SOS: Tempat Rawat Orangutan Korban Karhutla di Kalimantan Barat Hampir Penuh

Ajeng Dwita Ayuningtyas
28 September 2026, 18:18
Tim medis Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) memeriksa induk dan anak orangutan yang terjebak di area perkebunan kelapa sawit di Desa Pelang, Ketapang, Kalimantan Barat, Jumat (18/9/2026). Orangutan memasuki area perkebunan dan pemukiman
ANTARA FOTO/HO/YIARI/Heribertus Suciadi/jhw/YU
Tim medis Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) memeriksa induk dan anak orangutan yang terjebak di area perkebunan kelapa sawit di Desa Pelang, Ketapang, Kalimantan Barat, Jumat (18/9/2026). Orangutan memasuki area perkebunan dan pemukiman seiring karhutla dan asap.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Tempat perawatan orangutan terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di ambang kelebihan kapasitas. Di pusat rehabilitasi Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) di Kalimantan Barat, sebanyak 28 dari 35 orangutan hasil evakuasi masih menjalani perawatan dan pemulihan.

Senior Manager Media dan Komunikasi YIARI Heribertus Suciadi mengatakan baru tujuh orangutan yang telah dilepaskan kembali ke alam liar sejak evakuasi dimulai pada awal Agustus. Sisanya masih harus menjalani perawatan karena mengalami luka bakar cukup parah, anemia berat, dehidrasi, atau malnutrisi.

“Tantangannya, kami sudah mulai kehabisan area untuk perawatan mereka,” kata Heribertus kepada Katadata, Senin (28/9). Sedangkan, karhutla belum menunjukkan tanda-tanda segera berhenti dan hutan yang hangus terus meluas. 

Dengan situasi ini, masih terbuka kemungkinan bertambahnya orangutan yang perlu dievakuasi. “Karena meskipun hujan, tapi kalau habitatnya sudah rusak, tetap orangutan ada kemungkinan turun ke kampung, ke kebun warga, segala macam,” ujar dia.

Berdasarkan pengalaman YIARI saat karhutla besar pada 2015 dan 2019, proses evakuasi orangutan masih berlangsung hingga beberapa bulan setelah kebakaran.

Selain keterbatasan ruang perawatan, YIARI juga menghadapi kekurangan dokter hewan. Setelah bekerja dengan tujuh dokter hewan, YIARI membuka kesempatan bagi relawan dan kini mendapat tambahan tiga dokter hewan.

Di tengah keterbatasan tersebut, tim YIARI tetap melakukan patroli bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat dan masyarakat lokal untuk menyelamatkan satwa yang terdampak karhutla.

Selain orangutan, YIARI telah mengevakuasi 12 satwa liar lainnya, antara lain trenggiling, bekantan, lutung kelabu, kukang kalimantan, dan musang tenggalung.

Tak Mudah Mencari Rumah Baru

Tantangan lainnya yang dihadapi tim penyelamat di lapangan adalah mencari lokasi hutan yang aman sebagai habitat baru untuk pelepasliaran.

Heribertus mengatakan pelepasliaran membutuhkan habitat yang layak. Namun, di tengah karhutla yang masih berlangsung, habitat semacam itu semakin sulit ditemukan.

Habitat yang layak harus memiliki sumber pakan yang melimpah, area yang cukup luas, serta kepadatan orangutan yang belum terlalu tinggi. Kawasan tersebut juga harus terhindar dari tekanan manusia, seperti perburuan, penebangan liar, dan aktivitas ekstraktif.

“Kami punya tim biodiversity yang menilai kelayakan suatu habitat dan tim survey release monitoring, dua tim ini sedang bekerja untuk melihat opsi hutan mana yang cocok untuk dijadikan tempat pelepasan,” ujar dia.

Tujuh orangutan yang telah pulih sebelumnya dilepaskan di Taman Nasional Gunung Palung, Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, dan Hutan Lindung Gunung Tarak, yang merupakan area penyangga Taman Nasional Gunung Palung.

“Karena saat ini beberapa masih terancam kebakaran, terutama di tepi-tepian kawasan, jadi masih belum bisa kami lepas,” ucap dia.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...