Gajah Sumatra Terdesak, Indonesia dan Inggris Kerja Sama Konservasi Lewat PECI

Ajeng Dwita Ayuningtyas
23 Januari 2026, 11:52
Petugas pengendali (mahout) menunggangi gajah sumatra (Elephas maximus sumatrensis) jinak saat memantau kawasan hutan di Conservation Respond Unit (CRU) DAS Peusangan, Bener Meriah, Aceh, Kamis (19/12/2024).
ANTARA FOTO/ Irwansyah Putra/aww.
Petugas pengendali (mahout) menunggangi gajah sumatra (Elephas maximus sumatrensis) jinak saat memantau kawasan hutan di Conservation Respond Unit (CRU) DAS Peusangan, Bener Meriah, Aceh, Kamis (19/12/2024).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Pemerintah Indonesia menggandeng Pemerintah Inggris untuk mendukung untuk konservasi keanekaragaman hayati dan lanskap unik di Indonesia. Salah satu program yang didorong dalam kerja sama ini adalah Peusangan Elephant Conservation Initiative (PECI) yang berlokasi di Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh.

PECI adalah program pelestarian alam yang bertujuan melindungi habitat gajah sumatra sekaligus membantu ekonomi masyarakat sekitar hutan. Program ini mengintegrasikan perlindungan satwa liar dengan praktik agroforestri regeneratif, sebagai upaya mengurangi tekanan terhadap kawasan hutan dan memitigasi konflik antara manusia dan gajah.

Dukungan pendanaan dalam PECI diarahkan untuk perlindungan habitat dan penanganan konflik manusia dan satwa liar yang selama ini kerap terjadi di sejumlah wilayah Aceh. Berdasarkan laporan Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah, konflik manusia-gajah tercatat terjadi di beberapa daerah, antara lain Aceh Tengah, Bener Meriah, Pidie, Bireuen, dan Aceh Jaya.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan, program konservasi ini mencakup area seluas sekitar 90.000 hektare. Selain didukung Pemerintah Inggris, pelaksanaan PECI juga melibatkan organisasi konservasi WWF Indonesia serta perusahaan kehutanan PT Tusam Hutani Lestari.

“PECI juga akan berfokus pada pengembangan agroforestri, ekowisata berbasis konservasi, serta implementasi nilai ekonomi karbon,” kata Raja Juli Antoni dalam keterangan resmi yang dikutip dari laman WWF Indonesia, Jumat (23/1).

Setelah dikembangkan di Aceh, pemerintah berharap model konservasi berbasis lanskap seperti PECI dapat direplikasi di wilayah lain dengan tingkat keanekaragaman hayati tinggi, termasuk di luar kawasan hutan.

CEO WWF Indonesia Aditya Bayunanda mengatakan, inisiatif ini menunjukkan bahwa skema pembiayaan konservasi yang inovatif dapat mendorong aksi perlindungan keanekaragaman hayati di tingkat lokal. Menurut dia, pendekatan tersebut relevan mengingat Indonesia memiliki kawasan bernilai keanekaragaman hayati tinggi yang luas, mencapai sekitar 93 juta hektare.

Dari pihak Inggris, Menteri untuk Indo-Pasifik Seema Malhotra menyatakan komitmen untuk bekerja sama dengan Indonesia dalam menghadapi perubahan iklim sekaligus melindungi alam. “Proyek PECI membantu menjaga lingkungan, sekaligus mendukung masyarakat dan menciptakan lapangan pekerjaan,” kata Seema.

Pemerintah Indonesia menilai keanekaragaman hayati sebagai aset strategis nasional dan fondasi ketahanan ekonomi jangka panjang. Sebagai tindak lanjut, pemerintah telah menyusun Indonesia Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) 2025-2045 sebagai kerangka pengarusutamaan perlindungan alam lintas sektor, termasuk mobilisasi pembiayaan berkelanjutan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...