ASEAN Membara: Kota-kota Besar Bisa "Terpanggang" 85-120 Hari Setahun pada 2050
Kota-kota besar di ASEAN berpotensi mengalami 85-120 hari panas ekstrem dengan temperatur di atas 35°C pada 2050. Ini tiga kali lebih banyak dari tahun lalu 25-45 hari. Ini berdasarkan laporan ASEAN Center for Energy. Meningkatnya jumlah hari dengan suhu ekstrem menghasilkan risiko dan tantangan bagi kesehatan, produktivitas, dan sistem energi.
Di Ibu Kota Thailand, Bangkok, jumlah hari dengan panas ekstrem melebihi 35°C mencapai 45 hari tahun lalu, dan diprediksi mencapai 120 hari pada 2050. Ini seiring temperatur rata-rata tahunan yang diprediksi terus menanjak, dari 34,2°C tahun lalu, kemungkinan menjadi 35,2°C pada 2030, kemudian 36,9°C pada 2040, dan mencapai 38,1°C pada 2050.
Bagaimana dengan Jakarta? Prediksi untuk Jakarta sedikit "mendingan" dibandingkan Bangkok. Jumlah hari dengan panas ekstrem diperkirakan meningkat dari 38 hari tahun lalu menjadi 95 hari tahun 2050. Ini sejalan dengan temperatur rata-rata tahunan yang kemungkinan naik dari 32,8°C tahun lalu, menjadi 34,1°C pada 2030, kemudian menjadi 35,2°C pada 2040, dan mencapai 36,4°C pada 2050.
“ASEAN menghadapi risiko panas yang semakin meningkat akibat urbanisasi yang pesat, perubahan iklim, dan meningkatnya permintaan energi,” demikian dikutip dari laporan ASEAN Center for Energy bertajuk Roadmap for Extreme Heat Protection Through Passive Cooling in ASEAN Region, dikutip Jumat (8/5).
Urbanisasi berkontribusi meningkatkan suhu harian karena menyebabkan kepadatan bangunan, berkurangnya ruang terbuka hijau, serta dominasi penggunaan material aspal dan beton yang mudah menyerap dan menyimpan panas.
Sedangkan kenaikan suhu menyebabkan konsumsi listrik meningkat untuk mesin pendingin ruangan atau air conditioner (AC). Di negara-negara ASEAN yang bergantung besar pada pembangkit energi fosil, kenaikan konsumsi listrik bisa berarti emisi gas rumah kaca yang lebih besar -- situasi yang menambah parah pemanasan global.
Redam Penggunaan AC Boros Energi, ASEAN Sarankan Pendinginan Pasif
ASEAN Center for Energy menyarankan solusi berupa pendinginan pasif dan berbasis alam (passive cooling strategies and nature based solution) untuk menghadapi lonjakan permintaan ‘pendinginan’ di ASEAN. Dengan begitu, mesin pendingin seperti AC baru digunakan saat solusi tersebut sudah tidak membantu mengurangi panas.
Pendinginan pasif dan berbasis alam ini bisa diterapkan dengan berbagai cara. “Dengan memanfaatkan desain bangunan, ventilasi alami, peneduh, insulasi, dan sifat termal dari selubung bangunan,” demikian tertulis dalam laporan.
Laporan tersebut menyebut, dengan menerapkan pendinginan pasif dan solusi berbasis alam, kebutuhan kapasitas pendinginan dengan mesin bisa ditekan hingga 24 persen pada 2050.
“Ini menghemat biaya peralatan hingga US$3 triliun dan memangkas setara 1,3 miliar ton CO2e, sekaligus meningkatkan kesehatan, produktivitas, dan keadilan termal bagi masyarakat yang tidak mampu mengakses sistem pendingin mekanis,” demikian dikutip dari laporan.

