Wall Street Naik Usai Sinyal Penurunan Suku Bunga dari The Fed Akhir Tahun

Nur Hana Putri Nabila
24 November 2025, 08:48
Suasaua di New York Stock Exchange (NYSE) in New York City, U.S., July 27, 2022.
ANTARA FOTO/REUTERS/Brendan McDermid/wsj
Suasaua di New York Stock Exchange (NYSE) in New York City, U.S., July 27, 2022.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat (AS) ditutup naik pada perdagangan saham Jumat (21/11) setelah Presiden Federal Reserve New York, John Williams memberi sinyal The Fed akan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat. Selain itu, pernyataan tersebut juga dianggap sebagai sinyal bahwa The Fed mulai menggeser kebijakan moneter ke arah yang lebih netral.

Dow Jones melonjak 493,15 poin atau 1,08% ke level 46.245,41. S&P 500 terangkat 0,98% ke posisi 6.602,99, dan Nasdaq Composite tumbuh 0,88% ke level 22.273,08.

Seiring dengan itu, para pelaku pasar bereaksi positif karena melihat sinyal Federal Reserve mulai melonggarkan pendekatan agresif dalam kenaikan suku bunga. Harapan terhadap penurunan suku bunga federal funds tahun ini juga meningkatkan sentimen pasar sebab dinilai dapat mengurangi tekanan dari kebijakan moneter ketat sebelumnya.

“Sehingga menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan keberlanjutan ekonomi,” ucap Williams dalam pidatonya di Santiago di Chile, dikutip CNBC, Senin (24/11).

Kemudian kondisi ini juga mendorong pelaku pasar dan meningkatkan spekulasi pemotongan suku bunga untuk ketiga kalinya pada tahun 2025. Menurut CME FedWatch Tool, peluang pemotongan seperempat poin kini melampaui 70%, melonjak dari proyeksi kurang dari 40% sehari sebelumnya.

Lalu saham-saham yang sensitif terhadap suku bunga lebih rendah, seperti Home Depot, Starbucks, dan McDonald’s pun memimpin reli pasar. Hal itu seiring harapan bahwa longgarnya kebijakan moneter dapat mengangkat kembali daya beli konsumen.

Tak hanya itu, investor juga menilai pelonggaran kebijakan ini berpotensi menghidupkan ekonomi yang melambat dan menjaga momentum kenaikan valuasi saham teknologi yang saat ini berada pada level historis.

Pendiri sekaligus CEO Infrastructure Capital Advisors, Jay Hatfield, menilai The Fed hampir pasti akan memangkas suku bunga, meskipun keputusan tersebut masih bergantung pada laporan tenaga kerja berikutnya.

“Laporan itu harus cukup lemah, menurut saya, untuk meyakinkan orang agar The Fed memotong suku bunga,” ujarnya.

Sebelumnya, Dow sempat menguat lebih dari 700 poin pada Kamis setelah investor menyambut laporan keuangan kuartal ketiga Nvidia yang solid. Namun, reli tersebut memudar.

Dow, S&P 500, dan Nasdaq Composite justru berakhir melemah menyusul kekhawatiran bahwa The Fed mungkin mempertahankan suku bunga pada pertemuan Desember. Saham Nvidia, yang menjadi favorit di sektor AI ditutup anjlok lebih dari 3%.

Meski Wall Street rebound pada Jumat, ketiga indeks utama tetap terparkir di zona merah sepanjang pekan. S&P 500 dan Dow Jones masing-masing turun sekitar 2%, sementara Nasdaq terkoreksi lebih dalam sebesar 2,7%.

Menanggapi tekanan pasar tersebut, Jay Hatfield menilai situasi saat ini sebagai koreksi musiman wajar setelah rilis laporan keuangan. Ia menyebut bagian pasar yang mengalami valuasi berlebihan kini tengah tersaring.

Koreksi serupa juga terjadi di pasar kripto. Bitcoin turun lebih dari 2% pada perdagangan Jumat dan mencatat penurunan hampir 11% selama sepekan. Bahkan merosot ke level terendah sejak April akibat investor menarik diri dari aset berisiko.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila
Editor: Yuliawati

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...