Ironi Dominasi Peneliti Asing dalam Temuan Ribuan Spesies Baru RI
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat terdapat temuan 1.583 spesies baru di Indonesia sepanjang 1967-2025. Namun, peneliti asing disebut masih mendominasi penemuan dan penamaan spesies tersebut.
Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser Sadtata Nur menilai perlunya penguatan eksplorasi biodiversitas oleh peneliti nasional. “Untuk dapat mengelola dengan baik, maka kita perlu mengidentifikasikannya dengan baik,” kata Sadtata dalam acara pengenalan spesies baru, dikutip dari situs BRIN, Selasa (2/6).
Dominasi peneliti asing ini disaksikan Sadtata selama bertahun-tahun terlibat dalam eksplorasi kawasan hutan, termasuk pengalamannya saat menjelajah hutan Maluku Utara. Dia menuturkan, banyak peneliti asing masuk kawasan hutan Indonesia, untuk mengambil spesimen dan mendeskripsikan spesies baru.
Meski begitu, peneliti Indonesia dinilai belum kehilangan kesempatan. Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN Prima W. Hutabarat mengatakan bahwa Indonesia masih menyimpan banyak spesies yang belum teridentifikasi. Salah satunya di kawasan pegunungan Sulawesi Tengah.
Namun, eksplorasi biodiversitas ini menghadapi tantangan besar. “Mulai dari medan yang berat hingga ancaman kerusakan habitat akibat aktivitas manusia,” kata dia.
Begitu terbentuk akses jalan, masyarakat cenderung bergerak cepat membuka perkebunan atau penambangan batu secara masif. Alhasil, eksplorasi biodiversitas terhalang habitat spesies yang akhirnya terlanjur rusak.
“Beberapa habitat spesies baru bahkan hilang akibat dibakar atau diubah sebelum proses penelitian selesai dilakukan,” ucap Prima.
Padahal, spesies baru tak sebatas memiliki nilai ilmiah dan konservasi, serta nilai ekonomi yang besar. Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN Muhammad Rifqi Hariri mengatakan, sejumlah tanaman yang berhasil dideskripsikan banyak diminati pasar internasional.
Tanaman ini laku keras sebagai tanaman hias, paludarium atau membuat ekosistem buatan di wadah transparan, dan aquascape atau seni menghias akuarium.
“Beberapa spesimen sudah banyak dijual di Amerika dan Jepang. Bahkan tanaman berukuran kecil bahkan dapat mencapai sekitar US$20 per pot di pasar internasional,” kata dia.
Namun, dia menegaskan, pemanfaatan ekonomi biodiversitas harus diimbangi upaya konservasi habitat.
