Berburu AC di Benua Dingin: Hanya 20% Rumah di Eropa Memiliki AC
Gelombang panas yang menyapu Eropa menyebabkan rekor suhu ekstrem dan lonjakan pembelian pendingin ruangan (air conditioner/AC). Beberapa hari terakhir, video yang memperlihatkan warga berebut membeli AC di sebuah toko di Prancis viral di media sosial. Di berbagai negara, produsen dan penjual elektronik juga melaporkan lonjakan permintaan seiring suhu yang semakin “membakar”.
Meski kawasan negara maju, Eropa punya tingkat kepemilikan AC yang terbilang rendah. Data International Energy Agency (IEA) menunjukkan hanya sekitar 20 persen rumah tangga di Eropa yang memiliki AC. Sebagai perbandingan, persentasenya sekitar 90 persen di Amerika Serikat dan Jepang.
Ada alasan mengapa orang Eropa tidak terlalu akrab dengan AC. Selama berabad-abad, masalah di Eropa dingin bukan panas. Musim panas memang datang setiap tahun, tapi dulu suhunya relatif masih bisa ditoleransi. Alhasil, rumah-rumah lebih banyak dirancang untuk menjaga kehangatan di musim dingin, bukan membuang panas saat musim panas.
Namun, situasi berubah cepat dalam beberapa tahun terakhir. Menurut World Meteorological Organization (WMO), Eropa merupakan benua dengan laju pemanasan tercepat di dunia. Gelombang panas kini datang lebih sering, berlangsung lebih lama, dan mencapai suhu yang semakin ekstrem. Seiring perubahan ini, penjualan AC pun melonjak.
Reuters melaporkan penjualan AC secara online di Jerman meningkat sekitar 37 persen pada Mei dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Samsung juga mencatat penjualan AC naik dua digit di Italia, Prancis, dan Spanyol. Bahkan, beberapa model AC portabel dilaporkan habis terjual di sejumlah negara Eropa.
Mengapa Orang Eropa Jarang Menggunakan AC? Desain Bangunan hingga Biaya
Di kawasan Mediterania Eropa, seperti Spanyol, Italia, dan Yunani, banyak rumah sejak lama dirancang untuk menghadapi musim panas. Dinding dibuat tebal, jendela berukuran kecil, dan ventilasi alami dimaksimalkan untuk mengurangi panas matahari. Desain seperti ini membantu menjaga suhu ruangan tetap sejuk tanpa banyak bergantung pada pendingin udara.
Sebaliknya, di sebagian besar wilayah Prancis, Inggris, Belanda, Jerman, dan Belgia, rumah-rumah lebih banyak dibangun untuk menghadapi musim dingin. Banyak bangunan tua dirancang untuk menyimpan hangat sehingga ketika gelombang panas datang, suhu di dalam rumah tetap tinggi bahkan setelah matahari terbenam.
"Kami belum terbiasa memikirkan bagaimana tetap sejuk selama musim panas. Ini benar-benar merupakan fenomena yang relatif baru," kata Kepala Kantor Efisiensi Energi dan Transisi Inklusif IEA, Margaret Motherway, seperti dikutip CNN.
Penggunaan AC di bangunan Eropa menjadi tantangan tersendiri. Pasalnya, banyak bangunan di Eropa adalah bangunan lama. Di Inggris, yang baru saja mengalami bulan Juni terpanas sepanjang sejarah pencatatan, sekitar satu dari enam rumah dibangun sebelum tahun 1900.
Menurut Margaret, rumah-rumah tua tersebut lebih sulit dipasangi sistem pendingin sentral, meski bukan berarti tidak memungkinkan.
Tantangan lainnya adalah biaya. Biaya membeli dan memasang AC di Eropa relatif mahal, begitu juga tarif listrik. Ini yang menyebabkan banyaknya warga yang selama ini lebih memilih mengandalkan kipas angin, membuka jendela, menutup tirai, atau mandi air dingin saat cuaca panas.
Dilema Baru: Lonjakan AC dan “Lingkaran Setan” Pemanasan Kota
Risiko lonjakan penggunaan AC menjadi masalah baru bagi Eropa. Pasalnya, pendingin ruangan merupakan salah satu peralatan rumah tangga dengan konsumsi listrik paling besar. Ini artinya, ada risiko beban puncak sistem kelistrikan melonjak di musim panas karena AC, bukan hanya di musim dingin karena penghangat ruangan.
Sedangkan AC membuang panas ke lingkungan sekitar sehingga penggunaannya secara masif bisa menyebabkan kota semakin panas. Sebuah studi yang dikutip CNN menunjukkan penggunaan AC secara masif di Paris dapat meningkatkan suhu udara luar sekitar 2 hingga 4 derajat Celsius, terutama di kawasan perkotaan yang padat bangunan. Kondisi ini dapat memperkuat efek pulau panas perkotaan (urban heat island), sehingga kota menjadi semakin panas dan kebutuhan akan AC kembali meningkat.
Beberapa negara dilaporkan memilih membatasi penggunaan pendingin ruangan. Pada 2022, Spanyol menetapkan aturan agar suhu AC di ruang publik tidak disetel lebih rendah dari 27 derajat Celsius sebagai bagian dari kebijakan penghematan energi.
Situasi saat ini juga memunculkan tantangan baru bagi target pengendalian emisi Eropa: netral emisi atau net zero 2025.

