Rupiah Loyo Lagi ke 16.800 per Dolar, Ada Faktor Terpilihnya Thomas Djiwandono

Ade Rosman
27 Januari 2026, 10:22
rupiah, thomas djiwandono, rupiah melemah
Katadata/Fauza Syahputra
Petugas menunjukkan pecahan mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran uang asing di Jakarta, Rabu (21/1/2026). Nilai tukar rupiah rupiah perlahan bergerak menguat 20 poin menjadi Rp16.936 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.956 per dolar AS pada penutupan perdagangan.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Nilai tukar rupiah melemah 0,14% ke level 16.806 per dolar AS pada perdagangan pagi ini, Selasa (27/1). Analis menilai, terpilihnya keponakan Presiden Prabowo Subianto, Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia turut menyeret pelemahan rupiah. 

Berdasarkan data Bloomberg, kurs rupiah dibuka menguat tipis dua poin di level 16.780 per dolar AS. Namun, rupiah bergerak melemah ke level 16.806 per dolar AS hingga pukul 10.00 WIB. 

Mayoritas mata uang Asia juga melemah terhada dolar AS. Yen Jepang melemah 0,08%, yuan Cina 0,04%, won Korea Selatan 0,41%, rupee India 0,36%, baht Thailand 0,14%, dan peso Filipina 0,2%. Sedangkan ringgit Malaysia menguat 0,2% dan dolar Taiwan 0,12%. 

Senior Economist KB Valbury Sekuritas Fikri C Permana menilai, pelemahan rupiah hari ini diakibatkan sejumlah faktor domestik maupun internasional.

Pernyataan PM Kanada yang menyatakan tak berencana memiliki perjanjian perdagangan bebas dengan Cina terkait ancaman tarif AS menurunkan tensi peran dagang AS dan enjadi salah satu faktor menguatnya dolar AS. Faktor lainnya, yakni terpilihnya keponakan Presiden Prabowo Subianto, Thomas Djiwandono sebagai deputi gubernur Bank Indonesia (BI). 

“Sinergi kebijakan moneter The Fed-BoJ, wait and see hasil FOMC, terpilihnya Bapak Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur BI, lelang SBSN hari ini,” kata Fikri kepada Katadata.co.id, Selasa (27/1). 

Pandangan serupa disampaikan oleh Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong. Ia menyebutkan sejumlah faktor terkait pergerakan rupiah hari ini. 

“Investor menimbang Thomas Djiwandono yang sudah diresmikan menjadi deputi gubernur BI. Selain itu investor juga wait and see hasil FOMC besok,” kata Lukman. 

Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat memilih Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia  menggantikan Juda Agung.  Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun memandang bahwa pengalaman dan pengetahuan fiskal yang dimiliki Thomas Djiwandono dapat melengkapi kapasitasnya saat resmi menjabat sebagai Deputi Gubernur BI.

Pernyataan ini disampaikan Misbakhun, menjawab pertanyaan media mengenai kekhawatiran publik karena Thomas tidak memiliki rekam jejak di bidang kebijakan moneter.

“Jabatan Deputi Gubernur BI adalah jabatan kolektif-kolegial di dalam sebuah forum Dewan Gubernur. Jadi menurut saya, pengalaman di monetary policy itu bisa diperkuat ketika Pak Thomas mempunyai pengalaman di fiscal policy. Jadi saling melengkapi. Dan itu bisa berjalan dalam proses selanjutnya,” kata Misbakhun di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (26/1). 

Ia menilai, Thomas merupakan sosok yang profesional. Hal ini, menurut doa.  diperkuat pada pernyataan penutup Thomas dalam uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test). Ia pun mengatakan bahwa Thomas merupakan figur yang bisa diterima oleh semua partai politik.

Selain itu, menurutnya, pemaparan Thomas dalam uji kelayakan dan kepatutan dinilai relevan dengan situasi saat ini di mana kebijakan moneter dan fiskal harus bersinergi lebih erat.

“(Keputusan diambil) secara musyawarah mufakat. Tidak ada catatan sama sekali. Bahkan banyak catatan-catatan yang masuk justru adalah catatan yang sangat positif, mengenai komitmen untuk memperkuat profesionalisme, independensi BI, dan sebagainya,” kata Misbakhun.

Thomas Djiwandono menjadi kandidat terakhir yang menjalani uji kelayakan dan kepatutan calon deputi gubernur BI. Ia unggul dari dua kandidat lainnya yang berasal dari internal BI, yakni Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Dicky Kartikoyono dan Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial Solikin M. Juhro.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ade Rosman
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...