Menyusur Jejak Saratoga, Pengendali di Balik IPO Merdeka Gold (EMAS) Anak MDKA

Ira Guslina Sufa
8 September 2025, 10:21
PT Saratoga Invetama Sedaya Tbk
PT Saratoga Investama Sedaya Tbk
PT Saratoga Investama Sedaya Tbk
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Emiten tambang emas di bawah konglomerasi PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) PT Merdeka Gold Resources Tbk bakal mencatatkan perdana umum perdana saham atau initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyetujui Merdeka Gold menggunakan kode saham atau ticker EMAS. 

Merdeka Gold Resources merupakan anak usaha PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dengan kepemilikan saham 62,7%. Dalam gelaran IPO ini, Merdeka Gold akan melepas saham di rentang Rp 1.800–Rp 3.020 per lembar. Dengan begitu dari aksi korporasi ini perusahaan diperkirakan akan menghimpun dana hingga Rp 4,88 triliun.

Berdasarkan prospektus singkatnya, Merdeka Gold melepas sebanyak 1,61 miliar saham dengan nominal Rp 150 setiap saham atau atau sebanyak-banyaknya 10% dari modal yang ditempatkan perusahaan. Perusahaan juga menunjuk tiga penjamin pelaksana emisi efek, yakni PT Indo Premier Sekuritas, PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk, dan PT Sinarmas Sekuritas. 

Setelah penawaran umum perdana saham (IPO) PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) tercatat sebagai pemegang saham terbesar dengan 9,13 miliar saham senilai Rp 1,37 triliun atau 56,46%. Lalu ada PT Elias Aldana Manajemen menggenggam 130,42 juta dengan nilai Rp 19,56 miliar atau 0,81%, PT Unitras Kapital Indonesia: 286,88 juta saham senilai Rp 43,03 miliar atau 1,77%, dan PT Nugraha Eka Kencana 195,37 juta saham senilai Rp 29,30 miliar atau 1,21%.

Pemegang saham lainnya yakni:

  1. Winato Kartono: 1,35 miliar saham (8,36%)
  2. Hardi Wijaya Liong: 578,97 juta saham (3,58%)
  3. Santoso Kartono: 182,62 juta saham (1,13%)
  4. Sakti Wahyu Trenggono: 78,22 juta saham (0,48%)
  5. Edi Permadi: 195,37 juta saham (1,21%)
  6. Garibaldi Thohir: 905,03 juta saham (5,59%)
  7. Koperasi Unit Desa Dharma Tani: 73,02 juta saham (0,45%)
  8. Masyarakat: 1,61 miliar saham (10%)

Selain itu, terdapat saham treasuri sebesar 1.448.866.615 saham atau 8,95%.

Di balik langkah MDKA mengantarkan anak usahanya GOLD melantai di bursa ada juga peran entitas besar lainnya yaitu PT Saratoga Tbk (SRTG). Merujuk laporan tahunan MDKA, perseroan tidak memiliki pemegang saham utama.

Namun, MDKA memiliki dua pemegang saham pengendali bersama, yakni PT Provident Capital Indonesia dan PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG). Pemilik manfaat akhir perseroan adalah Edwin Soeryadjaya dan Winato Kartono.

Profil Pengendali Merdeka Copper Gold

Berdasarkan laman resmi Merdeka Copper Gold, mayoritas saham perseroan dimiliki oleh PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG), PT Provident Capital Indonesia Tbk (PALM) melalui PT Mitra Daya Mustika dan PT Suwarna Arta Mandiri.

Selain itu, konglomerat Garibaldi Thohir atau Boy Thohir juga memiliki saham mayoritas di emiten tambang emas ini. Saratoga tercatat menggenggam 4,89 miliar saham MDKA atau 19,47% dari total saham. Diikuti dengan Mitra Daya Mustika memiliki 11,88% saham. Selanjutnya ada Suwarta Arta Mandiri memiliki 5,50% saham MDKA.

Merujuk laman resmi Saratoga Investama, perusahaan ini bergerak di bidang investasi dan telah beroperasi sejak 1997. Sepanjang dua dekade terakhir, SRTG berinvestasi di tiga sektor utama yaitu logam mulia, energi, dan infrastruktur.

Selain MDKA, SRTG juga berinvestasi di PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), serta dua emiten milik Boy Thohir, yaitu PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dan PT Alamtri Resources Tbk (ADRO).

Sepanjang 2024, portofolio SRTG tercatat memiliki kapitalisasi pasar gabungan lebih dari US$ 21 miliar. Saat ini, perusahaan fokus pada sektor dengan pertumbuhan tinggi seperti layanan kesehatan, energi terbarukan, infrastruktur digital, dan sektor konsumen.

Berdasarkan laporan keuangan semester pertama 2025, SRTG mencatat laba bersih Rp 102,01 miliar, berbalik dari periode sama tahun sebelumnya yang membukukan rugi Rp 446,39 miliar.

Sementara itu, Provident Capital Indonesia (PALM) merupakan perusahaan investasi yang berdiri sejak 2006, dengan pemegang saham utama Grup Provident, Grup Saratoga, dan Grup Thohir. Awalnya bergerak di industri kelapa sawit, sejak 2022 PALM berfokus pada sektor investasi.

Hingga saat ini, PALM belum merilis laporan keuangan semester pertama 2025. Namun, laporan kuartal pertama 2025 mencatat rugi Rp 1,42 triliun, meningkat 20,33% dibandingkan rugi kuartal pertama 2024 sebesar Rp 1,18 triliun.



Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila, Karunia Putri

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...