Menilik Aksi di Balik Geliat Saham Afiliasi Saratoga–Boy Thohir (MBMA), Ada Apa?
Saham emiten grup Saratoga–Garibaldi Thohir atau Boy Thohir, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) melonjak 49,56% sejak awal tahun atau year to date (ytd). Bahkan perdagangan saham, Senin (10/11) saham MBMA ditutup melonjak 6,20% ke level Rp 685.
Volume yang diperdagangkan tercatat 386,73 juta dengan nilai transaksi Rp 257,45 miliar. Adapun total transaksi tercatat sebesar Rp 73,98 triliun.
Apabila menilik performanya, dalam seminggu terakhir MBMA naik 7,03% dalam seminggu terakhir. Tak hanya itu dalam sebulan terakhir juga melesat 11,38% dan dalam tiga bulan sebesar 47,63%.
Menanggapi lonjakan harga saham anak usaha PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) itu, General Manager Communications Merdeka Copper Gold, Tom Malik, menjelaskan bahwa produksi di tambang Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) saat ini memang tengah meningkat. Ia menyebut sebagian produksi bijih limonit dari SCM dikirim ke PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) melalui jaringan pipa.
“Jadi bijihnya dibikin menjadi slurry kayak lumpur gitu lalu dipompa,” kata Tom Malik kepada wartawan di Banyuwangi, Jumat (10/11).
Ia mengatakan saat ini sudah ada satu jalur yang beroperasi dan pada akhir tahun akan menyusul jalur kedua, sementara tahun depan direncanakan pembangunan jalur berikutnya.
Menurutnya, meskipun investasinya cukup besar, penggunaan pipa tersebut dinilai sangat efisien dalam biaya pengangkutan. Selain itu, perusahaan juga tengah membangun fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL) kedua dengan kapasitas 90 ribu, yang diharapkan mulai berproduksi pada pertengahan tahun depan.
Dengan adanya pipa tersebut, kata Tom, pengiriman bijih menjadi lebih murah karena pabriknya berada di PT Indonesia Morowali Industrial (IMIP).
“Jadi kan sudah kebayang bahwa tahun depan ada kenaikan pendapatan dari pabrik-pabrik yang baru ini,” ucap Tom.
Di sisi lain, hingga saat ini perusahaan belum mengumumkan kinerja keuangan hingga kuartal ketiga 2025 karena diaudit oleh kantor akuntan publik. Adapun audit laporan keuangan interim dilakukan untuk mendukung evaluasi kinerja keuangan dan pengambilan keputusan strategis oleh Perseroan dan/atau entitas anak.
“Selain itu, audit ini juga dimaksudkan untuk mengantisipasi apabila di kemudian hari terdapat rencana aksi korporasi yang memerlukan laporan keuangan yang telah diaudit,” tulis manajemen MBMA dalam keterbukaan informasi BEI.
Kinerja Operasional MBMA
Hingga kuartal ketiga 2025, tambang SCM mencatat pertumbuhan produksi dengan produksi bijih saprolite tercatat naik 89% secara tahunan dan 59% secara kuartalan, sementara produksi bijih limonite meningkat 51% YoY dan 124% QoQ.
Sepanjang periode tersebut, SCM memproduksi dan menjual 2 juta wmt bijih saprolite, serta memproduksi 5,6 juta wmt dan menjual 4 juta wmt bijih limonite.
Biaya tunai saprolite turun menjadi US$ 23,3/wmt dari US$ 23,8/wmt pada periode yang sama tahun lalu. Margin kas saprolite mencapai US$1,5/wmt, naik 49% QoQ namun masih 70% lebih rendah secara tahunan akibat penurunan harga jual rata-rata.
Adapun bijih limonite, biaya tunai turun menjadi US$ 7,9/wmt dari US$ 9,9/wmt YoY, didukung kenaikan produktivitas. Margin kas mencapai US$ 6,5/wmt, naik 20% YoY dan 46% QoQ, meskipun harga jual rata-rata melemah.
Sementara itu, produksi NPI tercatat turun 4% YoY menjadi 19.819 ton dengan ASP turun 6% menjadi US$11.273/t. Namun margin NPI meningkat menjadi US$2.215/tNi, didorong oleh biaya tunai yang lebih efisien pada level US$9.059/t.
Pada kuartal tersebut, MBMA juga memutuskan memulai kembali produksi matte nikel setelah sebelumnya memprioritaskan NPI. Produksi matte nikel dengan kualitas tinggi diharapkan meningkat mulai kuartal keempat 2025.
