Volatilitas Ekstrem Intai Pasar Modal RI, Prospek dan Arah IHSG Masih Abu-Abu?

Nur Hana Putri Nabila
23 Januari 2026, 18:55
Pasar Modal
Pexels
Ilustrasi pergerakan indeks di pasar modal.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG bergejolak bahkan lesu sepanjang tiga hari terakhir hingga menjauh dari level 9.000-an. Tak hanya itu, dalam sepekan ini, indeks sudah anjlok 1,37%.

Pada perdagangan hari ini, Jumat (23/1), IHSG bahkan ditutup turun 0,46% ke level 8.951. Kapitalisasi pasarnya tercatat sebesar Rp 16.273 triliun. 

Co-Founder PasarDana sekaligus praktisi pasar modal, Hans Kwee, mengungkapkan dua kemungkinan skenario pergerakan IHSG sepanjang tahun ini. Dalam skenario optimistis atau bullish, IHSG berpeluang menembus level 10.000. Namun, dia juga menyiapkan skenario pesimistis atau bearish dengan IHSG berpotensi melemah hingga ke level 7.500.

“Tapi arahnya naik dengan volatilitas sangat tinggi,” ucap Hans Kwee dalam Edukasi Wartawan secara virtual, Jumat (23/1).

Selain itu, sejumlah tantangan juga kian membayangi pasar modal RI. Ia menjelaskan, salah satunya datang dari kekhawatiran investor asing terhadap pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang sepanjang 2025 tercatat sebesar 2,92% dan berpotensi meningkat. 

Menurutnya, kondisi tersebut membuka peluang masuknya dana asing ke pasar saham, namun di sisi lain berisiko memicu arus keluar dari pasar obligasi.Hal itu seiring kekhawatiran investor terhadap kebutuhan penerbitan surat utang yang lebih besar akibat defisit yang kian melebar.

“Kalau defisit lebar pemerintah harus menerbitkan lebih banyak obligasi. Nah, kalau obligasi terbit lebih banyak, yield-nya lebih tinggi, ya itu tekanan (ke IHSG),” tambah Hans.

Dari sisi kebijakan moneter, lanjut Hans, investor asing juga menyoroti isu independensi Bank Indonesia (BI) menyusul pencalonan Wakil Menteri Keuangan, Thomas Djiwandono. Menurut Hans Kwee, pelaku pasar perlu diyakinkan bahwa Thomas adalah sosok profesional yang menjunjung independensi bank sentral.

Di sisi lain, ia menilai imbal hasil obligasi domestik masih berada pada level relatif rendah, yakni sekitar 6%. Meski begitu dampak perang tarif Amerika Serikat ke Indonesia dinilai masih terbatas. Selain itu, masih terdapat ruang perbaikan pada fundamental emiten sepanjang 2026.

Lebih lanjut, Hans Kwee menambahkan pergerakan IHSG juga berpotensi tertekan dalam jangka pendek akibat rencana perubahan mekanisme penghitungan free float MSCI yang dijadwalkan pada akhir Januari 2026. 

Akan tetapi, ia menyebut sejumlah sektor seperti consumer, energi, batu bara, emas, nikel, hingga timah dinilai masih memiliki prospek yang relatif positif. Setelah kinerja emiten tertekan pada 2025, daya beli masyarakat diperkirakan membaik pada 2026 sehingga berpotensi mendukung pemulihan kinerja perusahaan.

“Fluktuasi pasar saham akan sangat tinggi di 2026 karena isu-isu yang tadi saya sebutkan,” ucapnya.

Hans Kwee menjelaskan, koreksi pasar yang terjadi saat ini dipicu oleh berbagai spekulasi, termasuk kekhawatiran sebagian pelaku pasar terhadap potensi perubahan metode penghitungan MSCI yang mendorong aksi jual di pasar saham. Namun, ia menilai kekhawatiran tersebut berlebihan dan dampaknya kemungkinan kecil.

Menurutnya, tekanan pasar saat ini lebih banyak disebabkan oleh dominasi investor domestik. Sementara investor asing masih cenderung melakukan aksi keluar dari pasar. 

Ia menilai ke depan arus dana asing berpotensi kembali masuk apabila pemerintah mampu menjaga defisit anggaran tetap terkendali, meningkatkan penerimaan negara melalui perbaikan kebijakan cukai dan pajak, serta memastikan defisit APBN tetap berada di bawah 3%.

Selain itu, ia menekankan pentingnya menjaga independensi Bank Indonesia. Apabila faktor-faktor tersebut terpenuhi, Hans Kwee meyakini arus modal asing akan masuk lagi mengalir ke pasar domestik. Sebagai perbandingan, sebelum pandemi Covid-19, porsi kepemilikan asing di pasar obligasi Indonesia sempat berada di kisaran 39–40%.

“Nah, waktu periode Covid-19 itu turun (pada) 2022. Kenapa? Waktu itu The Fed naikan bunga, BI agak terlambat naikin bunga. Dananya keluar dari pasar kita,” katanya. 

Hans Kwee menambahkan, saat ini porsi kepemilikan asing di pasar obligasi domestik masih rendah, yakni sekitar 13%. Menurutnya, apabila imbal hasil obligasi di kisaran 6,3–6,5% dan The Fed mulai menurunkan suku bunga, investor asing bakal kembali meningkatkan eksposurnya ke obligasi Indonesia.

Tak hanya itu, aliran dana asing juga  akan kembali masuk ke pasar keuangan domestik hingga mendorong penguatan nilai tukar rupiah.

Hans menyebut kondisi itu nantinya dapat meningkatkan daya tarik pasar obligasi Indonesia dan berpotensi diikuti oleh arus masuk ke pasar saham. Ini mengingat porsi kepemilikan asing di pasar saham saat ini juga masih relatif rendah.

“Jadi potensi inflow itu bisa mendorong pasar yang rendah menjadi tinggi,” ujarnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...