Proyek DME Mulai Dibangun, Saham PTBA, ADRO, hingga ITMG Berpeluang Panen Berkah

Karunia Putri
7 Januari 2026, 09:05
Apa Itu Gas DME Pengganti Tabung Gas LPG?
Infografis detikcom/Luthfy Syahban
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Proyek gasifikasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) sudah mulai bergerak. Pemerintah menjadwalkan pemancangan tiang pertama atau groundbreaking proyek tersebut pada Januari hingga Maret 2026. 

Proyek DME tercatat sebagai salah satu dari 18 proyek hilirisasi yang mulai dibangun fasilitasnya tahun ini. Pengembangan tersebut sejalan dengan rencana pemerintah untuk mengalihkan subsidi liquefied petroleum gas (LPG) ke DME.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan, pembangunan fasilitas DME akan dilakukan di beberapa titik. Groundbreaking proyek hilirisasi juga akan berlanjut pada Februari dan Maret 2026, sehingga total terdapat 18 proyek yang mulai memasuki tahap konstruksi tahun ini.

“Ada beberapa program yang berkaitan dengan energi, pembangunan beberapa titik DME,” ujar Prasetyo, Selasa (6/1).

Langkah pemerintah memulai proyek DME membuka peluang bisnis baru yang dinilai mampu menciptakan permintaan domestik yang lebih pasti bagi emiten batu bara seperti PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) hingga PT Bayan Resources Tbk (BYAN).

PTBA Siap Jadi Pelopor Proyek Gasifikasi Batu Bara menjadi DME 

Di antara emiten batu bara nasional, PT Bukit Asam Tbk dinilai sebagai perusahaan yang paling siap terlibat dalam proyek DME. Hal ini seiring dengan kesiapan infrastruktur serta rencana pemerintah melalui Danantara yang menggandeng PTBA dalam pemenuhan pasokan batu bara bagi proyek tersebut.

Sebelumnya, Corporate Secretary Division Head PTBA Eko Prayitno mengatakan perseroan tengah melakukan diskusi intensif dengan Danantara terkait kelanjutan proyek DME pada bulan lalu. 

“Tentunya kami berkomitmen mendukung ketahanan energi nasional melalui hilirisasi batubara yang bernilai tambah tinggi,” ujar Eko kepada Katadata.co.id, Senin (23/12).

Adapun hilirisasi batu bara menjadi bagian dari strategi jangka panjang PTBA. Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PTBA Turino Yulianto menyebutkan, hilirisasi energi dan utilitas merupakan salah satu dari empat pilar bisnis perseroan hingga 2029, termasuk di dalamnya pengembangan DME.

Menurut Turino, konversi batu bara padat menjadi produk cair atau gas dapat menekan biaya logistik karena distribusi batu bara padat relatif lebih mahal. Meski demikian, ia menegaskan PTBA akan berhitung cermat terhadap risiko dan tingkat pengembalian investasi, mengingat proyek DME membutuhkan belanja modal yang besar.

Turino mengakui tantangan utama proyek hilirisasi terletak pada kebutuhan investasi awal. Sebagai gambaran, subsidi LPG nasional mencapai Rp 80–90 triliun per tahun, sementara pembangunan satu pabrik DME atau metanol membutuhkan investasi sekitar Rp50 triliun. Agar proyek berjalan optimal, perseroan perlu membangun lebih dari satu fasilitas produksi.

“Namun setelah dibangun, pabrik bisa berproduksi terus-menerus,” ujarnya.

Melalui diversifikasi usaha, PTBA menargetkan peningkatan volume produksi hingga 100 juta ton per tahun dari posisi saat ini sekitar 40 juta ton. Perseroan meyakini konversi batu bara menjadi produk turunan mampu meningkatkan nilai tambah secara signifikan. DME diproyeksikan menghasilkan nilai hingga 4,3 kali lipat dibanding batu bara mentah, sementara SNG sebesar 5,7 kali, metanol 4,7 kali, dan amonia 4,8 kali. 

Prospek Emiten Batu Bara PTBA, ADRO dan ITMG

Head of Research Korea Investment and Sekuritas Indonesia Muhammad Wafi menilai kebijakan hilirisasi DME akan menguntungkan sejumlah emiten batu bara, khususnya PTBA. Menurut dia, PTBA memiliki keunggulan sebagai pelopor karena kesiapan infrastruktur dan lokasi tambang yang telah disiapkan sebagai kawasan industri hilirisasi.

“Mereka paling siap karena lokasi tambang udah disiapin jadi kawasan industri hilirisasi,” ujar Wafi.

Selain pendapatan dari penjualan DME, Wafi menilai PTBA juga berpeluang memperoleh manfaat dari insentif royalti 0% untuk batu bara yang dihilirisasi. Insentif tersebut dinilai dapat menjaga margin di tengah tren pengetatan standar lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) global. Meski demikian, ia mengingatkan proyek DME tetap menyimpan tantangan.

Dari sisi positif, proyek ini menawarkan kepastian serapan pasar domestik serta dukungan insentif fiskal dari pemerintah. Namun, di sisi lain, kebutuhan belanja modal yang besar membuat risiko keekonomian proyek DME tergolong tinggi, terutama karena harga jual DME harus bersaing dengan LPG yang masih disubsidi.

Selain PTBA yang sudah matang dengan proyek DME, Wafi menilai beberapa emiten juga akan terkerek keuntungan dari rencana tersebut. 

Emiten itu adalah emiten pemegang Izin Usaha Pertambangan Khusus yang memiliki cadangan batu bara kalori rendah, misalnya adalah ADRO dan ITMG jika kedua perusahaan tersebut benar mengikuti skema gasifikasi.

Analis BinaArtha Sekuritas Ivan Rosanova memberikan rekomendasi target harga yang akan dicapai oleh masing-masing emiten tersebut.

Dia mematok Rp 2.400, 2.500, 2.640, 2.740 dan 2.890 untuk saham PTBA. Kemudian untuk ADRO, dia menyematkan target harga Rp 1.965, 2.020, 2.150 dan 2.260. Sementara itu untuk saham ITMG, Wafi mematok harga di level 23.250, 24.050, 24.700 dan 25.175




Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ade Rosman

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...