Target Baru Harga Saham Grup Salim - Bakrie BUMI hingga DEWA, Cek Katalisnya
Saham emiten Grup Salim Bakrie PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA) melonjak pada perdagangan saham hingga sesi pertama Senin (5/1). Lonjakan terjadi di tengah aksi borong dari sejumlah investor kakap.
Saham BUMI terpantau melesat 10% ke Rp 462 dan kapitalisasi pasarnya mencapai Rp 171,56 triliun. Tak hanya itu, nilai transaksi saham BUMI mencapai Rp 4,82 triliun dan terbang 308,85% dalam enam bulan terakhir.
Selain BUMI, saham DEWA juga naik 2% ke Rp 765 per lembar saham. Nilai transaksinya mencapai Rp 1,27 triliun dan kapitalisasi pasarnya sebesar Rp 31,13 triliun. Dalam enam bulan terakhir saham DEWA sudah melambung sebanyak 334,66%.
Seiring dengan itu pengamat pasar modal sekaligus founder republik investor, Hendra Wardana, mengatakan saham BUMI menjadi sorotan utama pasar usai investor asing beli dengan nilai mencapai sekitar Rp 889 miliar. Tak hanya itu, ia juga menyebut dukungan likuiditas itu juga bersamaan dengan langkah korporasi yang progresif.
Aksi saham terutama upaya kuasi reorganisasi untuk memperbaiki struktur permodalan serta strategi diversifikasi pendapatan ke luar sektor batu bara.
“Dengan kombinasi sentimen tersebut, prospek BUMI positif dalam jangka pendek hingga menengah,” kata Hendra ketika dihubungi Katadata.co.id, Senin (5/1).
Hendra menilai target saham BUMI di Rp 500, didorong momentum pembelian asing dan likuiditas. Apabila sentimen eksternal kondusif dan agenda korporasi sesuai rencana, saham BUMI mampu menuju Rp 600 dalam 1–3 bulan kedepan. Hal itu didukung dari kuasi reorganisasi, diversifikasi bisnis, dan arus modal institusional yang berkelanjutan.
“Investor tetap perlu lihat risiko koreksi jangka pendek akibat aksi ambil untung setelah reli agresif, fluktuasi harga komoditas global, dan potensi tekanan jual dari pemegang saham besar,” kata Hendra.
Adapun pada Jumat (2/1), minat investor institusional terhadap saham BUMI tercermin dari pergerakan sekuritas global. JP Morgan membeli saham BUMI di harga rata-rata Rp 407 sebanyak 6 juta saham, sementara UBS Sekuritas memborong 16,4 juta saham di kisaran Rp 402. Saham BUMI kemudian ditutup menguat di level Rp 420.
Target Harga Saham DEWA
Di tengah lonjakan permintaan, Hendra mengatakan saham DEWA juga menarik, dengan pembelian bersih investor asing sekitar Rp 204 miliar sejak awal tahun. Aksi korporasi seperti konversi utang dan buyback memperkuat kepercayaan pasar.
Ia juga memproyeksikan target harga jangka menengah saham DEWA berada di Rp 800. Menurutnya apabila akumulasi berlanjut dengan volume kuat, potensi naik ke Rp 1.000.
“Katalis yang menopang skenario itu efektivitas penggunaan dana hasil penguatan permodalan, potensi kontrak jasa pertambangan baru, serta keberlanjutan minat investor institusional,” ucapnya.
Hendra menilai prospek BUMI dan DEWA beberapa bulan ke depan didukung arus modal asing yang kuat dan realisasi agenda korporasi. Kemudian ia juga menyebut reli awal tahun menunjukkan tren konstruktif, meski volatilitas dan risiko koreksi jangka pendek tetap ada.
“Selama sentimen global relatif stabil dan katalis internal terealisasi secara bertahap, BUMI dan DEWA berpeluang naik,” ucap Hendra.
Di sisi lain, BCA Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham DEWA dan menaikkan target harga ke Rp 1.100 per saham dari sebelumnya Rp 450.
Hal itu didorong keyakinan pada eksekusi manajemen, potensi kontrak besar baru, dan nilai dari proyek emas Gayo. Valuasi SOTP mencerminkan FY26F EV/EBITDA 15,6x, masih 58% lebih rendah dari PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), dengan potensi naik 64,2%.
Meski begitu, resiko utamanya yakni cuaca, RKAB turun, permintaan batu bara melemah, pembiayaan terbatas, dan risiko eksekusi proyek Gayo.
