Pertamina Bidik Toyota Jadi Pembeli Proyek Hidrogen Hijau di Ulubelu

Mela Syaharani
10 September 2025, 15:50
Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza, menjadi pembicara dalam Katadata Sustainability Action for the Future Economy (SAFE) 2025 dengan tema Green for Resilience di Hotel Kempinski, Jakarta,Rabu (10/9).
Katadata/Fauza
Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza, menjadi pembicara dalam Katadata Sustainability Action for the Future Economy (SAFE) 2025 dengan tema Green for Resilience di Hotel Kempinski, Jakarta,Rabu (10/9).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

PT Pertamina (Persero) menargetkan perusahaan mobil, Toyota Indonesia sebagai off taker atau pembeli produksi Hidrogen Hijau yang dihasilkan dari pilot proyek di Ulubelu, Lampung. Hal ini disampaikan oleh Wakil Direktur Utama Pertamina (Persero), Oki Muraza dalam Katadata Sustainability Action for the Future Economy (SAFE) 2025 dengan tema Green for Resilience di Hotel Kempinski, Jakarta, Rabu (10/9).

“Saat ini kami sedang mengeksplor kerjasama dengan Toyota, yang juga punya pabrik di Karawang. Jadi salah satu target kami, kami sedang membangun kerjasama, mudah-mudahan nanti ada event yang cukup besar untuk panas bumi dan kita akan signing di sana,” kata Oki.

Pertamina baru saja melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking pembangunan green hydrogen pilot plant Ulubelu di Ulubelu, Lampung, Selasa (9/9). Fasilitas ini menjadi yang pertama di dunia yang mengintegrasikan teknologi Anion Exchange Membrane (AEM) electrolyzer dengan energi panas bumi sebagai sumber listrik bersih.

Pilot project di Ulubelu direncanakan mulai beroperasi pada November 2026. Berdasarkan paparannya, Pertamina menargetkan Toyota Indonesia bisa membeli produksi hidrogen hijau dari Ulubelu sebanyak 20 kilogram per hari, mulai 2025. Selain Toyota, produksi hidrogen hijau juga akan dibeli oleh anak usaha Pertamina sebanyak 50 kilogram per hari.

Hidrogen hijau ini dihasilkan dari pemanfaatan sumber panas bumi di Indonesia. Oki menyebut Indonesia memiliki  potensi 24 sampai 26 giga watt panas bumi yang saat ini baru bisa dimanfaatkan kurang dari 10%.

“Di Indonesia kami juga sudah petakan dan melihat ada potensi cluster di Sumatra untuk hydrogen, kemudian ada cluster juga di Sulawesi dan juga ada cluster di Jawa. Sambil kami mengembangkan teknologinya, ketika harganya masih tinggi, kami bisa ekspor ke luar negeri,” ujarnya.

Selain itu, Pertamina juga berharap bisa memiliki ekosistem untuk hydrogen. Perusahaan memulai produksi hidrogen yang berasal dari panas bumi. “Nanti mudah-mudahan dengan bantuan dari pemerintah, dari seluruh pihak, dan juga masyarakat, kami bisa menciptakan ekosistem yang lebih besar untuk green hydrogen ini,” ucapnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...