Target 5 Juta Pekerja Hijau, Kemnaker Bakal Tambah Belasan Balai Latihan Kerja
Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) berencana menambah 17 balai latihan kerja (BLK), sebagian akan menjadi pusat pelatihan keterampilan untuk pekerjaan di sektor ekonomi hijau alias green jobs.
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengatakan dari total 34 BLK yang dimiliki pemerintah sejauh ini, baru ada satu balai yang secara khusus memiliki kejuruan green skills, yakni di Serang. "Kami akan terus perbanyak,” kata dia dalam sambutannya di Indonesia’s Green Jobs Conference 2026, Rabu (2/9).
Menurut dia, pengembangan keterampilan hijau diperlukan untuk menyiapkan tenaga kerja baru sekaligus membantu pekerja yang sudah ada beradaptasi dengan perubahan kebutuhan industri akibat transisi energi.
Kebutuhan tersebut antara lain muncul di industri panel surya, turbin angin, dan baterai penyimpanan energi.
Namun, transisi menuju energi bersih tidak hanya menciptakan pekerjaan baru. Perubahan teknologi dan struktur industri juga dapat mengurangi kebutuhan terhadap sejumlah pekerjaan di sektor energi fosil.
Karena itu, BLK juga akan digunakan untuk membantu pekerja dari sektor yang terdampak agar dapat beralih ke pekerjaan yang membutuhkan keterampilan baru.
Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, pemerintah menargetkan proporsi tenaga kerja hijau mencapai 2,96-3,14 persen dari total tenaga kerja pada 2029. Target tersebut setara dengan sekitar 5 juta tenaga kerja.
Pelatihan Sesuai Kebutuhan Industri di Dalam dan Luar Negeri
Yassierli mengatakan sejumlah wilayah seperti Kalimantan, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi dinilai memiliki potensi besar green jobs. Namun, ketersediaan tenaga kerja yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri masih terbatas.
Karena itu, pemerintah akan mengembangkan pelatihan berdasarkan kebutuhan industri dan lokasi pengembangan sektor hijau. “Jadi demand driven, baru-lah nanti pelatihannya terintegrasi,” ujarnya.
Artinya, pemerintah akan terlebih dulu memetakan kebutuhan industri. Setelah itu, peserta mendapat pelatihan teknis dasar di BLK dan dilanjutkan dengan pelatihan teknis di industri. Setelah kompetensinya terbentuk, pekerja akan menjalani sertifikasi dan kemudian ditempatkan.
“Sekian banyak proyeksi skills hijau, harus dijawab dengan skema kompetensi dan skema sertifikasi. Ini harus kami lengkapi terus,” kata Yassierli.
Selain memenuhi kebutuhan tenaga kerja di dalam negeri, pemerintah membuka peluang untuk menyiapkan tenaga kerja dengan kompetensi yang dibutuhkan pasar kerja luar negeri.
