PTBA Gelontorkan Belanja Modal Rp 1,5 T untuk Proyek KA Enim-Kramasan

Karunia Putri
12 September 2025, 07:27
PTBA, Bukit Asam, Enim-Kramasan
www.ptba.co.id
Ilustrasi.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Emiten tambang batu bara pelat merah, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) telah menggunakan dana belanja modal atau capital expenditure (Capex) mencapai Rp 1,5 triliun untuk ekspansi proyek jalur angkutan batu bara, Kereta Api Tanjung Enim-Kramasan. Proyek tersebut merupakan salah satu pilar diversifikasi PTBA pada 2025-2029.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Bukit Asam Una Lindasari menyampaikan, total seluruh anggaran yang dibutuhkan perseroan untuk menyelesaikan proyek unlocking logistic tersebut mencapai Rp 5 triliun. 

“Masih ada sekitar Rp 3 triliun lagi yang akan kami keluarkan sampai pertengahan tahun 2026,” kata Una dalam paparan publik 2025 Bursa Efek Indonesia, Kamis (11/9).

Sementara itu, Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PTBA Turino Yulianto menjelaskan, progres KA Enim-Kramasan telah berjalan sekitar 50%. Ia memperkirakan proyek tersebut rampung pada kuartal kedua tahun 2026.

Dalam kesempatan berbeda, Turino menjelaskan, PTBA akan melakukan ekspansi dengan acuan empat pilar diversifikasi selama periode 2025–2029,. Pilar pertama adalah akuisisi tambang batu bara yang dinilai akan potensial.Ia mengatakan perusahaan tengah melakukan kajian calon tambang baru yang akan diakuisisi.

Pilar kedua adalah ekspansi logistik dan infrastruktur. Turino mencontohkan, tambang milik Bukit Asam di Sumatera Selatan kerap terhambat bukan karena produksi, tetapi biaya transportasi.  “Biaya mengeluarkan batu bara dari tambang ke pelabuhan sangat berat,” kata Turino dalam diskusi media Kamis (7/8) lalu.

Saat ini, PTBA tengah menggarap proyek unlocking logistic dengan pembangunan jalur angkutan Tanjung Enim-Kramasan. 

Pilar ketiga adalah hilirisasi energi dan utilitas. Dia kemudian menjelaskan sejumlah proyek hilirisasi yang tengah digarap antara lain adalah Fase R&D yang mencakup Coal to artificial graphite & anode sheet untuk ekosistem mobil listrik, serta coal to asam humat untuk pupuk.  Lalu ada fase validasi komersial yang mencakup coal to DME, coal to SNG (synthetic natural gas), coal to methanol dan coal to ammonia.

Turino menjelaskan, konversi batubara padat menjadi produk cair atau gas dapat memangkas biaya logistik.   “Mengirim benda padat lebih mahal daripada cair atau gas. Jadi, pabrik dibangun di dekat tambang,” ujarnya.

Proyek coal to artificial graphite dikembangkan untuk suplai industri kendaraan listrik dan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Sedangkan coal to asam humat yang akan diluncurkan sebagai proyek percontohan bersama Universitas Gadjah Mada diyakini mampu meningkatkan produktivitas pertanian hingga dua kali lipat dengan penggunaan pupuk lebih efisien. Proyek ini diperkirakan rampung awal tahun depan. 

“Yang tadinya satu ton jadi cukup 500 kilo. Kalau ini berhasil, saya kira akan jadi game changer untuk pupuk, karena batubara PTBA ada banyak,” kata dia.  

Turino menegaskan PTBA akan menghitung matang aspek keuntungan dan risiko untuk mengubah batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME), “Kami yakin proyek ini bisa jalan dengan beberapa asumsi yang nanti didiskusikan dengan pemerintah,” ujarnya. 

Adapun coal to SNG dikerjakan bersama Perusahaan Gas Negara untuk mengantisipasi potensi kekurangan pasokan gas industri pada 2028. Sedangkan coal to methanol masuk peta jalan PTBA karena memiliki pasar yang lebih stabil dibanding DME, serta membuka peluang industri turunan. Proyek ammonia juga disiapkan untuk bahan baku pupuk.

Pilar keempat yakni, Bukit Asam tengah menyiapkan Pembangkit Listrik Tenaga Uap untuk memasok listrik bagi anggota MIND ID seperti Antam dan Timah dengan pasokan batubara internal dari PTBA. 

Perusahaan juga mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di area reklamasi tambang, di jalan tol dan untuk kebutuhan petani seperti pompa air bertenaga surya di daerah tanpa irigasi. 

Melalui diversifikasi ini, Bukit Asam bercita-cita mampu menambah volume produksi hingga 100 juta ton per tahunnya. Perusahaan juga menargetkan volume produksi saat ini sekitar 40 juta ton.

Hingga Juni 2025, volume produksi batu bara PTBA mencapai 21,73 juta ton, naik 16% dibandingkan semester pertama tahun 2024, sementara penjualan naik 8% menjadi 21,62 juta ton.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...