Babak Baru Kebakaran Hutan: Kepungan Asap Tumbangkan Orangutan di Kalimantan

Ajeng Dwita Ayuningtyas
31 Agustus 2026, 08:40
orangutan, kalimantan, kebakaran hutan
ANTARA FOTO/Umarul Faruq/hp.
Petugas menggendong bayi Orangutan Kalimantan subspecies wurmbii (Ponggo Pygmaeus Wurmbii) berada dalam kandangnya di kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jatim, Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur, Kamis (21/9/2023).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus menumbangkan satwa liar. Satu individu orangutan ditemukan terkapar di tengah perkebunan kelapa sawit dekat area karhutla di Ketapang, Kalimantan Barat, pada Minggu (30/8) pagi, akibat paparan asap karhutla yang memenuhi habitatnya.

Orangutan itu diberi nama Sampurna, seperti nama desa tempat dia ditemukan. Mengutip Reuters, Sampurna ditemukan oleh petani bernama Jais, yang berencana pergi ke kebunnya pagi itu. Jais mendadak terhenti karena menemukan Sampurna dalam keadaan lemah di tanah. 

“Satwa itu sangat lemah, lalu saya memberinya air,” kata Jais, dikutip dari Reuters pada Senin (31/8). 

Jais bersama warga lainnya kemudian segera meminta bantuan. Dua jam berselang, yayasan pelestarian alam Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) datang bersama dokter hewan untuk memberikan pertolongan. Saat itu, Sampurna sudah pingsan. 

CEO YIARI Karmele Llano Sanchez mengatakan, Sampurna pingsan karena kekurangan oksigen. “Orangutan itu mengalami hipoksia karena asap yang sangat tebal di daerah tersebut,” ujar dia.  Sampurna adalah orangutan ketujuh yang diselamatkan oleh YIARI akibat karhutla sejauh ini.

Sampurna tidak mengalami luka bakar yang parah. Tapi, dia kesulitan bernapas dan muntah-muntah. Dugaan awal, orangutan berusia sekitar 20 tahun itu mengalami infeksi pernapasan akut. 

“Kami menduga dia menderita infeksi pernapasan akut,” kata Komara, dokter hewan yang menangani Sampurna. 

Sampurna diberi pertolongan pertama di lokasi kejadian dengan bantuan oksigen, juga infus. Komara mengatakan, Sampurna akan dibawa ke pusat rehabilitasi untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Satwa dilindungi ini baru kembali dilepaskan ke habitatnya setelah pulih. 

Namun, Sampurna dan enam orangutan lainnya baru segelintir korban. Sebelumnya, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Balai Taman Nasional Gunung Palung dan YIARI, juga masyarakat setempat, mengevakuasi satu orangutan betina dan dua anaknya dari perkebunan warga di Desa Tanjungpura, Ketapang. 

Ketiga orangutan ini lari ke perkebunan warga karena habitatnya kebakaran. Setelah dibius, diamankan, dan dicek kesehatannya, ketiganya dipindahkan ke Taman Nasional Gunung Palung. 

Tak jauh berselang dari momen tersebut, tim pemadam kebakaran Manggala Agni Ketapang juga menemukan ular dan trenggiling yang mati terpanggang akibat karhutla. 

Ancaman di Tengah Habitat Orangutan

Beberapa waktu lalu, api karhutla sempat mendekati pusat rehabilitasi YIARI di Ketapang. Api dilaporkan hanya berjarak 100 meter dari fasilitas rehabilitasi yang mestinya aman bagi orangutan. 

“Tim YIARI telah berupaya memadamkan api sepanjang malam, bekerja hingga sekitar pukul 03.00 dini hari. Pada satu titik, kobaran api bahkan mendekati pusat rehabilitasi orang utan hingga berjarak kurang dari 100 meter,” demikian dikutip dari Instagram @international_animal_rescue, Kamis (13/8). 

Dua pekan kemudian, YIARI mengonfirmasikan bahwa api di sekitar pusat rehabilitasi sudah bisa dikendalikan. 

“Meski begitu, upaya di lapangan masih terus berjalan. Tim kini fokus melakukan pendinginan melalui watering dan patroli rutin untuk mencegah munculnya titik api dan kebakaran susulan,” tulis YIARI dalam unggahan resmi Instagramnya.

Memori Kelam di Dunia Konservasi

Karhutla juga menjadi memori kelam dalam arsip lembaga konservasi lainnya. Bagi Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation, karhutla kali ini mengingatkan pengalaman di tahun super El Nino 2015-2016.

Ketika itu, karhutla menghancurkan 266 hektare area reforestasi di pusat rehabilitasi orangutan Kalimantan Samboja Lestari, Kalimantan Timur. Di bentang alam Mawas, Kalimantan Tengah, sekitar 15.442 hektare habitat alami orangutan Kalimantan turut rusak.

CEO BOS Foundation Jamartin Sihite mengatakan dampak kebakaran besar dirasakan di hampir seluruh aspek konservasi.  “Mulai dari hilangnya habitat, meningkatnya jumlah orangutan yang harus diselamatkan, hingga terganggunya operasional rehabilitasi,” kata Jamartin, dikutip dari laman resmi BOS Foundation.

Masalahnya tak berhenti ketika api padam karena pemulihan ekosistem membutuhkan waktu panjang. Kebakaran menghilangkan sumber pakan orangutan dan mendorong satwa tersebut keluar dari habitatnya, bahkan mendekati wilayah yang dihuni atau digunakan manusia. 

Di titik ini, ancaman lain muncul: konflik antara manusia dan orangutan.

Pada 2015, api juga sempat mendekati pusat rehabilitasi orangutan di Kalimantan Tengah. Api berhasil dikendalikan, tetapi asap membuat BOS Foundation harus tetap beroperasi di tengah kualitas udara berbahaya selama lebih dari dua bulan. 

Arsip BOS Foundation mencatat puluhan orangutan diselamatkan dari habitat yang rusak atau terbakar. Sebanyak 76 individu di antaranya berasal dari kawasan konservasi Mangkutub, Kalimantan Tengah. 

“Ini merupakan salah satu operasi penyelamatan orangutan terbesar yang pernah dilakukan oleh BOS Foundation,” demikian dikutip dari laman resminya. 

Penyelamatan orangutan dari lokasi kebakaran bukan perkara sederhana. Pemindahan satwa dalam kondisi darurat tetap harus mempertimbangkan daya dukung habitat baru, potensi kompetisi, kemampuan adaptasi, hingga peluang keberhasilan dalam jangka panjang.

Indonesia merupakan rumah bagi tiga spesies orangutan yang berstatus critically endangered atau kritis terancam punah. Ketiganya hanya ditemukan di Indonesia: orangutan Sumatra di Pulau Sumatra, orangutan Tapanuli di ekosistem Batang Toru, dan orangutan Kalimantan di Pulau Kalimantan. 

Setelah orangutan Sumatra dan Tapanuli terdampak banjir bandang pada akhir tahun lalu, kini keduanya menghadapi ancaman api bersama orangutan Kalimantan. 

Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan, karhutla telah menghanguskan lebih dari 200 ribu hektare lahan di Indonesia sepanjang Januari-Juli 2026. Kalimantan Barat menjadi provinsi dengan luasan kebakaran terbesar, mencapai 38,3 ribu hektare. 

Kebakaran juga tercatat di Kalimantan Selatan sekitar 8 ribu hektare, Kalimantan Tengah 7,6 ribu hektare, Kalimantan Timur 2,7 ribu hektare, dan Kalimantan Utara sekitar 400 hektare.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...