Prospek Emiten Waste to Energy OASA, MHKI hingga TOBA, Cek Target Harga Terbaru
Proyek waste to energy (WtE) atau pengolahan sampah menjadi listrik yang segera digarap pemerintah dinilai berpotensi mengerek kinerja dan harga saham emiten dengan usaha tersebut pada tahun ini. Pemenang tender dijadwalkan diumumkan pada awal Januari 2026.
Terdapat perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia diketahui mengikuti proses lelang proyek WtE pemerintah. Sentimen ini menjadi perhatian investor pasar modal.
Beberapa emiten yang masuk radar antara lain PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA), PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI), PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA), PT Multi Hanna Kreasindo Tbk (MHKI) PT Boston Furniture Industries Tbk (SOFA) serta PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC)
Head of Research Retail MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memberikan target harga untuk saham-saham tersebut. Target harga OASA berada di kisaran Rp 440–460, BIPI di Rp 202–208, IMPC Rp 4.230–4.400, MHKI Rp 310–320, TOBA Rp 1.020–1.055, dan SOFA Rp 600–630.
Katalis Emiten WtE OASA, TOBA, SOFA hingga MHKI
NH Korindo Sekuritas Indonesia dalam risetnya menilai sejumlah saham berpotensi diuntungkan dari proyek WtE. TOBA menjadi salah satu yang paling disorot usai mengakuisisi Sembcorp Enviro yang memperluas bisnis ke pengelolaan sampah.
Sementara itu OASA saat ini membangun PLTSa di Jakarta Timur yang ditargetkan beroperasi pada kuartal pertama 2026, serta PLTSa Cipeucang di Tangerang Selatan berkapasitas 25 MW. Adapun MHKI, pengelola limbah di Bantargebang, Bekasi yang menyiapkan ekspansi bisnis pengelolaan sampah baru dan memperluas operasi hingga Lamongan, Jawa Timur.
Katalis MHKI diperoleh setelah perseroan memperoleh fasilitas kredit dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar Rp 4,95 miliar pada September lalu untuk mendukung kegiatan operasional. Emiten ini baru melantai di BEI pada 16 April 2024 ini telah menjalin kerja sama dengan sejumlah BUMN energi, seperti Pertamina, PLN dan pembangkit listrik tenaga uap.
Direktur Utama MHKI Alwi menyatakan, fasilitas baru tersebut akan didukung teknologi pengolahan limbah yang lebih modern dan efisien.
“Kami berkomitmen memberikan solusi terbaik dalam pengelolaan limbah industri, sekaligus berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan secara berkelanjutan,” ujarnya dalam keterangan resmi perusahaan.
Sementara itu, OASA sebelumnya mengonfirmasi ikut dalam lelang proyek yang digarap Danantara. Direktur Utama OASA Bobby Gafur Umar menyebut OASA tengah dibidik tiga calon mitra konsorsium dan akan menggandeng Grandblue Environment Co. Ltd asal Cina yang memiliki kapasitas pengolahan hingga 100 ribu ton sampah per hari, setara lebih dari separuh total produksi sampah harian Indonesia yang mencapai sekitar 175 ribu ton.
Selain di Bali, OASA juga memiliki proyek pembangkit sampah di Tangerang Selatan yang dikerjakan Badan Usaha Pelaksana PT Indoplas Tianying Energy, konsorsium antara PT Indoplas Energi Hijau (76%) dan China Tianying Inc (24%). Proyek ini berdiri di atas lahan 5,53 hektare.
Sementara itu, pemerintah mempercepat pembangunan pembangkit WtE di 34 titik. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan proyek ini bagian dari agenda hilirisasi dan akan mulai groundbreaking pada Januari hingga Maret 2026.
“Berkenaan dengan [proyek] Waste to Energy akan dibangun di 34 kabupaten/kota atau di 34 titik, yang hari ini sampahnya sudah mencapai 1.000 ton lebih per hari, ini memerlukan penanganan sesegera mungkin untuk diolah,” kata Prasetyo di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Selasa.
Pembangunan proyek ini ditujukan mengurangi timbunan sampah, menekan risiko kesehatan, dan berkontribusi terhadap bauran energi nasional. PSEL merupakan salah satu dari 18 proyek hilirisasi strategis dengan nilai investasi mencapai Rp 600 triliun yang akan mulai dijalankan pada periode tersebut. Realisasi investasi akan dipimpin oleh Danantara Indonesia.
Teknologi WtE memungkinkan sampah yang tidak dapat didaur ulang diolah menjadi energi seperti listrik, panas, atau bahan bakar alternatif. Pemerintah berharap kehadirannya mendorong kemandirian energi, mengurangi ketergantungan pada batu bara, serta menekan volume sampah terbuka.
