Ini Kata Bos BCA (BBCA) soal Kinerja Saham yang Terus Menurun

Nur Hana Putri Nabila
27 Januari 2026, 17:56
BCA BBCA
Istimewa
Direktur Utama PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), Hendra Lembong.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) buka suara terkait performa saham bank raksasa nasional itu. Apabila menilik perdagangan saham hari ini, Selasa (27/1), harga saham BBCA turun 1,96% ke Rp 7.500. Sementara dalam setahun terakhir, nilainya bahkan sudah jatuh sedalam 24,24%.

Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk, Hendra Lembong, menyampaikan bahwa manajemen BCA kini fokus memastikan kinerja perusahaan tetap terjaga secara optimal. Adapun sekitar 70–80% kepemilikan saham BBCA saat ini berada di tangan investor asing. 

Hendra menjelaskan, pergerakan harga saham adalah hal yang wajar karena dipengaruhi oleh dinamika pasar. Dengan porsi kepemilikan asing yang dominan pada saham berstatus free float, fluktuasi harga saham BBCA bergantung pada kondisi global hingga sentimen investor.

“Jadi memang pertanyaannya ini agak sulit untuk dijawab apakah ini saatnya beli atau tidak. Karena ini tergantung bagaimana para investor asing melihat prospek ekonomi Indonesia ke depannya,” ucap Hendra kepada wartawan dalam paparan publik tahun buku 2025 secara virtual, Selasa (27/1).

Di sisi lain, Sucor Sekuritas merekomendasikan beli untuk saham BBCA dengan target harga Rp 11.500. Analis Sucor Sekuritas, Edward Lowis mengatakan, target saham itu mengimplikasikan rasio price to book value (PBV) 2026F sebesar 4,6x dan biaya ekuitas sebesar 11,5%.

“Seiring sektor perbankan memasuki fase pemulihan pada 2026F, kami memandang BBCA sebagai salah satu yang pertama untuk mengalami re-rating.” ucap Edward dalam rilisnya, Senin (26/1). 

Laba Tembus Rp 57,5 Triliun pada 2025

Dilihat dari sisi fundamentalnya, BBCA membukukan laba bersih Rp 57,5 triliun di tahun buku 2025 atau naik 4,9% year on year (yoy). Sepanjang Januari–Desember 2025, BBCA dan entitas anak membukukan total kredit 7,7% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 993 triliun per Desember 2025. 

Secara rata-rata, pertumbuhan kredit BCA mencapai 10,8% sepanjang 2025.  Penyaluran kredit BCA terdistribusi ke berbagai sektor, di antaranya manufaktur, perdagangan, restoran, hotel dan rumah tangga. Di sisi pendanaan, dana giro dan tabungan (CASA) naik 13,1% YoY hingga Rp 1.045 triliun. 

Hendra Lembong mengatakan, torehan ini berkat dukungan besar dari pemerintah dan otoritas membantu perusahaan melewati 2025 dan menorehkan kinerja positif. Sepanjang tahun lalu, BCA menyelenggarakan berbagai acara seperti dua kali perhelatan Expo, BCA UMKM Fest, BCA Wealth Summit, dan Gebyar Hadiah BCA.

“Berbagai kegiatan itu berdampak positif terhadap kinerja BCA, dan menjadi wujud komitmen kami untuk terus hadir serta memenuhi berbagai kebutuhan nasabah dan masyarakat Indonesia,” ucap Hendra.

Selain itu kredit usaha BCA naik 9,9% secara tahunan (YoY) menjadi Rp 756,5 triliun per Desember 2025. Dari sisi konsumer, BCA menjaga pembiayaan di level Rp 224,1 triliun, didukung oleh Kredit Pemilikan Rumah (KPR) sebesar Rp 142,3 triliun serta kredit kendaraan bermotor (KKB) senilai Rp 56,6 triliun. 

 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...