Anies Kembali Perpanjang PSBB Transisi Hingga 10 September 2020

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memperpanjang PSBB karena tingginya kasus Covid-19 di ibu kota.
Image title
28 Agustus 2020, 08:36
anies baswedan, jakarta, psbb, covid-19, corona
instagram.com/@aniesbaswedan
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memperpanjang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di ibu kota karena tingginya kasus Covid-19.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta kembali memperpanjang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi fase pertama hingga 10 September 2020. Perpanjangan kelima kalinya itu terpaksa diambil karena tingginya penyebaran Covid-19 di Ibu Kota.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan kebijakan tersebut akan dimulai pada Jumat (28/8). Untuk menekan angka penyebaran virus, seluruh warga diminta untuk lebih disiplin menerapkan protokol kesehatan dalam beraktivitas.

"Teman-teman tetap semangat, saling mengingatkan dan menjalankan ketentuan PSBB transisi ini," kata Anies melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, dikutip Kamis (27/8) malam.

Selama vaksin belum ditemukan, lanjut Anies, obat yang paling efektif menekan angka penyebaran virus yakni kedisiplinan masyarakat menerapkan protokol kesehatan. Adapun ketentuan wajib yang harus dilaksanakan masyarakat setiap hari yakni memakai masker, menjaga jarak satu hingga dua meter, serta mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.

Advertisement

Jika tak ada kepentingan mendesak, semua orang tak diperkenankan meninggalkan rumah. "Kita harus lebih serius memastikan protokol kesehatan dijalankan dengan ketat," kata dia.

 

Adapun jumlah kasus Covid-19 di Jakarta terus meningkat. Terdapat penambahan kasus baru sebanyak 820 orang pada Kamis (28/8).

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Dwi Oktavia memaparkan angka tersebut merupakan hasil tes Polymerase Chain Reaction (PCR) dari 8.587 spesimen.  Dari jumlah tes tersebut, sebanyak 7.127 orang dites PCR pada hari kemarin untuk mendiagnosis kasus baru dengan hasil 820 positif dan 6.307 negatif.

"Dari kasus positif tersebut, 250 kasus baru merupakan akumulasi data dari hari sebelumnya yang baru dilaporkan," kata dia.

Untuk rate tes PCR total per 1 juta penduduk sebanyak 56.246. Jumlah orang yang dites PCR sepekan terakhir sebanyak 43.270. Sedangkan jumlah kasus aktif di Jakarta sampai saat ini sebanyak 7.027 orang yang masih dirawat atau menjalani isolasi.

Sedangkan jumlah kasus konfirmasi secara total di Jakarta sampai hari ini sebanyak 36.462 kasus. Dari jumlah tersebut, 28.288 orang dinyatakan telah sembuh dengan tingkat kesembuhan 77,6%, dan 1.147 orang meninggal dunia dengan tingkat kematian 3,1%. Sedangkan tingkat kematian Indonesia sebesar 4,3%. 

Untuk positivity rate atau persentase kasus positif sepekan terakhir di Jakarta sebesar 9,9%, sedangkan persentase kasus positif secara total sebesar 6,1%. WHO juga menetapkan standar persentase kasus positif tidak lebih dari 5%.

Sebelumnya, Pakar epidemiologi Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono memperkirakan pemerintah akan sulit memasuki PSBB fase transisi kedua lantaran penyebaran virus corona yang masih tinggi. Dia menyebutkan sulitnya menekan angka penyebaran corona di Ibu Kota terjadi karena tidak padunya kebijakan yang diambil Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan wilayah-wilayah penyangga.

Hal itu menyebabkan mobilitas masyarakat masih tinggi yang berjalan beriringan dengan tingginya kasus penyebaran virus. "Mungkin koordinasinya tidak efektif kalau kebijakan ini tidak dikontrol secara langsung oleh pemerintah pusat," kata Pandu kepada Katadata.co.id, Rabu (26/8).

Sulitnya menekan angka penyebaran virus di ibu kota terjadi karena kebijakan yang diambil masing-masing daerah selalu berbeda. Seharusnya pemerintah pusat bisa mengambil alih komando daerah untuk menentukan kebijakan terkait dengan penanganan wabah.

Apabila Pemprov DKI memilih untuk kembali memperpanjang kebijakan PSBB transisi fase pertama, Pandu meminta agar kemampuan untuk melacak penyebaran Covid-19 ditingkatkan dengan memperbanyak testing. Setelah itu, orang-orang yang dinyatakan positif harus diisolasi di Wisma Atlet.

"Kalau isolasi mandiri sama saja bohong, malah jadi klaster rumah tangga baru," kata dia.

Reporter: Tri Kurnia Yunianto
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait