Ancar-Ancar Prospek Vale (INCO), Rasio Dividen Diramal Turun Tahun Depan

Nur Hana Putri Nabila
25 November 2025, 09:56
vale, dividen, inco, vale indonesia
ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/YU
Pekerja menggunakan pakaian tahan api saat mengeluarkan biji nikel dari tanur dalam proses furnace di smelter PT Vale Indonesia Tbk di Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Selasa (21/10/2025). Produksi nikel matte PT Vale Indonedia Tbk pada Semester I-2025 meningkat sebesar dua persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yakni 35.584 ton dan menargetkan produksi nikel matte hingga akhir tahun 2025 mencapai 71.234 ton.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

PT Vale Indonesia Tbk (INCO) membeberkan proyeksi kinerja pada akhir 2025 dan panduan 2026. Dalam panduan tahun depan, rasio pembayaran dividen atau dividen payout ratio diperkirakan turun. 

Mengutip riset Stockbit Sekuritas, manajemen Vale Indonesia (INCO) dalam earnings call kinerja kuartal ketiga pada Senin (24/11), menyampaikan bahwa produksi nickel matte diproyeksikan turun pada kuartal keempat 2025. Volume produksi pada periode tersebut diperkirakan berada di kisaran 16.259 ton, atau turun 16% secara kuartalan (QoQ) dan 12% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya (YoY).

Dengan estimasi tersebut, total produksi nikel matte sepanjang 2025 diperkirakan mencapai 71.234 ton, atau turun tipis 0,1% secara tahunan. Penurunan ini terutama disebabkan oleh proses pemeliharaan (maintenance) sebagian fasilitas electric furnace di pabrik feronikel perusahaan, yang ditargetkan selesai pada Mei 2026. 

Adapun proses perbaikan tersebut sudah sesuai dengan panduan yang disampaikan pada semester pertama tahun ini. Sejalan dengan kondisi itu, perseroan menurunkan target produksi nikel matte untuk 2026 menjadi sekitar 67.000 ton.

“Mengimplikasikan penurunan 5,9% yoy dari estimasi volume produksi selama 2025,” demikian tertulis dalam Stockbit Snips, Senin (24/11). 

Penjualan dan Volume Bijih Saprolit

Dalam paparan Stockbit, manajemen Vale juga menyampaikan volume penjualan bijih saprolit diproyeksikan melonjak menjadi 1,6 juta wmt pada kuartal keempat 2025 atau meningkat 79% secara kuartalan (QoQ). Adapun capaian sepanjang sembilan bulan pertama 2025 baru berada di angka 0,9 juta wmt. 

Perseroan memperkirakan penjualan bijih saprolit sepanjang 2025 mencapai 2,5 juta wmt. Padahal pada 2024 INCO belum mencatatkan penjualan untuk komoditas bijih saprolit.

Manajemen juga mengatakan harga bijih saprolit masih berada pada level premium, yakni sekitar US$ 20–25 per wmt di atas harga patokan mineral. Memasuki 2026, Vale Indonesia tengah mengajukan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) dengan target produksi bijih saprolit mencapai 20 juta wmt, yang akan dipasok dari tambang Bahodopi dan Pomalaa.

Capex Rp 12,48 T hingga Proyeksi Rasio Dividen 

Seiring dengan itu, Vale Indonesia (INCO) bakal menggelontorkan belanja modal sebesar US$ 750 juta atau sekitar Rp 12,48 triliun pada 2026, meningkat dari alokasi capex US$ 540 juta pada 2025. 

Dana tersebut akan digunakan untuk pemeliharaan smelter nickel matte, pengembangan tambang Bahodopi dan Pomalaa, serta investasi pada tiga proyek joint venture smelter HPAL yang ditargetkan selesai secara bertahap hingga 2027.

Manajemen menyampaikan, capex jumbo itu akan mengubah posisi neraca keuangan perseroan dari kondisi net cash menjadi net debt. “Serta berpotensi menekan dividend payout (vs. dividend payout ratio 2024: 60%), tetapi terkompensasi oleh prospek pertumbuhan yang kuat dan terdiversifikasi,” tulis Stockbit Sekuritas. 

Jika seluruh proyek ekspansi berjalan sesuai jadwal, Stockbit menilai INCO berpotensi menjadi salah satu perusahaan nikel dengan outlook pertumbuhan volume produksi tertinggi di BEI. 

Namun, Vale Indonesia (INCO) juga menghadapi sejumlah risiko utama yang berpotensi menekan kinerja. Stockbit menyebut hal itu terutama berasal dari kemungkinan penurunan harga jual, baik akibat pelemahan harga nikel global maupun penyusutan premi harga bijih saprolit.

“Dan volume penjualan berada di bawah guidance akibat kendala operasional maupun perizinan,” kata Stockbit. 

Adapun INCO sebelumnya membagikan dividen tunai dari tahun buku 2024 sebesar US$ 34,65 juta atau setara Rp 569 miliar. Pembayaran dividen dilaksanakan pada 16 Juni 2025 lalu.  Dividend payout ratio pada 2024 itu mencapai 60% dari laba perseroan pada tahun buku 2024. 

"Sehingga setiap pemegang satu saham akan memperoleh dividen sebesar US$ 0,00329 (bruto)," demikian pernyataan manajemen dalam keterbukaan informasi, Rabu (21/5).  

Pelaksana tugas (Plt) Presiden Direktur dan CEO Vale Indonesia Bernardus Irmanto sebelumnya mengatakan, keputusan pembagian dividen berdasarkan pertimbangan efisiensi kapital di market. Perusahaan juga menilai ada ruang untuk membagikan dividen dari kinerja tahun buku 2024.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...