Dunia Kepanasan, Demam AC, dan Lingkaran Setan Pemanasan Global
Demam pendingin ruangan (air conditioning/AC) di Eropa kemungkinan baru permulaan. Ledakan permintaan diperkirakan akan terjadi di Asia Tenggara, Afrika, Amerika Latin, dan Asia Selatan. Ini wilayah yang sejak lama bergulat dengan suhu tinggi, tetapi tingkat kepemilikan AC masih rendah.
AC telah menjadi penyelamat di era suhu panas yang semakin berbahaya. Berdasarkan laporan The Lancet Countdown on Health and Climate Change: Code Red for a Healthy Future, penggunaan AC diperkirakan membantu mencegah sekitar 190.000 kematian akibat panas setiap tahun pada periode 2019-2021.
Namun, solusi ini juga membawa konsekuensi besar bagi iklim, terutama jika pertumbuhan penggunaan AC didominasi unit-unit murah yang boros listrik dan masih menggunakan refrigeran beremisi tinggi.
Kondisi ini berisiko menciptakan lingkaran setan iklim: bumi yang semakin panas mendorong lebih banyak orang membeli AC, sementara penggunaan AC ikut menambah emisi yang membuat suhu bumi terus meningkat.
Salah satu sumber emisi terbesar berasal dari refrigeran jenis hydrofluorocarbon (HFC). Ketika bocor ke atmosfer, senyawa ini mampu memerangkap panas 150 hingga 5.000 kali lebih kuat dibandingkan karbon dioksida (CO2).
Miliaran Calon Pengguna AC Baru, Miliaran Ton Emisi
Data International Energy Agency (IEA) menunjukkan, saat ini baru sekitar 15 persen dari 3,5 miliar penduduk yang tinggal di wilayah beriklim sangat panas memiliki pendingin ruangan. Artinya, miliaran calon pengguna AC masih akan memasuki pasar dalam beberapa dekade mendatang.
Kesenjangan itu terlihat jelas di negara berkembang. Kepemilikan AC baru sekitar 5 persen rumah tangga di Afrika Sub-Sahara, sekitar 24 persen di India, kurang dari 20 persen di Indonesia, serta sekitar 30 persen di Brasil dan Meksiko.
Seiring meningkatnya suhu dan pendapatan masyarakat, kepemilikan AC diperkirakan melonjak tajam. Namun, rumah tangga berpenghasilan rendah umumnya lebih memilih unit yang harganya paling terjangkau daripada yang paling efisien.
Pasalnya, AC hemat energi biasanya dijual lebih mahal, sedangkan penghematan tagihan listrik baru dirasakan dalam jangka panjang. Akibatnya, produsen juga masih membanjiri pasar dengan unit murah yang boros listrik dan menggunakan refrigeran berpotensi emisi tinggi karena permintaannya tetap besar.
Jika tren ini terus berlanjut, permintaan listrik untuk pendinginan diproyeksikan meningkat hingga tiga kali lipat pada 2050, menurut IEA. Emisi gas rumah kaca dari sektor pendinginan pun diperkirakan melonjak menjadi sekitar 7,2 miliar ton CO2.
Otoritas negara-negara sebetulnya telah lama mewaspadai risiko "lingkaran setan" dari pemanasan global dan pendingin ruangan. Melalui Amandemen Kigali terhadap Protokol Montreal, lebih dari 150 negara telah berkomitmen mengurangi produksi dan konsumsi HFC lebih dari 80 persen hingga 2047. Sejumlah negara juga mulai menerapkan Minimum Energy Performance Standards (MEPS) agar hanya pendingin ruangan dengan tingkat efisiensi tertentu yang boleh dipasarkan.
Meski begitu, berbagai lembaga internasional menilai langkah tersebut belum cukup. Tanpa percepatan penggunaan refrigeran alternatif, standar efisiensi yang lebih ketat, serta pasokan listrik yang semakin bersih, ledakan penggunaan pendingin ruangan berisiko menjadi salah satu sumber pertumbuhan emisi terbesar dalam beberapa dekade mendatang.

