Wall Street Anjlok, S&P 500 Tertekan Aksi Jual Imbas Aturan Tarif Dagang Trump
Bursa saham Amerika Wall Street anjlok pada perdagangan Selasa (11/3). Mayoritas saham di S&P 500 berada di level koreksi, karena aksi jual terus berlanjut akibat ketidakpastian mengenai kebijakan tarif baru yang diusulkan Presiden Donald Trump.
S&P 500 ditutup melemah 0,76% ke level 5.572,07. Indeks saham ini sempat turun 10% dibandingkan rekor penutupan tertinggi pada 19 Februari yakni 6.144,15.
Sebanyak 73% atau 366 komponen S&P 500 diperdagangkan 10% di bawah level tertinggi atau terkoreksi. Sebanyak 203 komponen ditutup turun lebih dari 20% dari level tertinggi.
S&P 500 sempat bergerak ke zona hijau selama sesi perdagangan sebelum pernyataan Donald Trump di Truth Social memicu gejolak pasar. Trump mengumumkan tarif impor baja dan aluminium dari Kanada akan dinaikkan dua kali lipat, dari 25% menjadi 50%, dan berlaku mulai Rabu (13/3).
Hal itu merupakan respons Trump terhadap kebijakan Premier Ontario, Doug Ford, yang menetapkan biaya tambahan untuk listrik yang diekspor ke Amerika.
S&P 500 pun kembali ke zona merah dan turun sekitar 9% dari level tertinggi. Indeks saham ini mencatatkan penurunan satu hari paling signifikan sejak 18 Desember 2024.
Lima dari 11 sektor S&P 500 berada dalam wilayah koreksi, seperti konsumen diskresioner, teknologi, layanan komunikasi, material, dan energi.
Harga saham perusahaan farmasi Moderna dan korporasi di bidang kecerdasan buatan atau AI Super Micro Computer turun masing-masing 79% dan 69% dari rekor tertinggi. Harga saham First Solar, Enphase Energy, Dollar Tree, Estée Lauder, dan Tesla turun masing-masing 50% dari posisi puncak.
Penurunan pasar semakin cepat selama seminggu terakhir, karena tarif agresif Presiden Donald Trump, yang mencakup tarif terhadap Kanada, Meksiko, dan Cina, dapat memicu perlambatan ekonomi atau menyebabkan resesi.
Dow Jones Industrial Average turun 478,23 poin atau 1,14% menjadi 41.433,48, sedangkan Nasdaq Composite merosot 0,18% dan berakhir di level 17.436,10.
Nasdaq yang sarat teknologi mengonfirmasi koreksi 10% akhir minggu lalu. Indeks S&P turun lebih dari 3,4% selama dua sesi terakhir, penurunan terbesar sejak awal Agustus.
Selain tarif yang agresif, kebijakan dagang dinilai tidak jelas. Setelah Trump mengumumkan tarif impor baja dan aluminium dari Kanada akan naik dua kali lipat, dari 25% menjadi 50% mulai Rabu (13/3), penasihat presiden di bidang perdagangan Peter Navarro menyampaikan rencana ini batal.
Kebijakan perdagangan yang tidak menentu itu semakin mengguncang kepercayaan pelaku bisnis dan konsumen, yang telah membebani pasar selama tiga minggu terakhir.
Ahli strategi investasi Baird, Ross Mayfield mengatakan pemerintah tampaknya siap menghadapi tekanan ekonomi demi mencapai tujuan perdagangan, meskipun tujuannya tidak sepenuhnya berkaitan dengan ekonomi.
Ia juga menilai belum ada tanda-tanda resesi, tetapi ada kemungkinan ekonomi melambat. “Aksi jual non-resesi cenderung lebih pendek dan lebih ringan daripada aksi jual saat resesi,” kata Mayfield dikutip dari CNBC Internasional, Rabu (12/3).
Akan tetapi, Delta Air Lines menambah kekhawatiran akan resesi setelah menurunkan proyeksi pendapatan akibat melemahnya permintaan di Amerika. Harga sahamnya pun anjlok 7,3%. Begitu juga Disney dan Airbnb masing-masing merosot 5%.
Sementara itu, Trump tampak tidak terlalu memikirkan penurunan pasar saham. “Pasar akan naik dan turun, tetapi yang terpenting adalah kita harus membangun kembali negara kita,” demikian laporan dari Gedung Putih ketika ditanya mengenai aksi jual di Wall Street.
Saat ini, para investor menunggu laporan indeks harga konsumen untuk Februari yang akan dirilis pada Rabu (13/3). Data ini dapat memberikan gambaran lebih jelas tentang kondisi inflasi.
Mayfield berharap data CPI tidak menunjukkan kenaikan di luar perkiraan. Menurutnya, saat ini bank sentral Amerika The Fed masih memiliki cukup ruang untuk menurunkan suku bunga guna mendorong permintaan jika ekonomi melemah.
"Namun, langkah itu hanya bisa dilakukan jika The Fed yakin bahwa inflasi dan ekspektasi inflasi sudah terkendali," ujarnya.
