Harga Saham Krakatau Steel (KRAS) Tiba-tiba Melesat 35%, Ada Apa?

Agustiyanti
12 Juni 2025, 15:46
kras, krakatau steel, kerugian, bumn
PT. Krakatau Steel
PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) masih mencatatkan rugi bersih mencapai US$ 46,91 juta pada kuartal I 2025, membengkak 60,98% dibandingkan periode yang sama tahun lalu US$ 29 juta.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Harga saham PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) melesat 35% ke level 183, menembus batas harga tertinggi perdagangan saham atau auto rejection atas pada perdagangan hari ini, Kamis (12/6). Emiten BUMN baja ini masih mencatatkan rugi bersih mencapai US$ 46,91 juta pada kuartal I 2025, membengkak 60,98% dibandingkan periode yang sama tahun lalu US$ 29 juta.

Berdasarkan data Stockbit, saham KRAS hari ini dibuka di harga Rp 139, naik tipis  dibandingkan penutupan kemarin di level Rp 136. Namun, harga sahamnya tiba-tiba melesat menjelang penutupan sesi pertama dan semakin melaju pada perdagangan sesi kedua hingga menembus ARA pada pukul 14.25 WIB. 

Total saham KRAS yang diperdagangkan hari ini mencapai 292 juta saham dengan nilai mencapai Rp 49 miliar.

Lantas, apa yang sebenarnya terjadi?

Harga saham KRAS melaju bersama emiten baja lainnya, PT Saranacentral Bajatama Tbk yang naik 14% hingga pukul 15.04 WIB. Namun, tak ada pergerakan yang signifikan pada harga baja global hari ini. 

Berdasarkan data Trading Economics, harga tulangan baja dipatok di harga 2.933 yuan Cina per ton, turun 0,68% dibandingkan kemarin. Dalam sebulan terakhir, harga tulangan baja telah turun 5%. 

Namun demikian, KRAS baru-baru ini meneken kerja sama dengan Delong Steel Group, produsen baja peringkat ke-11 dunia dan ke-7 di Cina, bersama anak usahanya PT Dexin Steel Indonesia.

PT Krakatau Steel (Persero) Tbk dan Grup Krakatau Steel menyiapkan lahan lebih dari 500 hektare di Kawasan Industri Krakatau, Cilegon, Banten guna mendukung investasi strategis di sektor industri baja.

Direktur Utama Krakatau Steel Akbar Djohan mengatakan menyiapkan lahan lebih dari 500 hektare di Kawasan Industri Krakatau, Cilegon, Banten untuk kebutuhan Delong Steel Group.

"Kami tidak hanya membangun pabrik, tetapi kami bertujuan membangun ekosistem industri baja nasional yang lebih kuat dan berdaya saing global, sehingga ke depan industri baja di Indonesia mampu menyokong pemenuhan kebutuhan Proyek Strategis Nasional," ujar Akbar dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin (9/6), seperti dikutip dari Antara.

Penyediaan lahan oleh Krakatau Steel Group untuk Delong Steel ini, menandai langkah monumental dalam upaya pengembangan industri baja generasi baru di Indonesia.

Langkah proaktif tersebut diawali pada Mei 2025 saat tim perwakilan Krakatau Steel melakukan kunjungan ke Delong Steel Group di China dan melaksanakan penandatanganan kerja sama (MoU) pengadaan bahan baku, serta potensi kerja sama lainnya.

Penandatanganan MoU pengadaan bahan baku antara kedua perusahaan juga disaksikan oleh Mr. Ding Liguo selaku chairman of Shanghai Delong Steel Group. Adapun fokus utama penjajakan kerja sama ini adalah pembangunan Pabrik Baja Terpadu dengan kapasitas produksi mencapai 3 juta ton per tahun.

Negosiasi bisnis antara kedua pihak kini tengah berjalan intensif. Investasi ini diperkirakan akan menyerap ribuan tenaga kerja lokal, memberikan dampak positif berganda bagi perekonomian nasional, meningkatkan nilai tambah produk industri, hingga memperkuat neraca perdagangan.

"Kami sangat terbuka dan antusias dengan potensi kerja sama strategis berskala global seperti ini. Penyediaan lahan lebih dari 500 hektar melalui anak usaha kami, PT Krakatau Sarana Infrastruktur (KSI), adalah wujud konkret dukungan kami," kata Akbar.

Akbar mengatakan kolaborasi dengan Delong Steel tidak hanya akan mengoptimalkan aset lahan yang dimiliki perusahaan, tetapi juga membawa transfer teknologi dan pengetahuan. Lahan yang disiapkan oleh Krakatau Steel Group dinilai sangat layak untuk mendukung pembangunan pabrik baru Delong Steel.

Pabrik ini direncanakan tidak hanya akan memproduksi baja berkualitas tinggi, tetapi juga berpotensi mengembangkan green steel atau baja berkualitas yang ramah lingkungan.

"Visi utama kami adalah merevitalisasi industri baja nasional dan menjadikan Cilegon sebagai barometer industri baja di Asia Tenggara yang ramah lingkungan," imbuhnya.

Prospek Saham KRAS dan Emiten Baja Lain

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji mengingatkan investor agar tetap berhati-hati untuk masuk ke saham KRAS atau BAJA yang melesat hari ini. Menurut dia, saham kedua emiten baja ini rawan turun oleh aksi ambil untung atau profit taking.

Menurut dia, saham-saham di sektor baja, beton, dan konstruksi berpotensi mengalami fluktuasi karena banyaknya dinamika yang mempengaruhi, terutama perubahan arah perang dagang.

"Headwins-nya banyak, terutama dinamika perdagangan terjadi. Tentunya jika perang dagang memanas, produk-produk baja impor dari Cina akan masuk ke indonesia, oversupply akan membuat pelemahan fundamental emiten terkait. Lebih baik investor hati-hati," kata dia.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...