Mengenal Bisnis Konglomerat Dato Sri Tahir: Bank hingga Rumah Sakit
Pendiri Grup Mayapada Dato Sri Tahir masuk dalam jajaran 10 orang terkaya di Indonesia versi Majalah Forbes. Harta kekayaannya mencapai US$ 5,2 miliar atau sekitar Rp 85 triliun.
Mengutip laman resmi Mayapada Hospital, pria kelahiran Surabaya Tahun 1952 ini meraih gelar sarjana bidang Manajemen di Nanyang University, Singapura pada usia 24 tahun. Ia melanjutkan pendidikan di Golden Gate University dan berhasil menyandang gelar Master of Business Administration di tahun 1987.
Pada 2008, ia dianugerahi gelar kehormatan sebagai Doktor Honoris Causa dari Universitas Tujuh Belas Agustus Surabaya.
Tahir memulai bisnisnya dari jual beli pakaian saat masih mengenyam pendidikan di Singapura. Ia kemudian mengembang bisnisnya di bidang garmen dan mendirikan Mayapada Group.
Mayapada Group dimulai dengan pendirian Bank Mayapada pada 1989. Tahir saat itu menduduki jabatan Ketua Dewan Direksi sekaligus Chief Executive Officer.
Grup Mayapada yang didirikannya memiliki sejumlah lini bisnis, mulai dari perbankan hingga properti, antara lain PT Bank Mayapada International Tbk (MAYA), PT Sejahtera Anugrahjaya Tbk (SRAJ) atau Mayapada Hospital, PT Sona Topas Tourism Industry Tbk (SONA), dan PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO).
Tahir juga dikenal sebagai filantropis, yang mendirikan organisasi nirlaba bernama Tahir Foundation. Lembaga ini didirikan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat melalui pendidikan dan kesehatan.
Apa saja bisnis yang dimiliki Tahir dan seberapa andal kinerjanya?
PT Bank Mayapada International Tbk (MAYA)
Bank Mayapada membukukan laba bersih pada tiga bulan pertama tahun ini mencapai Rp 31,3 miliar, melesat 360% dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 6,8 miliar.
Berdasarkan laporan keuangan yang telah dipublikasi perseroan, pendapatan bunga MAYA melonjak 45% dari Rp 2,16 triliun pada akhir Maret 2024 menjadi Rp 3,14 triliun. Sedangkan beban bunga naik 49% menjadi Rp 2,44 triliun dari Rp 1,63 triliun secara yoy. Hal ini mendorong pendapatan bunga bersih naik 37% menjadi Rp 698 miliar dari Rp 508 miliar pada periode yang sama.
Penyaluran kredit hanya tumbuh tipis sebesar 0,26% secara tahunan menjadi Rp 105,01 triliun. Seiring kenaikan kredit, rasio kredit bermasalah atau NPL gross turun dari 3,70% menjadi 3,53% dan secara nett turun menjadi 2,67% dari 2,88%. Sementara itu Dana Pihak Ketiga (DPO) hanya naik
Meski labanya meningkat, gerak saham Bank Mayapada justru terpantau turun lebih dari 10% sejak awal tahun ini. Saham Bank Mayapada diperdagangkan di level 193 pada perdagangan kemarin (21/5).
PT Sejahtera Anugrahjaya Tbk (SRAJ)
Emiten rumah sakit milik Tahir ini mencatatkan kerugian periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada entitas induk pada kuartal pertama 2025 minus Rp 28,5 miliar, naik 694% dibandingkan Rp 4,7 miliar pada periode yang saham tahun lalu.
Rugi perusahaan membengkak seiring oleh kenaikan beban langsung sebesar 10%. dari Rp 519 miliar menjadi Rp 572 miliar. Sedangkan pendapatan perseroan masih naik 7,3% dari Rp 746,1 miliar menjadi Rp 800 miliar.
Kerugian yang diperoleh Mayapada Hospital berbanding terbalik dengan gerak sahamnya. Sepanjang tahun ini, saham SRAJ naik 27%. Adapun dalam sebulan terakhir, sahamnya naik 4,55% ke level 2.990.
PT Sona Topas Tourism Industry Tbk (SONA)
PT Sona Topas Tourism Industry Tbk (SONA) membukukan laba bersih pada tiga bulan pertama 2025 sebesar Rp 6,7 miliar, berbalik jika dibandingkan dengan periode yang sama 2024 yang rugi Rp 3,7 miliar. Pendapatan SONA naik tipis 1,7% menjadi Rp 176 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 173 miliar.
Sementara itu gerak saham SONA berfluktuasi dalam zona merah. Sahamnya sepnajang tahun ini turun 10,50%. Adapun dalam jangka waktu sebulan terakhir, saham turun 3,85% ke level 3.750.
PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO)
Maha Properti masih mencatatkan rugi bersih Rp 11,48 miliar, naik 10% dibandingkan Rp 10,35 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Pendapatan perseroan hanya mencapai Rp 479,87 juta, anjlok dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 868 juta.
Gerak saham MPRO sepanjang tahun ini naik tipis 0,50%. Sedangkan dalam sebulan terakhir, sahamnya stagnan di level 2.030.
