Indonesia Dinilai Perlu Tiru Cina dan India Soal Peralihan ke Energi Bersih
Analis Senior Iklim dan Energi untuk Indonesia EMBER, Dody Setiawan, menyatakan pengurangan impor batu bara Indonesia oleh Cina dan India, salah satunya karena penurunan permintaan.
Berdasarkan laporan EMBER, produksi listrik dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) sampai Juni 2025 lalu, telah memenuhi peningkatan permintaan listrik di dua negara tersebut.
“Ini bahkan menggantikan listrik yang diproduksi dari batu bara,” kata Dody, dalam CERAH Expert Panel ‘Menakar Konsistensi Kebijakan Transisi Energi Presiden Prabowo: Bagaimana Indonesia Bisa Capai 100% Energi Terbarukan?”, di Jakarta, Jumat (17/10).
Dody menyoroti pencapaian ini, meskipun kedua negara masuk daftar konsumen batu bara terbesar di dunia. Menurut Dody praktik peralihan penggunaan energi menuju energi bersih yang dilakukan Cina dan India patut menjadi contoh negara lain termasuk Indonesia.
Peralihan ke Energi Surya dan Angin
Research & Engagement Lead Indonesia Energy Transition IEEFA, Mutya Yustika, menjelaskan, sudah banyak negara yang beralih ke energi terbarukan karena levelized cost of electricity (LCOE) yang terus menurun.
“(LCOE) Surya dan angin itu semakin lama semakin turun, bahkan jauh lebih rendah dibandingkan LCOE pembangkit PLTU,” kata Mutya, dalam diskusi yang sama.
Akan tetapi, tenaga surya dan angin memiliki sifat tertentu yang membuatnya tidak bisa bertahan 24 jam. Oleh karena itu, dibutuhkan baterai untuk mendukungnya. Harga baterai, menurut Mutya, juga semakin menurun.
Dirinya menambahkan, untuk mencapai target bauran energi terbarukan 100% pada 2035, Indonesia perlu lebih banyak memanfaatkan energi surya. Proses persiapannya, termasuk dari segi infrastruktur, lebih sederhana dibandingkan pembangkit energi terbarukan lainnya seperti nuklir.
Meskipun begitu, ekosistem pemanfaatan energi surya, terutama untuk baterai, belum terbentuk di Indonesia. Dampaknya, pemanfaatan energi ini justru terasa mahal. Hal ini yang membedakannya dengan negara lain.
“Ekosistem kita belum terbentuk, sementara di luar negeri sudah. Supply chain, demand, ketika ada permintaan dan persediaan yang banyak, harganya semakin murah,” jelas Mutya.
Selain itu, untuk mendukung pembangunan ekosistem ini, Mutya menilai perlu menurunkan Tingkat Komponen Dalam Negeri. Meskipun komponen ini cukup penting bagi Indonesia, “tapi bagaimana menciptakan ekosistem terlebih dahulu,” tambahnya.
Upaya lainnya, pemerintah perlu menyederhanakan proses pengadaan pembangkit listrik energi terbarukan, agar biayanya terpangkas.
