El Nino Ubah Strategi Energi Bersih RI: PLTA Terancam, Tenaga Angin Jadi Solusi

Ajeng Dwita Ayuningtyas
18 September 2026, 10:17
Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) Mada Ayu Habsari (kiri), Head of Economic & ESG Strategic Positioning Danantara Investment Management (DIM) Masyita Crystallin (tengah), Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kem
Fauza I Katadata
Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) Mada Ayu Habsari (kiri), Head of Economic & ESG Strategic Positioning Danantara Investment Management (DIM) Masyita Crystallin (tengah), Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi (kanan) dalam sesi diskusi Powering Industrial Decarbonization: Scaling Solar for a Competitive Indonesia di forum Katadata SAFE 2026, di Jakarta, Kamis (17/9).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

El Nino mendorong perubahan strategi pemanfaatan energi bersih untuk memastikan ketersediaan listrik di Indonesia. Di Sulawesi yang mengandalkan energi air, kemarau kering menghambat pasokan listrik, sekaligus membuka peluang energi angin dan surya sebagai penggantinya.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan, energi angin atau bayu di Sulawesi memiliki potensi besar yang mampu bertahan selama 24 jam. 

“PLTA drop, tetapi justru yang lebih besar adalah PLT bayu, yang 24 jam bisa men-deliver energi dengan kecepatan angin lebih dari 30 m/s. Itu tinggi banget di Sulawesi Selatan. Rata-ratanya 17 m/s,” ujar Eniya, dalam diskusi ‘Powering Industrial Decarbonization: Scaling Solar for a Competitive Indonesia’ di Katadata SAFE 2026, Kamis (17/9).

Sementara itu, porsi bauran pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB), justru masih jadi yang paling sedikit di antara energi bersih lainnya. Dari total 9,33 persen porsi listrik energi baru terbarukan (EBT) nasional, kontribusi PLTB hanya sekitar 0,06 persen.

“Saya merasa terkejut, berarti pemikiran saya salah, nih,” ujar Eniya. 

Potensi besar energi angin mendorong perubahan. “Kami ingin mendorong sekali angin menjadi solusi saat El Nino,” ucap dia menambahkan. 

Eniya mengatakan menurunnya debit air yang berpengaruh pada kinerja pembangkit listrik tenaga air (PLTA) justru kembali mendorong pemanfaatan energi fosil seperti diesel. Jawaban krisis air yang diinginkannya adalah kombinasi-kombinasi energi bersih.

Menurutnya, pengembangan PLTA di suatu wilayah perlu diikuti dengan pengembangan PLTB di sekitarnya. Kombinasi serupa juga bisa diterapkan antara energi angin dan energi surya, mengingat kondisi cuaca yang cenderung kering dan panas saat El Nino.

Dia kemudian menjelaskan, penambahan kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sudah tercatat sebesar 17,06 GW di Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN 2025-2034. Namun, jumlahnya akan terdongkrak seiring berjalannya program 100 GWp PLTS. 

Berdasarkan RUPTL 2025-2034, pengembangan EBT khususnya energi surya dikonsentrasikan di Jawa, Madura, Bali, Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara. Sedangkan di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi, prioritasnya adalah energi air.

Dari 14 proyek pertama program 100 GWp PLTS sekaligus akselerasi dari RUPTL, sebagian besar lokasinya berada di Jawa. Rinciannya ada PLTS Purwakarta, PLTS Saguling, PLTS Jatiluhur, PLTS Cirata, PLTS Jatigede, PLTS Gajah Mungkur, PLTS Karangkates, PLTS Pasuruan, dan PLTS Banyuwangi.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...