Kabar Terbaru Anak Usaha Emiten Prajogo (BREN) di Sumur Panas Bumi Maluku Utara
Emiten energi milik konglomerat Prajogo Pangestu, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), melalui anak usahanya Star Energy Geothermal resmi memulai pengeboran sumur eksplorasi atau tajak sumur pertama di wilayah Hamiding, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara.
Mengutip keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Direktur Utama Barito Renewables Hendra Soetjipto Tan menjelaskan, wilayah Hamiding memiliki potensi sumber daya panas bumi sebesar 275–550 megawatt (MW). Potensi ini menjadikannya salah satu area eksplorasi panas bumi paling strategis di kawasan Indonesia Timur.
“Pengeboran sumur eksplorasi pertama ini menjadi langkah awal untuk membuktikan adanya reservoir panas bumi yang dapat dikembangkan menjadi listrik di unit pembangkitan,” ujar Hendra dalam keterbukaan informasi BEI dikutip Senin (20/10).
Pada tahap awal, perseroan menargetkan pembangunan pembangkit listrik berkapasitas 50 MW dari total potensi 300 MW kapasitas terpasang. Proyek ini diharapkan berkontribusi terhadap bauran energi nasional dan mendukung transisi menuju energi bersih.
Kegiatan pengeboran akan menggunakan Drilling Rig 253 berkapasitas 1.500 HP, yang dirancang untuk menembus formasi geologi kompleks dan mencapai kedalaman target reservoir panas bumi. Seluruh proses dilakukan dengan standar keselamatan tinggi, memperhatikan perlindungan lingkungan, serta melibatkan pemberdayaan masyarakat lokal.
“Kegiatan tajak sumur ini merupakan bagian dari perjalanan untuk menghadirkan energi bersih bagi Indonesia. Selama ini ketiga lapangan panas bumi yang kami operasikan di Salak, Darajat, dan Wayang Windu telah berkontribusi menerangi jutaan rumah,” Kata Hendra.
Selain proyek di Hamiding, pada awal Oktober ini Star Energy Geothermal juga telah menyelesaikan proyek retrofit pada Unit 4, 5, dan 6 Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Salak. Total investasi yang digelontorkan untuk proyek tersebut mencapai US$ 22,5 juta atau sekitar Rp 373,35 miliar (dengan kurs Rp 16.593 per dolar AS).
Menurut Hendra, penyelesaian proyek retrofit PLTP Salak menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam meningkatkan kinerja aset, efisiensi operasional, dan keberlanjutan jangka panjang. Kapasitas terpasang PLTP Salak kini mencapai 7,7 MW, melampaui ekspektasi awal sebesar 7,2 MW.
“Inisiatif penambahan kapasitas ini juga sejalan dengan strategi perusahaan dalam memperkuat kontribusi terhadap transisi energi bersih nasional,” ujar Hendra dalam keterangannya dikutip Senin (6/10).
Dengan penyelesaian proyek tersebut, total kapasitas terpasang Star Energy Geothermal kini mencapai 910,3 MW.
Selain panas bumi, Barito Renewables juga memperluas portofolio energi terbarukannya melalui anak usaha Barito Wind yang mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Sidrap 1 di Sulawesi. Aset yang diakuisisi tahun lalu ini memiliki kapasitas sebesar 78,75 MW.
Lebih lanjut, Hendra menegaskan komitmen perusahaan untuk terus memperluas portofolio energi bersih. Barito Renewables menargetkan ekspansi dan peningkatan kapasitas pembangkit panas bumi lebih dari 100 MW dalam beberapa tahun ke depan, dengan total investasi sekitar US$ 365 juta atau Rp 6,05 triliun.
Perseroan juga berharap proyek-proyek ekspansi tersebut dapat memberikan dampak ekonomi, termasuk penciptaan lapangan kerja baru, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Ada Lego Saham BREN Total Rp 27,8 Miliar
Bersamaan dengan pengumuman baru, geliat saham BREN menarik perhatian investor di Bursa Efek Indonesia. Berdasarkan data Stockbit, terdapat transaksi crossing di saham milik Prajogo ini. Saham BREN dinego sebanyak 30 lot yang terjadi di harga Rp 9.275 per saham. Sehingga, total transaksi crossing sebesar Rp 27,8 miliar.
Sementara itu, harga saham BREN tercatat turun 1,61% atau 150 poin ke level 9.150 pada perdagangan sesi pertama hari ini. Harga saham BREN turun 1,62% sejak awal tahun, namun mengalami kenaikan 1,10% dalam satu bulan terakhir.
