Erick Thohir: Rights Issue Jadi Strategi BUMN Tak Bergantung ke Utang
Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan bahwa aksi korporasi dalam bentuk hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue dapat menjaga permodalan BUMN agar tidak bergantung pada utang. Strategi tersebut dinilai dapat mendorong potensi perluasan bisnis BUMN ke depan.
Secara umum, Erick telah menurunkan beban utang BUMN dari 38% menjadi 34%, sehingga rata-rata BUMN kini memiliki postur keuangan 60% dari modal, dan sisanya dari utang.
“Kita sudah membuktikan bagaimana profitabilitas BUMN dari Rp 124,7 triliun tahun lalu menjadi naik Rp 155 triliun padahal baru sembilan bulan pertama tahun 2022. Kontribusi kita melalui dividen juga naik pada saat Covid-19, lebih tinggi Rp 68 triliun, menjadi Rp 1.198 triliun dibanding tiga tahun sebelumnya Rp 1.130 triliun,” ujar Erick dalam keterangan resminya yang diterima Kamis (29/12).
Erick menegaskan, pihaknya tidak sembarangan memberikan lampu hijau bagi BUMN yang ingin melakukan rights issue. Erick mengatakan penambahan modal ditujukan bagi BUMN dengan industri yang memiliki prospek dan potensi baik ke depan.
“Untuk memperluas bisnis, berarti permodalan harus kuat, dan bisnis serta masa depan harus bagus. Jangan hanya tambah-tambah modal, tetapi sunset industri. Perkuat modal karena memang ada investasi baru yang menjanjikan dan bukan hanya membuat proyek,” ujar Erick.
Adapun kesuksesan aksi korporasi rights issue tecermin dari hasil hak memesan efek terlebih dahulu yang dilakukan dua BUMN, yakni PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) atau BSI dan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) atau SIG.
Sebagai informasi, rights issue BSI mengalami kelebihan permintaan atau oversubscribed sebanyak 1,4 kali.
Pada pelaksanaan rights issue ini jumlah saham yang diterbitkan sebanyak-banyaknya 4.999.952.795 saham baru Seri B atau sebesar 10,84% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan. Harga pelaksanaan rights issue Rp 1.000 untuk setiap lembar saham. Sehingga jumlah dana yang akan diterima perseroan dalam rangka PMHMETD I ini sebanyak-banyaknya sebesar Rp 5 triliun.
Sedangkan SIG sukses melaksanakan rights issue dengan total pemesanan mencapai 96,9% dari keseluruhan transaksi.
Corporate Secretary SIG Vita Mahreyni mengatakan, penyerapan rights issue untuk porsi publik yang mencapai 93,68% hingga periode terakhir transaksi.
“Kesuksesan rights issue ini menjadi motivasi bagi SIG untuk terus tumbuh di tengah kondisi industri semen yang kompetitif. SIG akan selalu berupaya mencatatkan kinerja positif sebagai bentuk tanggung jawab serta komitmen perusahaan untuk memberikan nilai tambah kepada pemegang saham,” pungkas Vita.
