibit badai tropis yang akan menjadi siklon tropis. Badai tersebut bergerak menuju negara di dekatnya, seperti Amerika dan negara lain di belahan bumi utara. 

Kekeringan di Indonesia Semakin Meluas

Sementara di sisi bumi lainnya seperti Indonesia, El Nino membuatnya menjadi daerah bayangan hujan atau rain shadow dari Pasifik. “Alias kekeringan yang kian hari kian meluas,” ujar Erma.

“Durasi kemarau mungkin normal atau tidak lebih panjang, tapi hari-hari kering tanpa hujan yang bakal lebih panjang,” ujar Erma. 

Erma memberi contoh apa yang terjadi di Bandung, wilayah di Jawa Barat itu diketahui sudah tak diguyur hujan sejak awal Juni 2026 hingga menuju akhir Juli. 

Dalam unggahan tersebut, Erma turut menjelaskan perihal pemanasan suhu di lapisan bawah permukaan (sub-surface) yang 2-3 kali lipat lebih panas dari suhu permukaan Samudra Pasifik. Suhu tertingginya, kata Erma, bisa mencapai 9°C. Kelebihan panas dari lapisan bawah ini pun akan ditransfer ke seluruh penjuru permukaan. 

“Jika ada kondisi terlalu panas di permukaan laut, kemana kelebihannya ditransfer kalau tidak ke atmosfer? Inilah mengapa Super El Nino dipastikan bakal terjadi dan suhu muka laut bakal terus menanjak progresif,” ujar dia. 

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...