Konservasi di Lampung: Kelahiran Bayi-bayi dari Harimau yang Nyaris Tewas
Taman Satwa Lembah Hijau di Lampung memiliki penghuni baru. Tiga bulan lalu, dua bayi harimau sumatra lahir dari perkawinan induk yang nyaris tewas oleh pemburu liar.
Ini merupakan kelahiran pertama harimau sumatra secara ex-situ (di luar habitat) di Lampung. Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu-Lampung Agung Nugroho menilai ini sebagai indikator positif keberhasilan pengelolaan konservasi ex-situ.
“Ini sekaligus memperkuat upaya pelestarian spesies yang saat ini menghadapi tekanan populasi di habitat alaminya,” kata Agung, dikutip dari keterangan resmi pada Selasa (5/5).
Bayi-bayi ini lahir dari perkawinan harimau jantan bernama Kyai Batua dengan harimau betina bernama Sinta.
Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu-Lampung dan Tim Reaksi Cepat Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan menyelamatkan Kyai Batua sekitar tujuh tahun lalu atau pada Juli 2019. Harimau jantan itu mengalami luka serius akibat jeratan di kaki kanan bagian depan, sehingga harus menjalani tindakan amputasi.
Sedangkan Sinta diselamatkan di Bengkulu pada Desember 2024 dalam kondisi kaki kanan bagian belakang cedera berat akibat jeratan.
Perkawinan keduanya ini dilaksanakan berdasarkan rekomendasi program Global Species Management Plan (GSMP) fase III dan IV tahun 2024/2025. Persatuan Kebun Binatang Seluruh Indonesia turut dilibatkan pada program ini.
Bagi tim konservasi, kelahiran dua bayi ini juga menjadi bukti bahwa satwa dari hasil penyelamatan tetap berpotensi untuk berkembang biak secara optimal dalam pengelolaan yang tepat.
Bayi Harimau Benggala Langka di Taman Safari Prigen
Taman Safari Indonesia II Prigen di Jawa Timur kedatangan tiga bayi harimau benggala pada Maret lalu. Masuk dalam subspesies yang berbeda dari harimau sumatra, harimau benggala juga menghadapi ancaman kepunahan.
Bayi-bayi ini lahir dari perkawinan induk benggala bernama Anja dan Rinjani. Uniknya, dua anak harimau benggala berwarna oranye lahir pada 1 Maret, dua hari berselang lahir anak harimau benggala berwarna putih yang langka.
Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Satyawan Pudyatmoko mengatakan, kelahiran ini tidak hanya menambah populasi, tapi menandai keberagaman genetik yang sehat dalam pengelolaan konservasi ex-situ.
“Keberhasilan reproduksi ini menunjukkan bahwa konservasi bukan hanya tentang menjaga jumlah populasi, tetapi juga memastikan kualitas genetiknya. Negara mendorong pengelolaan konservasi yang berbasis sains, kolaboratif, dan berkelanjutan,” ujar dia.
Ancaman Kematian di Alam Liar dan Konservasi
Di tengah kabar kelahiran, ancaman terhadap spesies ini belum surut. Dalam beberapa bulan terakhir, terdapat beberapa kabar kematian di alam liar dan konservasi.
Pada akhir April lalu, bangkai seekor harimau sumatra jantan ditemukan dalam kondisi utuh di dalam genangan di Desa Bukit Makmur, Kecamatan Penarik, Kabupaten Mukomuko, Bengkulu. Belum terang penyebab kematian.
Sedangkan akhir Maret lalu, dua anak harimau benggala berusia delapan bulan bernama Hara dan Huru -- koleksi eks Kebun Binatang Bandung -- mati.
Hasil pemeriksaan medis dan nekropsi menyatakan bahwa keduanya mati akibat infeksi Feline Panleukopenia Virus, penyakit sangat menular dengan tingkat kematian tinggi pada satwa famili Felidae, khususnya pada usia muda.
Kesehatan Hara mulai menurun pada 22 Maret, ditandai dengan penurunan aktivitas, muntah, dan diare. Kondisinya semakin parah hingga akhirnya mati pada 24 Maret. Sehari setelah kematian Hara, pemantauan dan penanganan intensif dilakukan pada Huru yang menunjukkan gejala serupa.
Setelah melewati masa kritis dan menunjukan pulih, kondisi kesehatan Huru kembali terpuruk hingga dinyatakan mati pada 26 Maret 2026.
