Prospek KRAS, GIAA hingga TINS dari Restrukturisasi dan Suntikan Jumbo Danantara
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) memaparkan peta jalan restrukturisasi terhadap sejumlah perusahaan pelat merah yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Emiten strategis seperti PT Krakatau Steel Tbk (KRAS), PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), dan PT Timah Tbk (TINS) menjadi fokus utama dalam agenda penyehatan kinerja dan perbaikan valuasi BUMN.
Manajemen Danantara menyebut langkah restrukturisasi ini merupakan bagian dari skenario besar transformasi BUMN pada 2026. Tujuannya tidak hanya memperbaiki struktur keuangan, tetapi juga menyiapkan perusahaan negara agar lebih kompetitif di tengah agenda hilirisasi nasional.
“Restrukturisasi dirancang agar BUMN memiliki neraca yang lebih sehat, operasional yang lebih efisien sehingga mampu menciptakan valuasi yang lebih optimal di pasar modal,” tulis manajemen Danantara dalam outlook 2026 yang dikutip Kamis (28/1).
Sementara itu Chief Executive Officer Danantara Rosan Roeslani mengungkapkan kehadiran lembaga ini bukan sekadar konsolidator BUMN, melainkan mesin investasi pemerintah yang dirancang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Ia menyebut sebagai sovereign wealth fund (SWF), Danantara menjadi lengan pemerintah untuk mengelola investasi, baik di dalam maupun luar negeri.
“Dividen BUMN yang sebelumnya disetorkan ke Kementerian Keuangan kini dapat dikelola secara prudens oleh Danantara untuk diinvestasikan kembali demi keberlanjutan jangka panjang BUMN dan masa depan ekonomi nasional,” ujar Rosan dalam pemaparan outlook awal tahun, pekan lalu.
Dengan konsolidasi lebih dari 1.000 entitas BUMN dan anak usaha di bawah satu payung, Danantara menurut Rosan memosisikan diri sebagai katalis investasi. Rosan mengungkapkan peran terbesar lembaga ini terletak pada investasi, yang selama ini menyumbang sekitar 28–29% terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Prospek Penyehatan BUMN KRAS, GIIA dan TINS
Sebagai bagian dari upaya penyehatan, Danantara pun mengucurkan tambahan modal jumbo. Untuk Krakatau Steel (KRAS), Danantara menilai persoalan utama perseroan masih berkisar pada beban utang dan efisiensi operasional.
Dalam beberapa tahun terakhir, kinerja KRAS masih tertekan akibat fluktuasi harga baja global dan struktur biaya produksi yang tinggi. Berdasarkan evaluasi Danantara, perbaikan kinerja KRAS akan difokuskan pada optimalisasi aset produksi, efisiensi rantai pasok, serta reprofiling kewajiban keuangan. Langkah ini diharapkan dapat memperbaiki margin usaha dan arus kas perusahaan
Secara fundamental, KRAS masih mencatatkan tekanan kinerja dalam beberapa periode terakhir. Program restrukturisasi yang disiapkan ditargetkan mampu menurunkan beban bunga dan meningkatkan utilisasi pabrik, sehingga secara bertahap memperbaiki valuasi saham perseroan di bursa.
Direktur Utama KRAS Akbar Djohan menyatakan kesiapan perseroan untuk mendukung penuh pelaksanaan PSN. Ia memandang tren peningkatan konsumsi baja sebagai peluang strategis untuk memperkuat kapasitas produksi nasional sekaligus menekan ketergantungan terhadap impor.
“Kami siap bertransformasi dan memperluas kapasitas agar Indonesia tidak lagi bergantung pada baja impor,” ujar Akbar.
Sebagai bagian dari upaya penyehatan kinerja KRAS baru-baru ini memberikan jaminan kekayaan atau asetnya kepada PT Danantara Asset Management senilai Rp 13,94 triliun. KRAS menggunakan lebih dari 50% kekayaan bersihnya sebagai jaminan dalam rangka restrukturisasi dan penyehatan keuangan.
Penjaminan ini terkait pelaksanaan Perjanjian Pinjaman Pemegang Saham dengan PT Danantara Asset Management, yang telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham pada 23 Desember 2025. Nilai pinjaman yang diberikan Danantara kepada KRAS sebesar Rp 4,93 triliun.
Corporate Secretary Krakatau Steel, Ferdaus, menyampaikan penjaminan dilakukan melalui empat akta, yaitu jaminan fidusia atas barang persediaan dan tagihan, gadai rekening, serta hak tanggungan atas aset tetap, yang seluruhnya dibuat pada 8 Januari 2026 di hadapan Notaris dan PPAT Dr. Hapendi Harahap di Cilegon.
"Langkah ini merupakan bagian dari komitmen perseroan untuk memperkuat struktur permodalan dan mendukung kelangsungan usaha ke depan," ujar Fedaus dalam keterbukaan informasi BEI
Pinjaman yang diberikan Danantara sebesar Rp 4,93 triliun pada akhir tahun lalu terdiri dari pinjaman modal kerja Nilai pinjaman ini lebih rendah dibandingkan tambahan modal yang sebelumnya diajukan KRAS sebesar Rp 8,35 triliun. Pinjaman ini terbagi menjadi dua skema.
Sementara itu, pada Garuda Indonesia (GIAA), Danantara menekankan pentingnya keberlanjutan pascarestrukturisasi besar yang telah dilakukan melalui skema PKPU. Kinerja operasional GIAA memang mulai menunjukkan pemulihan seiring pulihnya industri penerbangan pascapandemi.
Namun, Danantara menilai maskapai pelat merah itu masih membutuhkan langkah lanjutan agar performanya lebih stabil. Danantara berharap tugas kami sekarang memastikan hasil restrukturisasi sebelumnya bisa berlanjut dengan penguatan modal kerja, efisiensi rute, dan penataan ulang armada.
Agenda utama bagi GIAA meliputi penyesuaian struktur biaya, renegosiasi kontrak-kontrak strategis, serta optimalisasi utilisasi pesawat. Dengan langkah tersebut, Danantara berharap GIAA dapat kembali mencatatkan pertumbuhan kinerja yang konsisten dan memperbaiki persepsi investor terhadap saham perseroan.
Untuk PT Timah Tbk (TINS), fokus restrukturisasi lebih diarahkan pada perbaikan tata kelola pertambangan dan efisiensi operasional. Emiten timah ini juga didorong mempercepat program hilirisasi agar tidak hanya bergantung pada penjualan bahan mentah.
Danantara menilai fluktuasi harga komoditas global selama ini menjadi tantangan utama bagi kinerja TINS. Karena itu, transformasi model bisnis dianggap krusial. Perbaikan efisiensi tambang, transparansi rantai pasok, serta penataan struktur biaya diyakini dapat menjadi katalis positif bagi kinerja TINS dalam beberapa tahun ke depan.

