ASDP Ferry Pangkas Belanja Modal hingga 30% Karena Pandemi Corona

Penumpang ASDP turun drastis selama pandemi corona. Hal itu pun membuat perusahaan memangkas capex hingga 30% pada tahun ini.
Image title
14 Mei 2020, 20:01
pelabuhan, bumn, pandemi corona, virus corona, covid-19
ANTARA FOTO/Kornelis Kaha
Ilustrasi, kapal Ferry milik PT ASDP Indonesia Ferry berlabuh di pelabuhan Bolok, Kupang, NTT Senin (13/1/2020). ASDP terpaksa memangkas capex hingga 30% karena terjadi penurunan penumpang selama pandemi corona.

PT ASDP Ferry Indonesia (Persero) harus memangkas anggaran belanja modal alias capital expenditure (capex) hingga 30% pada tahun ini. Sebab, bisnis BUMN itu lesu akibat penyebaran Covid-19.

Direktur Utama ASDP Ira Puspadewi mengatakan perusahaan awalnya menganggarkan capex tahun ini sebesar Rp 1,4 triliun. "Karena dipotong, menjadi Rp 900 miliar," kata Ira dalam konferensi pers secara virtual, Kamis (14/5).

Salah satu biaya yang harus dipangkas yaitu biaya perawatan yang bersifat estetika atau keindahan. Hal itu tidak akan mempengaruhi fungsional serta keselamatan dan keamanan penumpang.

Meski begitu, ada beberapa investasi yang tidak bisa dipotong. Sebab, biaya tersebut menyangkut keselamatan dan mandatory atau peraturan.

Advertisement

Selain itu, perusahaan tidak memangkas biaya untuk ekspansi di dalam negeri. Seperti rencana pengembangan pelabuhan di Labuan Bajo.

(Baca: ASDP Ferry Prediksi Jumlah Penumpang Lebaran Tahun ini Turun Drastis)

Seperti diketahui, ASDP mencatat adanya penurunan penumpang cukup drastis sejak Maret 2020 hingga 12 Mei 2020 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan terjadi di beberapa pelabuhan penyeberangan utama seperti Merak, Bakauheni, Ketapang, Lembar, Batam, Bitung, dan Kayangan,

Total penumpang pada periode Maret-12 Mei 2020 hanya mencapai 4,48 juta orang, turun hingga 39% dibanding periode yang sama tahun lalu sebanyak 7,31 juta orang. Total kendaraan pada periode tersebut sebanyak 1,35 juta unit, turun 27% secara tahunan dari 1,84 juta unit.

Penurunan kendaraan tersebar berasal dari kendaraan roda empat penumpang pribadi. Pada periode tersebut, roda empat pribadi hanya mencapai 220 ribu unit, turun 44% secara tahunan dari 395 ribu. Sedangkan kendaraan barang, sebanyak 783 ribu unit, turun 8% secara tahunan dari 853 ribu unit.

Ira mengatakan, secara signifikan seluruh sektor penyeberangan memang mengalami penurunan signifikan, kecuali logistik yang turun hanya 8%. Hal itu dipengaruhi kegiatan produksi dan manufaktur yang terhenti karena konsumsi masyarakat berkurang.

Untuk itu, selama pandemi masih ada di Indonesia, ASDP mengaku bakal fokus melayani angkutan logistik. Apalagi adanya penghentian sementara operasional penyeberangan penumpang.

"Hal ini agar layanan logistik tetap berjalan lancar sehingga pasokan kebutuhan pokok ke seluruh Indonesia tetap terjaga," kata Ira.

(Baca: ASDP Ferry Berpotensi Rugi Rp 478 Miliar Imbas Pandemi Corona)

Reporter: Ihya Ulum Aldin
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait