Karhutla dan Tekanan Jangka Panjang di Kantong-Kantong Gajah Sumatra

Ajeng Dwita Ayuningtyas
23 September 2026, 13:20
Dua ekor gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) mencari makan di dekat lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pusat Konservasi Gajah (PKG) Jalur 21 Padang Sugihan, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, Kamis (17/9/2026).
ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/kye
Dua ekor gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) mencari makan di dekat lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pusat Konservasi Gajah (PKG) Jalur 21 Padang Sugihan, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, Kamis (17/9/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kantong-kantong habitat gajah sumatra menghadapi tekanan berat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Di Sumatra Selatan, salah satu episentrum karhutla tahun ini, api bahkan melanda Suaka Margasatwa Padang Sugihan yang menjadi habitat sekaligus lokasi konservasi gajah.

Karhutla yang melanda suaka margasatwa tersebut sejak akhir Agustus telah menghanguskan setidaknya 2.300 hektare lahan. Kementerian Kehutanan menyebut 29 ekor gajah sumatra binaan di kawasan tersebut, tepatnya di Pusat Konservasi Gajah (PKG) Jalur 21, masih dalam kondisi sehat.

“Di PKG Jalur 21 terdapat 29 gajah binaan dan hasil pemantauan menunjukkan seluruhnya masih dalam kondisi baik dan belum mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap karhutla,” tulis Kementerian Kehutanan dalam laman resminya, dikutip pada Rabu (23/9).

Namun, Kementerian Kehutanan mengungkapkan bahwa kebakaran berpotensi menimbulkan dampak berantai terhadap ekosistem dan populasi gajah. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni telah mengunjungi lokasi guna melihat langsung situasinya pada pekan lalu. 

Berdasarkan hasil pemantauan organisasi pengkampanye dan konservasi lingkungan Geopix, kantong gajah sumatra di Padang Sugihan-Lebong Hitam-Simpang Heran menjadi zona kritis karhutla, dengan akumulasi titik panas paling tinggi di antara kantong gajah lainnya. 

Sepanjang Juni hingga 8 September 2026, terdeteksi 2.542 titik panas di lokasi tersebut, paling banyak terdeteksi di September yaitu 1.547 titik. 

Secara demografi, kantong habitat tersebut menampung populasi gajah tergolong besar, yaitu pada rentang 101-200 individu dalam luas wilayah kurang lebih 600 ribu hektare. Selain gajah binaan, gajah liar juga hidup di habitat ini.

Padang Sugihan-Lebong Hitam-Simpang Heran adalah satu dari 21 kantong gajah sumatra yang tersisa. Menurut pengamatan Geopix, total titik panas yang terdeteksi di seluruh kantong gajah pada periode Juni-awal September telah mencapai 4.595 titik. Atau, 12,08 persen dari total 38 ribu titik panas di Sumatra.

Senior Wildlife Campaigner Geopix Annisa Rahmawati mengatakan, karhutla bukan hanya persoalan kehilangan hutan atau asap yang memenuhi udara. 

“Di balik itu semua ada masyarakat yang sesak dan ada satwa liar seperti gajah sumatra yang terancam, semakin menderita dan kehilangan tempat untuk bertahan hidup,” ujar dia, dikutip dari keterangan resmi.

Risiko tinggi karhutla juga dilaporkan terpantau di kantong habitat Bukit 30 Tebo Sarangge Tanjung Jabung Barat di Jambi (606 titik panas), Lalan-Sembilang di Sumatra Selatan (489 titik panas) dan Benakat Semangus di Sumatra Selatan (300 titik panas). 

Kualitas Udara Buruk, Krisis Pangan, hingga Berubahnya Habitat Gajah 

Gajah sumatra menghadapi tantangan hidup berat di tengah karhutla dan kemarau, dari terpaksa menghirup udara tak sehat hingga kesulitan mendapatkan makan dan minum.

Dari pantauan Geopix, kualitas udara di kantong habitat Padang Sugihan-Lebong Hitam-Simpang Heran sempat berada di level sedang hingga tidak sehat. Sedangkan di kantong habitat Bukit 30 Tebo Serangge mencapai level sangat tidak sehat. 

Kondisi ini disebut memberikan tekanan fisiologis bagi gajah, mamalia besar yang memiliki sistem pernapasan dan kebutuhan ventilasi tinggi. “Gajah menghirup udara dalam jumlah besar setiap kali bernapas, sehingga kualitas udara di habitatnya menjadi faktor penting bagi kondisi fisiologisnya,” demikian dikutip dari laporan Geopix.

Kondisi fisiologis dan kesehatan gajah juga tertekan karena semakin sulit mendapatkan air dan pakan. Gajah sumatra membutuhkan sekitar 50-160 liter air per hari. Dalam kondisi panas atau aktivitas fisik tinggi, kebutuhannya bisa meningkat.

“Pada musim kemarau, bahkan diketahui dapat menggali dasar sungai yang mengering untuk memeroleh air. Karena itu, dampak kebakaran terhadap gajah perlu dilihat secara lebih luas,” demikian tertulis. 

Karhutla juga menyebabkan habitat gajah semakin terdegradasi dan terfragmentasi. Kondisi ini berpotensi mengubah penggunaan ruang dan pola pergerakan gajah, sekaligus mendorongnya keluar dari habitat alami sehingga meningkatkan peluang terjadinya konflik dengan manusia.

Sebuah studi di Taman Nasional Way Kambas menyebutkan, gajah sumatra cenderung menghindari area terbakar, lalu kembali ke area tersebut sekitar 0-90 hari setelahnya. Gajah akan memanfaatkan vegetasi muda yang tumbuh usai kebakaran. 

Tekanan hidup ini tidak hanya mengancam gajah, tapi juga satwa liar lainnya. “Harus ada sinergitas kebijakan-kebijakan lintas sektor yang mempertimbangkan perlindungan dan pemulihan habitat satwa liar yang hilang dan risiko-risiko ikutan lainnya akibat karhutla ini,” ujar Annisa.

Geopix mendesak pengetatan penegakan hukum terhadap pelaku kejahatan, yang mencakup pertanggungjawaban hukum, penguatan pengenaan pidana, kewajiban pemulihan ekosistem, serta penggantian kerugian ekologis maupun sosial yang terjadi. 

Selain itu, Geopix mendorong evaluasi atas kegiatan perhutanan sosial dan program kemitraan kehutanan di kawasan-kawasan hutan yang beririsan dengan habitat gajah sumatra.

Organisasi ini menekankan program pemberdayaan masyarakat tidak boleh digunakan untuk membuka ruang ekspansi tanaman monokultur maupun mengubah bentang alam yang berisiko meningkatkan konflik satwa-manusia.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...