Mandiri Sekuritas Proyeksi IHSG Bisa Sentuh 9.350 pada 2026
Mandiri Sekuritas memproyeksikan IHSG atau Indeks Harga Saham Gabungan bisa menyentuh 9.350 pada 2026. Perusahaan juga membeberkan katalis jumbo yang bakal menopang indeks.
Head of Equity Analyst and Strategy Mandiri Sekuritas Adrian Joezer menargetkan IHSG di level 9.050, dengan skenario bull case di 9.350. Target ini disusun pada November 2024, ketika indeks masih berada di kisaran 7.000 7.900, sehingga ruang kenaikan dari posisi saat ini dinilai tidak terlalu besar.
Ia menjelaskan, keterbatasan kenaikan itu dipengaruhi oleh asumsi pertumbuhan laba atau EPS growth yang digunakan saat penyusunan proyeksi IHSG, yaitu sekitar 10%. Selain itu, sektor-sektor pilihan yang bisa dipantau investor misalnya keuangan, emas dan tembaga, alat berat, retail, konsumer, kesehatan, teknologi, dan lain-lain.
“Tapi tadi saya sampaikan, sekarang sudah di level 14% - 15%. Jadi hopefully kalau ada revisi, tendensi bisa lebih positif ke atas,” ujar Joezer dalam ekonomic outlook Mandiri Sekuritas, Selasa (9/12).
Selain itu, kinerja pasar modal didukung oleh stabilisasi pertumbuhan menjelang akhir kuartal ketiga dan kuartal keempat 2025, karena akselerasi fiskal dan sentimen yang membaik.
Di sisi lain, Head of Fixed Income Research Mandiri Sekuritas Handy Yunianto menilai pasar obligasi masih berada dalam tren positif untuk 2025, sementara prospeknya cenderung netral pada 2026.
Ia menyebut pasar obligasi didorong oleh ekspektasi berlanjutnya siklus penurunan suku bunga, serta imbal hasil obligasi Indonesia yang masih relatif menarik dibandingkan negara berkembang lainnya.
Pada 2026, ada sejumlah risiko yang mulai muncul, seperti potensi imbal hasil obligasi masuk alias inflow yield yang lebih rendah, siklus penurunan suku bunga Bank Indonesia yang diperkirakan mendekati akhir, serta risiko peningkatan pasokan obligasi.
Handy menilai bahwa imbal hasil obligasi pada 2026 kemungkinan lebih banyak digerakkan oleh carry dibandingkan potensi capital gain, meskipun tingkat imbal hasilnya tetap berada jauh di atas inflasi.
Proyeksi Makro Ekonomi
Seiring dengan proyeksi pasar keuangan tersebut, Chief Economist Mandiri Sekuritas Rangga Cipta memperkirakan pertumbuhan Produk Domestik Bruto atau PDB Indonesia akan meningkat menjadi 5,2% pada 2026, naik dari estimasi 5% pada 2025. Momentum pertumbuhan ekonomi diperkirakan membaik pada 2026, sejalan dengan kebijakan fiskal yang dinilai akan lebih ekspansif.
“Lalu defisit fiskal 2,8% dari PDB, sedikit lebih tinggi dari 2,7% dalam anggaran, yang mencerminkan pengeluaran yang lebih agresif, namun kekurangan pendapatan yang cukup besar mengingat target yang ambisius,” ujarnya.
Mandiri Sekuritas juga memproyeksikan nilai tukar rupiah rata-rata berada di level Rp 16.800 pada 2026, mencerminkan depresiasi sekitar 1,8% dibandingkan level Rp 16.500 yang diperkirakan pada 2025. Pelemahan ini dipengaruhi oleh tekanan dari defisit transaksi berjalan yang diproyeksikan lebih lebar. Sementara siklus penurunan suku bunga The Fed diperkirakan membatasi penguatan dolar AS.
Dari sisi harga, inflasi rata-rata pada 2026 diperkirakan mencapai 2,8% secara tahunan alias year on year (yoy), meningkat dari 1,9% pada 2025, terutama karena efek dasar yang rendah akibat diskon tarif listrik pada tahun ini.
Kemudian defisit transaksi berjalan diperkirakan melebar signifikan menjadi 1,1% dari PDB, dari perkiraan 0,3% pada 2025. Rangga menyebut hal ini mencerminkan dampak tarif Trump serta spillover dari penutupan tambang Grasberg milik Freeport di tengah pemulihan permintaan domestik.
Mandiri Sekuritas juga memperkirakan BI Rate terminal berada di 4,25%, yang mengimplikasikan dua kali pemotongan suku bunga sebesar 25 bps lagi. Dalam asumsi dasarnya, kata Rangga, BI diperkirakan akan memangkas suku bunga sebesar 25 bps pada kuartal pertama 2026 setelah satu kali pemotongan 25 bps pada kuartal keempat 2025.
“Hal ini akan membawa suku bunga riil BI ke sekitar 1,8%, mendekati rata-rata jangka panjangnya di angka 1,6%,” kata dia.
