TN Tanjung Puting Masih Dikepung Api, Makin Dekati Area Feeding Site Orangutan
Api masih terus membakar kawasan ‘ibukota’ orangutan di Kalimantan. Setelah relawan menyatakan kewalahan dan pemerintah pusat memberi arahan upaya pemadaman, api masih berkobar dan kini mendekati feeding camp Tanjung Harapan.
Melalui unggahan video di Instagram, relawan Yayasan Orangutan Hijau Kalimantan Deny Priyatna terlihat memikul bekal untuk para relawan sembari mengatakan bahwa tim masih harus melanjutkan pembuatan sekat bakar. Sebab, api masih menjalar dan tak lagi turun hujan.
“Taman nasional masih on fire, info terakhir 600 meter dari feeding site,” tulis Deny, dikutip pada Jumat (23/10).
Sekat bakar berfungsi untuk mengurung atau melokalisasi kebakaran, dengan membatasi area terbakar sehingga tidak menjalar ke lokasi lainnya. Sekat bakar sekaligus berfungsi sebagai jalur bagi pemadam kebakaran hutan dan lahan.
Berdasarkan keterangan Balai Taman Nasional Tanjung Puting, upaya penanganan kebakaran pada Kamis (22/10) dilakukan melalui jalur darat di tiga resor, yaitu Resor Pesalat, Resor Teluk Pulai, dan Resor Sungai Perlu.
“Sementara itu, water bombing dilakukan untuk mendukung penanganan kebakaran di Resor Tanjung Rengas,” demikian tulis pihak Balai dalam unggahan Instagramnya.
Adapun hari ini, tim bantuan kendali operasi (BKO) dari Balai Taman Nasional Karimunjawa dan Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak akan menyudahi tugasnya, usai 25 hari bekerja sama dengan tim pengendalian kebakaran hutan di Taman Nasional Tanjung Puting.
Kawasan Konservasi Penting
Taman Nasional Tanjung Puting merupakan salah satu taman nasional tertua di Indonesia, yang ditetapkan untuk penyelamatan ekosistem hutan rawa dan rawa gambut, sekaligus penyelamatan spesies unggulan orangutan dan bekantan. Luas kawasan konservasi ini mencapai sekitar 412,5 ribu hektare di Kalimantan Tengah.
Tak hanya orangutan dan bekantan, beberapa spesies kunci juga ada di Taman Nasional Tanjung Puting, termasuk penyu sisik. Kekayaan keanekaragaman hayati di taman nasional ini membuatnya banyak dikenal di level dunia.
Salah satu daya tarik wisata di kawasan ini adalah aktivitas feeding atau memberi makan orangutan. Terdapat tiga lokasi feeding, yaitu Tanjung Harapan, Pondok Tangguy, dan Camp Leakey. Area Tanjung Harapan ini-lah yang kini terancam api.
Sekitar 408,3 ribu hektare atau 98,9 persen kawasan Taman Nasional Tanjung Puting ditetapkan sebagai situs ramsar pada 2013. Area tersebut menjadi representasi kawasan lahan basah paling penting di Kalimantan Tengah. Fungsinya, sebagai reservoir air, juga menjaga proses hidrologi, biologi, dan ekologi ekosistem di dalamnya.
UNESCO pun telah menetapkan kawasan konservasi ini sebagai Cagar Biosfer atau pengelolaan kawasan untuk melindungi ekosistem, sekaligus mengintegrasikan manusia untuk pembangunan ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Insiden kebakaran ini bukan yang pertama di Taman Nasional Tanjung Puting. Berdasarkan laporan Greenpeace Indonesia bertajuk ‘Bagai Api dalam Data, Karhutla Kronis 2023’, kawasan konservasi ini mengalami kebakaran berulang pada 2015-2023.
Pada 2023 lalu, titik api disebut telah terdeteksi sejak September dan terus bertahan hingga lebih dari sebulan. Saat itu, seorang mandor dari perusahaan perkebunan kelapa sawit PT Kumai Sentosa yang berada di sisi barat taman nasional, meninggal dunia saat ikut memadamkan api di kawasan konservasi itu.
