Indeks Wall Street Menguat Usai DPR AS Sahkan UU Pajak dan Belanja
Indeks saham bursa Amerika Serikat, Wall Street bergerak fluktuatif dan ditutup menguat pada perdagangan Kamis (23/5). Penguatan ini terjadi seiring turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS usai Kongres meloloskan rancangan undang-undang pajak dan belanja yang diusulkan Presiden Donald Trump.
Rata-rata indeks Dow Jones turun 1,35 poin ke posisi 41.859,09. Sementara, indeks S&P 500 melemah 2,60 poin atau 0,04% menjadi 5.842,01. Di sisi lain, Nasdaq Composite justru naik 53,09 poin atau 0,28% ke level 18.925,74.
RUU yang disahkan dengan margin tipis oleh parlemen akan memenuhi sejumlah janji kampanye Trump kepada basis politiknya. Namun, Kantor Anggaran Kongres (CBO), lembaga non partisan, memperkirakan bahwa aturan ini akan menambah utang AS sebesar US$ 3,8 triliun selama sepuluh tahun ke depan dari total utang nasional yang saat ini telah mencapai US$ 36,2 triliun.
Para investor juga mencermati potensi dampak tarif baru terhadap barang-barang impor yang dapat mendorong kenaikan harga konsumen.
"Masalah hari ini adalah RUU pajak yang tampaknya telah disahkan,” kata mitra dan manajer portofolio Villere & Co George Young sekaligus dikutip dari Reuters Jumat (23/5).
Meski demikian, ia menambahkan bahwa perhatian investor juga tertuju pada dua isu besar lainnya, yaitu tarif dan suku bunga. Young menilai pasar tidak menyukai ketidakpastian, sementara kebijakan tarif dan pergerakan pasar obligasi masih sangat dipengaruhi oleh faktor politik dan dinamika global.
Sebagian besar sektor dalam indeks S&P 500 ditutup melemah. Saham-saham utilitas, perawatan kesehatan, energi, dan barang kebutuhan pokok mengalami pelemahan. Sementara sektor komunikasi, teknologi dan barang konsumsi non-primer mengalami penguatan.
Saham-saham teknologi besar atau megacap seperti Nvidia, Amazon, dan Tesla menguat. Saham Alphabet naik 1,3% setelah menyentuh level tertinggi dalam hampir tiga bulan, sedangkan Apple ditutup melemah 0,36%.
Saham Snowflake melonjak lebih dari 13% setelah perusahaan tersebut menaikkan proyeksi pendapatan produknya untuk tahun fiskal 2026. Sebaliknya, saham Analog Devices turun 4,6%. Saham perusahaan energi surya, First Solar turun 4,3%
Di New York Stock Exchange (NYSE), jumlah saham turun melampaui saham yang naik dengan rasio 1,17:1. Terdapat 68 saham mencatat harga tertinggi baru dan 99 saham menyentuh harga terendah baru.
Sementara itu, indeks S&P 500 membukukan empat titik tertinggi dan sembilan titik terendah baru dalam 52 minggu terakhir. Nasdaq mencatat 49 titik tertinggi dan 109 titik terendah baru.
Volume perdagangan saham di bursa AS tercatat sebesar 16,09 miliar saham. Angka ini sedikit di bawah rata-rata harian selama 20 hari terakhir yang berada di angka 17,56 miliar saham.
Kekhawatiran pasar terkait defisit anggaran AS mendorong kenaikan imbal hasil obligasi dan menekan pergerakan saham. Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun justru turun 5,4 basis poin menjadi 4,543%, setelah sempat menyentuh level tertinggi sejak Februari lalu.
Di akhir sesi perdagangan, indeks S&P 500 dan Dow Jones ditutup nyaris mendatar, sementara Nasdaq mencatat kenaikan tipis.
Sehari sebelumnya, ketiga indeks utama Wall Street sempat mengalami penurunan harian terbesar dalam sebulan, seiring lonjakan imbal hasil obligasi Pemerintah AS akibat kekhawatiran pasar terhadap peningkatan utang negara tersebut.
