Airlangga: Singapura Tidak Suka Indonesia Masuk Organisasi Free Trade

Rahayu Subekti
13 Januari 2026, 16:32
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto menyampaikan paparan pada acara Road to Jakarta Food Security Summit 2026 di Menara Kadin Indonesia, Jakarta, Selasa (13/1/2026). Acara berbentuk diskusi antara Pemerintah dengan Kadin dan stak
Katadata/Fauza Syahputra
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto menyampaikan paparan pada acara Road to Jakarta Food Security Summit 2026 di Menara Kadin Indonesia, Jakarta, Selasa (13/1/2026). Acara berbentuk diskusi antara Pemerintah dengan Kadin dan stakeholder terkait ini merupakan rangkaian kegiatan pembuka menuju Jakarta Food Security Summit yang akan diselenggarakan pada 21-22 Mei 2026 mendatang.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan Indonesia saat ini menjadi salah satu negara di ASEAN yang berada di posisi terdepan dalam persaingan ekonomi global. Salah satu indikator kuat adalah masuknya Indonesia dalam proses keanggotaan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang kini tengah menjalani technical review, sementara negara lain seperti Thailand masih berada di tahap awal.

Indonesia juga sedang dalam proses bergabung dengan Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP). Namun RI masih masih tertinggal dari Singapura, Malaysia, dan Vietnam.

"Tentu Singapura tidak suka-suka banget juga kalau Indonesia masuk di dalam seluruh free trade. Jadi, ada juga upaya-upaya untuk mengganggu Indonesia, tetapi Indonesia sudah di dalam track," kata Airlangga dalam acara Road to Jakarta Food Security Summit (JFSS) 2026 bertema "Ketahanan Pangan untuk Menjaga Kedaulatan Bangsa” di Menara Kadin. Selasa (13/1).

Ia menilai, Indonesia memiliki keunggulan utama berupa akses pasar yang besar. Terlebih, posisi Indonesia sebagai alternatif pertumbuhan ekonomi kedua setelah Cina, daya saing energi yang kompetitif, serta sumber daya manusia yang berdaya saing.

Selain mengandalkan ekspor, Airlangga menambahkan bahwa kekuatan Indonesia juga ditopang oleh resiliensi pasar domestik. Sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto, pengembangan wilayah dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dinilai penting untuk meningkatkan daya saing produk nasional dan mendorong ekspor.

“Ini menunjukkan bahwa produk dari kawasan ekonomi khusus itu sangat bersaing di berbagai negara, dan ekspor kita akan terus meningkat,” ujarnya.

Airlangga mengatakan, presiden juga sudah mengingatkan labor intensive base harus tetap dijaga. Untuk mempertahankan ini, Airlangga penyebut pemerintah akan menyiapkan dana sekitar Rp 6 miliar untuk menjaga agar teknologinya tetap bersaing.

“Ini dilakukan agar investasinya tetap berjalan, terutama untuk tekstil, produk tekstil,” kata Airlangga.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti
Editor: Yuliawati

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...