Kanada Siapkan Insentif Rp 4,4 Triliun untuk Dongkrak Produksi Biofuel
Pemerintah Kanada menjanjikan dukungan regulasi dan dana insentif C$ 370 juta atau Rp 4,4 triliun (kurs Rp 11.810/C$) bagi industri biofuel untuk meningkatkan produksi di tengah persaingan ketat dengan Amerika Serikat (AS).
Perdana Menteri Kanada Mark Carney menjadikan dukungan untuk biofuel dan industri kanola sebagai salah satu dari enam bidang yang disoroti dalam pengumuman subsidi yang dirancang untuk membantu perusahaan mengatasi dampak dari tarif AS dan gangguan perdagangan.
"Amerika Serikat membanjiri pasar dengan produk-produk yang lebih murah dan kami harus berbuat lebih banyak untuk para pelaku industri kami di sini untuk memastikan bahwa mereka dapat terus beroperasi hingga peraturan bahan bakar bersih diamandemen," ujar Menteri Pertanian Kanada Heath MacDonald kepada Reuters, Jumat (5/9).
Kanola Kanada, bahan baku dalam beberapa jenis biofuel, juga menghadapi bea masuk dan tarif tinggi di Cina. Tiongkok merupakan pasar ekspor terbesar untuk biji kanola.
Pemerintah menjanjikan insentif produksi sebesar Rp 4,4 triliun untuk produsen biofuel Kanada. Mereka juga siap merombak peraturan biofuel Kanada.
Produk Biofuel AS Lebih Murah karena Insentif
Produsen biofuel Kanada dan industri kanola telah bertahun-tahun mengeluh karena AS memberikan lebih banyak insentif untuk produksi biofuel domestik sehingga mereka bisa menjual produknya lebih murah daripada Kanada. Investigasi pemerintah Kanada terhadap dukungan biofuel AS yang disimpulkan pada bulan Mei 2025 menunjukkan program-program AS tidak memenuhi syarat sebagai "dumping dan subsidi" yang merugikan produsen Kanada.
Asosiasi Bahan Bakar Terbarukan AS mengatakan produsen AS dan Kanada sama-sama mendapat manfaat dari kebijakan biofuel yang mendukung dan harus bekerja sama.
Produsen Kanada juga mengeluhkan peraturan yang membingungkan dan menjadi kendala investasi di sektor ini. Selama pemilihan umum pada April lalu, Carney berjanji untuk memperbaiki situasi tersebut.
Fasilitas diesel terbarukan terbesar di Kanada, yang dimiliki oleh Imperial Oil, akan menggunakan minyak kanola sebagai salah satu bahan bakunya. Pabrik tersebut mulai berproduksi pada Juli 2025. Namun, proyek besar lainnya ditunda tahun ini karena masalah peraturan dan perdagangan di Kanada dan AS.
Permintaan biofuel telah menjadi komponen kunci dalam harga kanola dunia. Produksi biofuel di AS dan negara lain telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir sehingga mengonsumsi proporsi yang lebih besar dari tanaman minyak nabati dunia.
