Rotasi Portofolio: Investor Lirik Lagi Blue Chip, Tinggalkan Saham Konglomerasi
Indeks Harga Saham Gabungan turun 1,82% ke level Rp 8.117 pada perdagangan kemarin, Senin (27/10), setelah sempat mencetakkan rekor level tertinggi pada pekan lalu. Rontoknya indeks, antara lain dipicu oleh aksi jual besar-besaran investor di saham emiten terafiliasi konglomerat, sedangkan sejumlah saham emiten blue chip masih bertahan di zona hijau.
Meski anjlok pada perdagangan kemarin, IHSG masih naik 13,32% pada sepanjang tahun ini dan telah beberapa kali memecahkan rekor harga tertinggi.
Investment Analyst Lead Stockbit Sekuritas, Edi Chandren, menjelaskan bahwa kenaikan IHSG pada sepanjang tahun ini sebenarnya lebih banyak ditopang oleh kenaikan saham-saham konglomerasi. Hal ini terlihat dari perbedaan kinerja antara IHSG dan indeks yang berisi saham-saham unggulan seperti LQ45.
Apabila menilik 16 Oktober 2025, IHSG tercatat naik 14,8% secara year to date (ytd), sedangkan LQ45 justru turun 5,6%, dengan gap performa yang semakin melebar sejak pertengahan tahun.
Namun, dalam dua hari perdagangan setelahnya, saham-saham blue chip mulai menunjukkan kinerja lebih baik dibandingkan saham-saham konglomerasi. Indeks LQ45 naik 1,1%, melampaui kenaikan IHSG sebesar 0,7%, yang sebagian besar didorong oleh aksi profit taking pada saham-saham konglomerasi.
“Kami menilai bahwa dengan kenaikan harga saham–saham konglomerasi yang sudah masif, investor dapat merotasi atau melakukan rebalancing ke beberapa saham blue chip untuk mengelola risk–reward portofolio,” demikian penjelasan Stockbit dalam risetnya dikutip Senin (27/10).
Stockbit Sekuritas juga menilai sektor konsumer dan perbankan berpotensi menjadi pilihan menarik bagi investor, mengingat valuasi keduanya saat ini berada di level yang relatif rendah secara historis. Valuasi emiten di sektor konsumer tercatat telah terdiskon lebih dari satu standar deviasi di bawah rata-rata historis. Sedangkan sektor perbankan mendekati dua standar deviasi di bawah rata-rata.
Menurut Stockbit Sekuritas, potensi penurunan lanjutan pada kedua sektor tersebut masih terbatas. Meski begitu, arus keluar dana asing (foreign outflow) masih menjadi salah satu risiko utama yang perlu jadi perhatian investor.
Di sisi lain, apabila aksi profit taking terhadap saham-saham konglomerasi terus berlanjut, sektor konsumer dan perbankan dinilai memiliki potensi upside yang cukup menarik.
Secara fundamental, Stockbit Sekuritas menilai sektor konsumer punya prospek pertumbuhan laba bersih yang lebih solid pada periode 2025–2026 dibandingkan dengan kelompok perbankan raksasa emiten. PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), dan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) dinilai paling menonjol dalam aspek pertumbuhan laba.
Adapun untuk perbankan besar, kecuali PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), laba diperkirakan akan turun pada 2025 sebelum kembali tumbuh pada 2026. Namun, potensi penurunan itu dinilai masih dapat ditopang dari tingginya prospek dividend yield dibandingkan sektor konsumer.
“Dalam jangka pendek, kami memperkirakan rilis kinerja kuartal ketiga 2025 secara umum berpotensi menjadi yang terendah (bottom) dan akan mulai pulih pada kuartal keempat 2025,” ucapnya.
