UBS Turunkan Peringkat Saham RI, Soroti Soal Danantara Ambil Alih 28 Perusahaan

Ira Guslina Sufa
29 Januari 2026, 14:01
Pemandangan umum fasilitas penambangan emas di Martabe, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara. Tambang tersebut dioperasikan oleh PT Agincourt Resources (PTAR).
Agincourt Resources
Pemandangan umum fasilitas penambangan emas di Martabe, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara. Tambang tersebut dioperasikan oleh PT Agincourt Resources (PTAR).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Bank-bank investasi kakap yang berkantor pusat di Amerika Serikat menurunkan peringkat saham Indonesia menyusul peringatan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengenai potensi penurunan status dari pasar negara berkembang atau emerging market ke frointer. 

Goldman Sachs Group Inc. menurunkan peringkat saham Indonesia menjadi underweight. Mereka mengatakan bahwa kekhawatiran MSCI tentang kemampuan investasi dapat memicu arus keluar lebih dari $13 miliar jika pasar diturunkan peringkatnya. Sementara itu ahli strategi di UBS AG menurunkan peringkat saham lokal menjadi netral.

“Kami pikir tekanan pada pasar secara keseluruhan kemungkinan akan berlanjut sampai kita mendapatkan kejelasan tentang peraturan dan penilaian ulang MSCI,” tulis analis UBS termasuk Sunil Tirumalai dalam catatan yang dikutip dari Bloomberg Kamis (29/1). 

Selain kekhawatiran MSCI, UBS juga menyoroti kebijakan pemerintah Indonesia. UBS menyatakan ada juga peningkatan risiko regulasi setelah Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan 28 perusahaan dengan izin usaha yang dicabut dapat dijalankan oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). 

Sebelumnya Presiden Prabowo Subianto telah mencabut izin 28 perusahaan di Sumatra yang disebut ikut terlibat dalam penyebab meluasnya dampak bencana yang terjadi akhir Desember lalu. Namun belakangan Prasetyo menyatakan pemerintah akan mengkaji untuk mengoperasikan kembali perusahaan yang dinilai masih bisa dibenahi namun pengelolaannya akan diambil alih negara melalui Danantara.

Salah satu perusahaan yang berpotensi di diambil alih adalah PT Agincourt Resources yang merupakan operator pengelola tambang emas Martabek. Agincourt merupakan anak usaha dari jarangan bisnis Grup Astra melalui PT United Tractors Tbk (UNTR). 

Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria mengatakan tambang emas Martabe di Sumatera Utara yang dikelola PT Agincourt Resources akan dialihkan ke BUMN baru yakni PT Perminas.

Dony mengatakan Perminas berbeda dengan MIND ID. Pemerintah mengalihkan pengelolaan Agincourt ke Perminas agar bisnisnya berada di bawah Danantara. Nantinya, ia mengatakan Perminas akan beroperasi langsung di bawah Danantara.

“Pemerintah kan bisnisnya ada di bawah Danantara semua, kan? Tentu diserahkan ke Danantara. (Perminas) perusahaan di bawah Danantara,” ujar dia.

MSCI Persoalkan Tranparansi

Sementara itu dalam pengumuman terbaru Goldman  menurunkan peringkat saham Indonesia menjadi underweight, dengan mengatakan bahwa kekhawatiran MSCI tentang kemampuan investasi dapat memicu arus keluar lebih dari $13 miliar jika pasar diturunkan peringkatnya. 

“Kami memperkirakan penjualan pasif lebih lanjut dan menganggap perkembangan ini sebagai hambatan yang akan menghambat kinerja pasar,” tulis analis Goldman Sachs, termasuk Timothy Moe, dalam sebuah laporan.

Para analis menilai, dalam skenario ekstrem ketika Indonesia diklasifikasikan ulang dari pasar negara berkembang, dana pasif yang mengikuti indeks MSCI dapat menjual hingga $7,8 miliar. Arus keluar lebih lanjut sebesar $5,6 miliar dengan total keduanya setara Rp 218 triliun juga dapat dipicu jika FTSE Russell menilai kembali metodologi dan status free-float-nya . 

Dalam pengumuman terbaru, MSCI menyatakan telah menyelesaikan proses konsultasi terkait penilaian free float saham Indonesia. Dia menyatakan, kebanyakan investor global menyampaikan kekhawatiran terhadap penggunaan Laporan Komposisi Kepemilikan Bulanan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) untuk melihat free float di saham Indonesia. 

“Untuk mengatasi beberapa kekhawatiran ini, diperlukan informasi yang lebih rinci dan andal tentang struktur kepemilikan saham, termasuk kemungkinan pemantauan konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi, untuk mendukung penilaian yang kuat terhadap saham beredar bebas dan kelayakan investasi di seluruh sekuritas Indonesia,” tulis MSCI dalam pengumuman resminya, dikutip Rabu (28/1). 

Kabar beruntun yang datang dari lembaga investasi dunia langsung berdampak ke pasar modal. Pada perdagangan sesi I hari ini, IHSG ditutup di zona merah dengan turun 5,9%. Tekanan bahkan menyeret IHSG turun hingga 8% sehingga BEI memberlakukan trading halt atau pembekuan sementara perdagangan saham. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...