Aksi Tiga BUMN Karya PTPP, WSKT, dan WIKA Divestasi Aset Demi Bereskan Keuangan

Karunia Putri
14 November 2025, 10:43
divestasi aset, bumn karya,
ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah/Spt.
Foto udara sejumlah kendaraan melintas di jalan Tol Cimanggis-Cibitung yang akan didivestasi aset.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Tiga emiten konstruksi pelat merah, PT PP Tbk (PTPP), PT Waskita Karya Tbk (WSKT), dan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) menegaskan rencana divestasi aset sebagai bagian dari upaya menyehatkan keuangan. Tekanan likuiditas yang berkepanjangan dan beban keuangan yang terus menumpuk membuat BUMN Karya  perlu bergerak cepat merapikan neraca sekaligus memperkuat arus kas.

Ketiga BUMN karya ini terus mencatatkan kerugian. Berdasarkan data laporan keuangan kuartal ketiga 2025, PTPP mencatat laba bersih Rp 5,55 miliar, anjlok 97,92% secara tahunan dengan pendapatan turun 23,33% menjadi Rp 10,73 triliun. WIKA membukukan rugi bersih Rp 3,21 triliun, berbalik dari laba tahun lalu, dengan pendapatan susut 27,54%. WSKT juga masih merugi Rp 3,17 triliun.

Lantas bagaimana upaya penyelamatan masing-masing emiten BUMN Karya tersebut?

PTPP Divestasi 81% Saham PT PP Infra, Raup Dana Rp 1,41 Triliun

PTPP menjadi yang paling dulu mengambil langkah divestasi. Perusahaan ini bersiap melepas 81% saham anak usahanya, PT PP Infrastruktur (PP Infra) kepada PT Varsha Zamindo Laksana. Aksi ini berpotensi membuat PTPP mengantongi dana sekitar Rp 1,41 triliun yang nantinya akan mendukung pelaksanaan strategi back to core dalam RJPP 2025–2029. 

Merujuk keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, PTPP ingin kembali memfokuskan kegiatan usaha pada konstruksi gedung, infrastruktur dan EPC, tiga lini utama yang menyumbang porsi terbesar terhadap pendapatan.

“Berdasarkan proses divestasi yang sedang berlangsung, Calon Pembeli berencana untuk akuisisi sebesar 81,00% kepemilikan saham PP Infra yang dimiliki oleh PTPP. Sehingga kepemilikan PTPP di PP Infra setelah proses divestasi berkurang dari sebelumnya 99,15% menjadi 18,15%,” demikian penjelasan manajemen PTPP dalam keterbukaan informasi BEI dikutip Jumat (14/11).

Saat ini, lini usaha utama PTPP berada pada konstruksi gedung, infrastruktur dan Engineering, Procurement & Construction (EPC) yang menyumbang lebih dari 80% pendapatan perseroan. Untuk memperkuat fokus tersebut, perusahaan berupaya menjaga pertumbuhan bisnis konstruksi sekaligus meningkatkan operational excellence.

Manajemen perseroan mengungkapkan, divestasi aset dinilai menjadi bagian penting dari program penyehatan keuangan perseroan. Dana hasil penjualan PP Infra akan digunakan untuk memperbaiki arus kas operasional dan mendukung pengembangan usaha inti.

PP Infra sendiri merupakan anak usaha PTPP yang berdiri pada 2016. Perusahaan ini berfokus pada pengelolaan aset induk dan investasi di berbagai proyek infrastruktur. PP Infra mengembangkan proyek SPAM, telekomunikasi (fiber optik), jalan tol, jaringan gas, logistik hingga pelabuhan.

Waskita Karya (WSKT) Bakal Lanjut Divestasi Jalan Tol

Waskita Karya berencana melanjutkan agenda divestasi jalan tol sebagai bagian dari restrukturisasi besar-besaran perusahaan. Dua ruas, termasuk Tol Cimanggis–Cibitung senilai Rp 3,3 triliun ditargetkan rampung dilepas pada akhir 2025. 

Setelahnya, Waskita masih memiliki beberapa ruas yang direncanakan dijual bertahap hingga 2026, mulai dari Tol Pemalang–Batang, Tol Pasuruan–Probolinggo hingga sejumlah ruas minoritas lainnya. 

Waskita Karya telah menyelesaikan divestasi di sektor energi. Pada 26 September 2025, WSKT menjual seluruh kepemilikan di PT Waskita Sangir Energi (WSE) kepada PT Shalawat Power senilai Rp 179,9 miliar. Aksi ini dilakukan melalui PT Waskita Karya Infrastruktur (WKI), anak usaha yang dimiliki WSKT sebesar 99,99%. WKI tercatat memiliki 94,7% saham WSE, sedangkan  sisanya 5,3% dimiliki oleh Shalawat Power.

Wijaya Karya (WIKA) Rancang Rencana Divestasi  Jalan Tol

Pergerakan serupa juga dilakukan oleh PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) yang berencana melakukan divestasi terhadap aset-aset, khususnya jalan tol yang dimiliki perseroan. Direktur utama WIKA Agung Budi Waskito mengakui bahwa saat ini kondisi keuangan perseroan sedang tertekan. Oleh sebab itu, WIKA tengah merancang restrukturisasi secara konfrehensif sehingga mampu menyehatkan kinerja keuangannya.

“Kami tengah melakukan restrukturisasi keuangan secara komprehensif, sejalan dengan rencana ekspansi dan target besar di 2026,” kata dia dalam paparan publik WIKA secara daring pada Rabu (12/11).

Untuk rencana divestasi aset, sesuai dengan program transformasi perusahaan, WIKA akan melepas beberapa aset non-inti, termasuk sejumlah jalan tol dan aset lainnya. Proses ini ditargetkan mulai berjalan pada tahun depan dan akan berlanjut selama tiga hingga empat tahun ke depan.

Adapun saat ini, WIKA memiliki empat proyek jalan tol, yakni ruas Tol Manado-Bitung (Mabit), Tol Balikpapan-Samarinda (Balsam), Tol Soreang-Pasirkoja (Soroja), serta Tol Serang-Panimbang.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...