Pelalawan Siaga Darurat Kebakaran Hutan dan Lahan, Asap Ancam Pekanbaru
Kebakaran dilaporkan melanda ratusan hektare area hutan dan lahan di Provinsi Riau. Kini, bencana asap membayangi provinsi tersebut, termasuk ibukotanya Pekanbaru.
Berdasarkan data GPS Kementerian Kehutanan per Jumat (13/2) pagi, api menyelimuti area sekitar 745,5 hektare, yang mencakup wilayah Kabupaten Kampar, Kota Dumai, Kabupaten Rohil, Kabupaten Bengkalis, dan Kabupaten Pelalawan. Area yang terbakar termasuk hutan produksi, area penggunaan lain (APL), hingga hutan lindung.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera Ferdian Krisnanto menjelaskan, kondisi angin bertiup dari utara ke selatan. "Jadi ada potensi asap dari lokasi-lokasi kebakaran di pesisir menuju Pekanbaru,” kata dia kepada Katadata, pada Jumat (13/2).
Saat ini, pihaknya terus memantau Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kota Pekanbaru. Dia berharap Dinas Kesehatan bisa melakukan upaya-upaya mitigasi untuk meminimalkan dampaknya terhadap warga bila situasi kebakaran dan asap memburuk.
Kementerian Kehutanan, BMKG, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, dan dinas-dinas terkait dilaporkan sudah menggelar rapat untuk memberi rekomendasi penetapan status siaga provinsi kepada Gubernur Riau.
Pelalawan Berstatus Siaga Darurat Karhutla, Bengkalis Menyusul
Ferdian menjelaskan, kebakaran paling luas berada di Pulau Mendol, tepatnya Desa Teluk Beringin, Kabupaten Pelalawan, yakni mencapai 565 hektare. Saat ini, Kabupaten Pelalawan dalam status Siaga Darurat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Kondisi Siaga berarti kondisi rawan, potensi meluas, sehingga butuh mobilisasi sumber daya untuk pemadaman.
Menurut Ferdian, kebakaran di wilayah tersebut dimulai di lahan berstatus APL, namun kemudian merembet ke wilayah lainnya. Indikasinya, pembakaran lahan untuk kebutuhan pertanian dan perkebunan.
“Awalnya ada masyarakat membersihkan lahan dengan membakar sisa-sisa tumpukan atau merun, karena angin kencang (api) jadi tidak terkendali,” ujarnya.
Menurut dia, rata-rata lokasi kebakaran berdekatan maupun di dalam area kebun sawit, milik masyarakat maupun perusahaan. “Ada beberapa yang di kebun dengan sawit-sawit muda, banyak juga di semak belukar yang kemungkinan dibakar untuk pembersihan. Ada juga di perbatasan hutan tanaman industri,” ujarnya.
Setelah Pelalawan berstatus Siaga Darurat Karhutla, selanjutnya akan ada penetapan status yang sama di Bengkalis.
Sebagai informasi, tim pemadam sudah sekitar sebulan menangani api di Provinsi Riau, tepatnya sejak minggu kedua Januari 2026. Upaya pemadaman di sejumlah wilayah terkendala oleh beberapa hal, di antaranya sumber air yang semakin berkurang dan akses jalan yang sulit ditempuh.
Beberapa lokasi kebakaran dilaporkan tak terguyur hujan hampir selama 20 hari. “Ditambah gambut sudah kering dengan tinggi muka air tanah minus hampir 90 sentimeter,” ucapnya.
Tim pemadam juga berhadapan dengan kondisi angin kencang yang sering berubah arah. "Ini meningkatkan potensi bahaya bagi personal Manggala Agni yang berada di kepala api,” ujar Ferdian.
Di beberapa lokasi yang sulit dijangkau, para pemadam memilih bermalam untuk memudahkan upaya pemadaman.
